Lompat ke konten utama

Sumba Terkini

Berita Terkini

Sidang Sinode ke-44 GKS, Pergumulan di Balik Tema Merawat Kehidupan dalam Kasih Kristus

SIDANG SINODE KE 44 GEREJA KRISTEN SUMBA - Ketua Sinode Gereja Kristen Sumba, Pendeta Marlin Lomi, S. Th dan Sekretaris Umum Sinode Gereja Kristen Sumba, Pendeta Yakub Malo Bili, S.Th, MPd di Kantor Sinode Gereja Kristen Sumba, Jumat (26/6/2026). (Foto : Bastian Manunggala).

SUMBATERKINI.COM, Waingapu – Di tengah krisis lingkungan, meningkatnya praktik ketidakadilan, dan perubahan sosial yang terus berlangsung, Gereja Kristen Sumba (GKS) memilih menjadikan pergumulan itu sebagai pusat refleksi dalam Sidang Sinode ke-44.

Tema besar yang diusung, “Merawat Kehidupan dalam Kasih Kristus”, dijabarkan melalui subtema “Merawat Bumi Sebagai Rumah Bersama, Memperjuangkan Keadilan dan Kebenaran serta Meneguhkan Nilai-nilai Budaya dalam Terang Injil.”

Bagi GKS, tema tersebut bukan sekadar slogan persidangan gereja. Tema itu lahir dari pembacaan terhadap berbagai persoalan nyata yang dihadapi masyarakat, baik dalam kehidupan bergereja maupun kehidupan sosial.

Ketua GKS, Pendeta Marlin Lomi, didampingi Sekretaris Umum Sinode GKS, Pendeta Yakub Malo Bili, mengatakan tema itu merupakan respons gereja terhadap realitas yang sedang dihadapi masyarakat saat ini.

Baca JugaBerkah dari Dinding Bukit, Air Bersih Masih Jadi Soal Klasik di Sumba

“Kalau mau dilihat sebenarnya kita mengangkat tema ini berdasarkan realitas kehidupan yang terjadi, baik dalam kehidupan bergereja maupun bermasyarakat,” kata Pendeta Marlin kepada SumbaTerkini.com di Kantor Sinode GKS, Waingapu, Jumat (26/6/2026).

Pendeta Marlin menjelaskan, isu pertama yang menjadi perhatian adalah kerusakan lingkungan hidup. Menurutnya, perubahan iklim yang semakin ekstrem telah memicu berbagai bencana, mulai dari kekeringan hingga gangguan terhadap keberlangsungan hidup masyarakat.

Ia juga menyoroti semakin maraknya aktivitas eksploitasi sumber daya alam, termasuk praktik pendulangan emas tradisional yang terjadi di kawasan Taman Nasional Matalawa.

Selain persoalan lingkungan, GKS juga menaruh perhatian pada berbagai praktik ketidakadilan yang masih terjadi di tengah masyarakat, bahkan tidak menutup kemungkinan juga dapat muncul dalam kehidupan bergereja.

Baca JugaCinta Polisi dan Relawan Bersemi di Pelosok Sumba, Hidupkan Harapan Anak-Anak Lewat Sekolah Gratis

Karena itu, menurut Pendeta Marlin, gereja memiliki panggilan moral untuk terus menyuarakan keadilan dan kebenaran di tengah berbagai bentuk ketidakadilan yang terjadi.

“Kita dipanggil untuk bersuara tentang keadilan dan kebenaran di tengah ketidakadilan,” tegasnya.

Dalam aspek budaya, Pendeta Marlin menegaskan GKS tidak memandang budaya sebagai sesuatu yang harus dihilangkan. Sebaliknya, budaya merupakan bagian dari identitas masyarakat Sumba yang perlu dirawat.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa terdapat praktik-praktik budaya tertentu yang tetap perlu dikaji secara kritisi dan dimaknai dalam Terang Injil.

Baca JugaViral di Media Sosial, Muara Watumbaka di Sumba Timur Pikat Wisatawan Lokal

Menurut Pendeta Marlin, jauh sebelum pelaksanaan Sinode, tema tersebut telah disosialisasikan kepada seluruh klasis dan jemaat agar menjadi bahan perenungan bersama, bukan hanya akan dibahas selama Sinode nanti.

Komitmen terhadap pelestarian lingkungan, lanjutnya, juga telah diwujudkan melalui berbagai program prioritas gereja. Mulai dari gerakan penanaman pohon, rehabilitasi hutan mangrove, hingga pelatihan dan edukasi pengurangan risiko bencana bagi masyarakat.

Meski demikian, ia menilai perubahan perilaku manusia terhadap alam tidak dapat dilakukan secara instan.

“Ini tidak bisa dilakukan sekali saja, sebab perilaku manusia terhadap alam sudah sangat memprihatinkan,” katanya.

Baca JugaWarga Kiritana Sumba Timur Bergantung pada Satu Perahu

Karena itu, edukasi yang berkelanjutan dan keterlibatan seluruh elemen masyarakat menjadi kunci dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Pendeta Marlin menambahkan, GKS tidak dapat bekerja sendiri menghadapi berbagai persoalan sosial dan kemanusiaan. Sinergi dengan pemerintah, lembaga swasta, organisasi masyarakat, maupun berbagai elemen lainnya menjadi bagian penting dari pelayanan gereja tanpa membedakan agama, suku, maupun latar belakang.

Di sisi lain, perhatian juga diberikan kepada generasi muda sebagai penerus gereja dan bangsa. Menurutnya, pembinaan karakter, pendidikan, serta pelibatan kaum muda dalam berbagai struktur dan kegiatan kategorial gereja menjadi investasi penting bagi masa depan.

Ia meyakini, apabila seluruh unsur dalam gereja dapat berjalan dan berkolaborasi dengan baik, maka GKS akan memiliki kekuatan yang lebih besar untuk menghadirkan kebaikan, baik bagi kehidupan bergereja maupun masyarakat luas.

Sidang Sinode ke 44 Gereja Kristen Sumba, akan berlangsung di Nggongi, Klasis Mahu Karera, selama 9 hari, 2 hingga 10 Juli 2026.*

ARTIKEL TERKAIT

REKOMENDASI UNTUKMU

ARTIKEL LAINNYA

No Content Available