“Pada 1999, Christine datang ke Tanambana sebagai relawan air bersih. Perempuan asal Medan itu tak pernah membayangkan bahwa langkah kecilnya ke desa terpencil di Sumba kelak akan mempertemukannya dengan cinta, pengabdian, dan ratusan anak yang menganggapnya ibu.”
Ketika Bel Dibunyikan Sebelum Fajar
PUKUL 04.30 Wita, bel berdering memecah sunyi di kompleks Yayasan Iman Pengharapan dan Kasih di Desa Tanambana, wilayah perbatasan Kabupaten Sumba Timur dan Kabupaten Sumba Tengah, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Aipda Yanrus Pake lalu berjalan menyusuri lorong-lorong asrama dan panti. Dari satu kamar ke kamar lain, Kanit Samapta Polsek Haharu, Polres Sumba Timur itu mengetuk pintu-pintu yang masih tertutup. “Biasanya saya ketok di kamar-kamar untuk persiapan ke sekolah,” ujarnya, sembari terus melangkah.
Satu per satu pintu terbuka. Anak-anak berjalan beriringan mengantre di depan kamar mandi. Yang lain masih melipat selimut, yang lain lagi bergegas ke ruang doa untuk ibadah pagi, sebelum sarapan dan berangkat ke sekolah.
Anak – anak hanya perlu langkah – langkah kecil untuk sampai di ruang-ruang kelas yang berada dalam kawasan Yayasan Iman Pengharapan dan Kasih. Di kompleks sederhana itu berdiri panti asuhan, asrama siswa, serta sekolah gratis yang melayani pendidikan dari TK hingga SMP.
Di pojok kompleks, Cristine Sihombing bersama para pengasuh asrama begitu teliti memastikan anak – anak memulai hari dengan tertib
Baca Juga : Berkah dari Dinding Bukit, Air Bersih Masih Jadi Soal Klasik di Sumba
Di tempat itu, Yanrus dan Cristina tidak hanya dikenal sebagai pasangan suami istri. Mereka adalah orang tua, pendidik, sahabat, sekaligus tempat pulang bagi anak-anak yang datang dari berbagai pelosok desa.
Itulah potret rutinitas pagi di yayasan tersebut. Siang hari anak – anak kembali ke asrama dan panti untuk beristirahat. Sorenya mereka mulai berkebun, menyapu halaman dan bermain.
Malam hari, anak – anak berkumpul di aula. Mereka beribadah, belajar, dan mengerjakan pekerjaan rumah sekolah. “Inilah kebiasaan kami, kami semua duduk di aula. Anak-anak belajar, kami juga berkumpul bersama mereka. Bisa cerita-cerita seperti rapat kecil,” kata Yanrus.
Kebisaan ini berulang tahun demi tahun. Bagi sebagian orang mungkin terasa melelahkan. Namun bagi Yanrus dan Cristina, itulah kehidupan yang mereka pilih. “Jadi ini sudah keluarga kami sekarang,” ujar Yanrus.
Relawan dari Medan yang Tak Jadi Pulang
Perjalanan panjang itu bermula pada 1999. Saat itu Cristina Sihombing datang ke Tanambana sebagai relawan yang membantu program penyediaan air bersih bagi masyarakat. Perempuan asal Medan tersebut awalnya hanya berniat menjalankan kegiatan sosial dalam waktu tertentu.
Namun pengalamannya di pelosok Sumba membuat rencana itu berubah. Kala itu Tanambana masih jauh dari berbagai fasilitas dasar. Jalan menuju lokasi belum semudah sekarang. Listrik belum masuk. Ketika malam tiba, kampung-kampung tenggelam dalam gelap.
Di tengah keterbatasan itu, Cristina melihat persoalan lain yang lebih mengusik batinnya. Banyak anak hidup dalam kemiskinan dan kesulitan mengakses pendidikan. Sebagian harus berjalan jauh menuju sekolah. Sebagian lainnya bahkan berisiko putus sekolah, bahkan ada yang tidak bersekolah.
“Waktu itu saya lihat banyak anak-anak yang butuh perhatian. Mereka sering datang dan main dengan kami. Sampai – sampai ada yang tidak mau pulang ke rumah,” kisah Cristine.
Baca Juga : Polres Sumba Timur Donor Darah untuk Masyarakat Sambut Hari Bhayangkara ke-80
Kedekatan itu perlahan menumbuhkan sebuah cita-cita. Awalnya hanya membantu anak-anak yang membutuhkan perhatian. Namun seiring waktu, keinginan untuk menghadirkan tempat yang aman bagi mereka semakin kuat.
Dari situlah cikal bakal yayasan ini mulai dibangun. Cristine yang semula datang sebagai relawan akhirnya memilih tetap tinggal di Tanambana.
Bertemu Polisi, Menemukan Jalan yang Sama
Beberapa tahun kemudian, jalan hidup Cristina dipertemukan dengan Aipda Yanrus Pake, asal Kupang. Saat bertugas di Lendiwacu pada 2006, Yanrus sering datang membantu berbagai kegiatan sosial yang dijalankan Cristina.
Pertemuan mereka tidak diawali kisah romantis seperti yang sering muncul dalam film atau novel. Yang mempertemukan keduanya justru kerja kemanusiaan dan kepedulian terhadap anak-anak.
“Saya sering ke situ membantu kegiatan. Dari situ kami berteman, saling membantu, lalu akhirnya memutuskan menikah,” tutur Yanrus.
Baca Juga : Warga Kiritana Sumba Timur Bergantung pada Satu Perahu
Persamaan pandangan membuat hubungan mereka semakin dekat. Keduanya melihat pendidikan sebagai jalan keluar bagi banyak persoalan yang dihadapi anak-anak di wilayah tersebut.
Mereka akhirnya menikah dan memilih melanjutkan perjuangan bersama. Ketika banyak orang memilih meninggalkan daerah terpencil demi kehidupan yang lebih nyaman, Yanrus dan Cristina justru memutuskan menetap di Tanambana.
Di tempat itulah mereka membangun keluarga sekaligus memperluas makna keluarga itu sendiri. “Kami ini satu keluarga, sama seperti keluarga yang lain, hanya beda jumlah saja,” ujar Yanrus, sembari tertawa kecil.
Belajar di Tengah Gelap dan Suara Genset
Setelah menikah, perjuangan mereka tidak menjadi lebih ringan. Mereka harus mengurus banyak hal untuk yayasan, membangun fasilitas pendidikan, mencari tenaga pengajar, hingga memastikan isi perut ratusan anak terpenuhi setiap hari.
Dalam struktur yayasan, Cristina menjadi ketua yayasan, sementara Yanrus bertugas sebagai tim pengawas. “Kalau soal yayasan, memang banyak yang atas nama istri. Semua perizinan dan administrasi biasanya diurus oleh istri,” kata Yanrus.
Perlahan-lahan yayasan berkembang. Sekolah yang awalnya menumpang mulai berdiri sendiri. Jumlah anak bertambah. Kebutuhan juga semakin besar.
Tantangan terbesar saat itu bukan hanya soal biaya. Selama bertahun-tahun, Tanambana belum menikmati aliran listrik. Ketika malam tiba, aktivitas yayasan bergantung pada pelita dan genset.
Baca Juga : Kapolres Sumba Timur Bersama Personel dan Wartawan Jenguk Korban Pembacokan
Anak-anak belajar di bawah cahaya lampu yang kadang suram kadang terang. Waktu belajar kadang terpangkas karena BBM habis.
Suara genset menjadi bagian dari keseharian mereka. Bertahun-tahun kondisi itu dijalani sebelum listrik akhirnya masuk ke wilayah tersebut sekitar dua tahun terakhir.
Agar Anak-anak Tak Putus Sekolah
Masalah berikutnya adalah jarak. Banyak anak tinggal sangat jauh dari sekolah. Ada yang harus berjalan berkilometer melewati perbukitan dan jalan tanah. Saat musim hujan, perjalanan menjadi semakin berat.
Tidak sedikit anak yang akhirnya berhenti sekolah. Melihat kenyataan itu, Yanrus dan Cristina kembali mencari solusi.
“Akhirnya kami bikin asrama sehingga anak-anak yang dari jauh-jauh itu tidak ada alasan lagi putus sekolah karena jarak,” kata Yanrus.
Baca Juga : Srikandi Taekwondo Unkriswina Sumba, Rambu Queenzha Sabet Emas di Ajang Internasional GTIC II Yogyakarta
Asrama kemudian dibangun untuk menampung anak-anak dari berbagai pelosok desa. Mereka datang dari keluarga kurang mampu, dari kampung-kampung yang sulit dijangkau, bahkan ada yang hampir putus sekolah.
Saat ini sekitar 140an lebih anak tinggal di lingkungan panti asuhan dan asrama yang mereka kelola.
Rumah yang Membesarkan Harapan
Melalui Yayasan Iman Pengharapan dan Kasih, Yanrus dan Cristina menyediakan pendidikan gratis mulai dari Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Pertama.
Sekolah-sekolah yang mereka bangun tidak hanya untuk anak-anak yang tinggal di panti asuhan dan asrama. Ratusan anak dari keluarga kurang mampu di Tanambana dan desa-desa sekitar juga bersekolah di sana tanpa dipungut biaya.
Saat ini jumlah peserta didik dari jenjang TK hingga SMP mencapai lebih dari 300 siswa, termasuk sekitar 140 anak di antaranya tinggal di panti asuhan dan asrama.
Tidak ada uang sekolah. Tidak ada pungutan biaya. Anak-anak yang tinggal di asrama juga mendapatkan tempat tinggal dan kebutuhan dasar tanpa dipungut biaya.
Sebagian besar penghuni asrama berasal dari keluarga miskin yang dibuktikan dengan surat keterangan tidak mampu dari desa. Ada pula anak-anak yang sebelumnya hampir putus sekolah karena persoalan keluarga dan ekonomi.
Bagi Yanrus dan Cristina, setiap anak yang datang membawa cerita masing-masing. Karena itu yang mereka bangun bukan sekadar sekolah, melainkan kesempatan. Kesempatan untuk kembali bermimpi.
Baca Juga :Viral di Media Sosial, Muara Watumbaka di Sumba Timur Pikat Wisatawan Lokal
Perjalanan tersebut tentu tidak selalu berjalan mulus. Ada anak yang berhasil. Ada pula yang memilih jalan hidup berbeda. Ada yang kembali kepada keluarganya setelah bertahun-tahun dibesarkan di yayasan.
“Dulu mungkin sakit hati. Tapi sekarang kami hanya berusaha memberikan yang bagiannya kami saja,” kata Yanrus. Kalimat itu lahir dari pengalaman panjang mendampingi ratusan anak selama bertahun-tahun.
Meski penuh tantangan, hasil dari perjuangan panjang itu mulai terlihat. Sejumlah anak yang pernah diasuh yayasan berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi. Beberapa bahkan kembali ke Tanambana dan mengajar di sekolah yang pernah membesarkan mereka.
Sebagian lainnya melanjutkan pendidikan di Kupang dengan dukungan yayasan. Saat ini yayasan juga menyediakan tempat tinggal bagi mahasiswa asal panti yang sedang menempuh pendidikan tinggi di Kota Kupang.
Kehadiran yayasan tersebut dirasakan langsung oleh masyarakat. “Anak-anak kami bisa sekolah gratis. Ini sesuatu yang luar biasa,” ungkap tokoh masyarakat setempat, Kornelis P. Retang.
Kepala Desa Tanambana, Yehuda Ngadu Jawa, juga mengakui kontribusi pasangan tersebut bagi masyarakat. “Mereka sangat peka terhadap persoalan sosial, terutama yang menyangkut anak-anak dengan keterbatasan,” ujarnya.
Baca Juga : Liga 4 Nasional, Lazarus Sinim Striker Subur PSN Ngada
Menurut Yehuda, keberaadaan yayasan tidak hanya membantu pendidikan anak-anak, tetapi juga ikut mendorong pembangunan sosial di desa.
Tanambana mungkin bukan tempat yang dibayangkan banyak orang untuk membangun masa depan. Bertahun-tahun daerah ini hidup tanpa listrik dan jauh dari berbagai fasilitas yang dianggap biasa di kota.
Namun justru dari tempat seperti itulah kisah Yanrus dan Cristina bertumbuh. Bukan kisah cinta yang diwarnai bunga atau kata-kata romantis.
Melainkan cinta yang menjelma menjadi ruang kelas, asrama, panti asuhan, dan masa depan bagi ratusan anak. Setiap pagi ketika bel kembali berbunyi dan pintu-pintu kamar kembali diketuk, harapan itu kembali dibangunkan.*
“Di sebuah pelosok Sumba, cinta menemukan bentuknya yang paling sederhana: membangunkan anak-anak sebelum fajar, memastikan mereka bersekolah, dan menjaga mimpi-mimpi kecil tetap menyala. Selama lebih dari dua dekade, seorang polisi dan seorang relawan memilih menjadikan pengabdian sebagai jalan hidup, menghadirkan harapan bagi ratusan anak yang nyaris kehilangan masa depan.”