“Beta pikir ini ada yang salah. Beta bilang ke bapa camat, Pa beta gas sa ko, beta aksi su ko, bekin kebun. Masyarakat dong sepertinya maunya lihat langsung,”
DI TENGAH bentangan padang gersang di Hambapraing, Kecamatan Kanatang, Sumba Timur, ada sepetak lahan yang tampak berbeda. Pisang, singkong, pepaya, terong, kacang-kacangan, dan berbagai tanaman hortikultura tumbuh hijau di tengah hamparan tanah kering. Di tepi kebun berdiri sebuah pondok sederhana.
Setiap pagi, Aipda Jibrael Lawa lebih dulu singgah ke pondok itu dengan mengenakan seragam polisi. Sesampainya di sana, seragam dinas yang melekat di tubuhnya dilepas dan digantung rapi di dinding. Ia lalu berganti kaus lusuh dan celana lapangan sebelum mulai mengurus kebun.
Ia memeriksa tanaman satu per satu, mencabut rumput liar, memastikan air dari pipa-pipa kecil tetap mengalir, lalu memberi makan ternaknya. Setelah semuanya selesai, ia kembali mengenakan seragam polisi dan berangkat ke Polsek Haharu untuk menjalankan tugas.
Rutinitas yang sama kembali dilakukan setiap sore. Sepulang dinas, ia mampir lagi ke pondok, menggantung seragamnya, berganti pakaian kerja, lalu kembali merawat kebun hingga menjelang malam.
Baca Juga : Cinta Polisi dan Relawan Bersemi di Pelosok Sumba, Hidupkan Harapan Anak-Anak Lewat Sekolah Gratis
Sulit membayangkan, tiga tahun lalu tempat ini hanyalah sebidang tanah kering yang nyaris tidak dimanfaatkan.
Ketika kembali bertugas di Polsek Haharu, Jibrael melihat kehidupan masyarakat belum banyak berubah. Sebagian besar bertani seadanya, sementara yang lain menggantungkan hidup dari melaut atau beternak.
Dalam obrolannya dengan warga dan camat setempat, persoalan yang selalu muncul hampir sama. Tanah dianggap tidak subur, air terbatas, dan ternak yang dilepas bebas sering merusak tanaman.
Ajakan untuk memanfaatkan lahan sebenarnya sudah sering disampaikan. Namun, menurut Jibrael, masyarakat lebih membutuhkan contoh daripada sekadar imbauan.
Di sisi lain, Jibrael memahami bahwa mengubah kebiasaan masyarakat bukan pekerjaan yang mudah.
Kondisi ekonomi setiap keluarga berbeda, demikian pula kemampuan menyediakan sarana untuk berkebun. Namun, ia percaya contoh yang nyata lebih mudah diterima daripada sekadar imbauan.
Baca Juga : Sidang Sinode ke-44 GKS, Pergumulan di Balik Tema Merawat Kehidupan dalam Kasih Kristus
“Beta pikir ini ada yang salah. Beta bilang ke bapa camat, Pa beta gas sa ko, beta aksi su ko, bekin kebun. Masyarakat dong sepertinya maunya lihat langsung,” ujarnya.
Ia lalu mulai mengolah tanah milik keluarganya. Banyak warga pesimistis. Mereka menganggap lahan itu terlalu kering untuk ditanami.
Pekerjaan pertama bukan menanam, melainkan memperbaiki tanah. Jibrael mencari pupuk kandang hingga ke Balai Karantina Waingapu. “Ko di sana ada banyak, beta pi minta sa,” katanya.
Setelah kondisi tanah membaik, barulah ia menanam pisang, singkong, pepaya, terong, kacang-kacangan, dan berbagai tanaman lainnya.
Baca Juga : Berkah dari Dinding Bukit, Air Bersih Masih Jadi Soal Klasik di Sumba
Masalah berikutnya adalah air. Sumber air sebenarnya ada, tetapi tidak semua warga mampu membeli pipa untuk mengalirkannya ke rumah atau kebun.
Karena itu, Jibrael memilih memakai sistem irigasi tetes. “Kalau beta pakai siram biasa Kaka, weh air sonde cukup Kaka,” ujarnya.
Cara itu membuat penggunaan air jauh lebih hemat. Ia juga tidak perlu menghabiskan banyak waktu menyiram sehingga masih bisa membagi waktu antara berkebun dan menjalankan tugas sebagai polisi.
“Jadi beta sonde perlu buang banyak waktu untuk siram. Beta juga semenjak berkebun ni bangun pagi su pasti harus lebih cepat biar sonde terganggu deng tugas utama to,” tuturnya.
Baca Juga : Kapolres Sumba Timur Bersama Personel dan Wartawan Jenguk Korban Pembacokan
Hari demi hari kebun itu terus dirawat. Sedikit demi sedikit tanaman mulai tumbuh hingga akhirnya bisa dipanen.
Hasil panennya tidak hanya dinikmati keluarga. Sebagian justru dibagikan kepada warga sekitar sebagai penyemangat agar mereka ikut memanfaatkan lahan yang dimiliki.
“Beta kalo panen bagi-bagi sa deng masyarakat dong. Biar dong iko. Memang belum banyak yang mau bertani seperti ini, tapi paling tidak sudah adalah yang mulai,” katanya.
Perlahan, kebun itu mulai mengubah cara pandang warga. Mereka melihat sendiri bahwa tanah yang selama ini dianggap tandus ternyata bisa ditanami jika dirawat dengan sungguh-sungguh.
Baca Juga : Warga Kiritana Sumba Timur Bergantung pada Satu Perahu
Beberapa warga pun mulai memanfaatkan pekarangan rumah mereka. Salah satunya Oktavianus H. H. Paty, warga Desa Hambapraing.
“Melihat Aipda Jibrael menjadi motivasi bagi kami, walaupun hanya memanfaatkan lahan pekarangan rumah,” tuturnya.
Menjelang sore, Jibrael kembali berada di pondok yang sama. Seragam polisi kembali digantung di dinding. Ia berganti pakaian kerja, memeriksa tanaman, memastikan air tetap mengalir, lalu memberi makan ternaknya sebelum pulang.
Esok pagi, rutinitas itu akan kembali terulang. Di tengah padang gersang Hambapraing, seorang polisi terus merawat sebidang kebun. Bukan hanya untuk memanen hasilnya, tetapi juga untuk menunjukkan bahwa perubahan sering kali dimulai dari sebuah contoh sederhana.*