SUMBATERKINI.COM, Waingapu – Menjelang pelaksanaan Sidang Sinode ke-44 Gereja Kristen Sumba (GKS), Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Kabupaten Sumba Timur berharap gereja mengambil peran lebih kuat dalam menyuarakan isu-isu lingkungan, terutama terkait aktivitas tambang emas di kawasan Taman Nasional Matalawa.
Ketua DPC GAMKI Sumba Timur, Askar Unha, menilai tema Sinode GKS ke-44, “Merawat Kehidupan dalam Kasih Kristus”, sangat relevan dengan kondisi yang sedang dihadapi masyarakat Sumba saat ini.
Saat ditemui di Sekretariat GAMKI, Selasa (30/6/2026), Askar mengatakan panggilan untuk merawat bumi bukan sekadar pesan teologis, melainkan juga tanggung jawab nyata dalam menjaga kelestarian alam.
“Kasih Kristus bukan hanya soal relasi sesama manusia, tetapi juga relasi kita dengan alam ciptaan-Nya. Bumi Sumba yang kita tinggali harus dijaga dengan baik, termasuk menjaga lingkungan dari eksploitasi sumber daya alam yang tidak terkendali,” ujarnya.
Baca Juga : Sidang Sinode ke-44 GKS, Pergumulan di Balik Tema Merawat Kehidupan dalam Kasih Kristus
Menurut Askar, salah satu persoalan yang paling mendesak saat ini adalah maraknya aktivitas pertambangan emas di wilayah Taman Nasional Matalawa Wanggameti dan kawasan sekitarnya.
Karena itu, ia berharap Sidang Sinode GKS ke-44 mampu melahirkan sikap dan suara kenabian gereja terhadap berbagai persoalan ekologis yang tengah dihadapi masyarakat.
“Isu kontekstual hari ini di Sumba adalah tambang emas di kawasan Taman Nasional Matalawa Wanggameti dan sekitarnya. Ini perlu menjadi perhatian pihak berwenang, dan Gereja Kristen Sumba juga diharapkan dapat menyuarakan suara kenabian melalui Sidang Sinode ke-44,” katanya.
Harapan GAMKI tersebut sejalan dengan penjelasan Ketua Sinode GKS, Pendeta Martin Lomi, yang sebelumnya menyebut tema Sinode tahun ini lahir dari pembacaan gereja terhadap berbagai persoalan nyata yang berkembang di tengah masyarakat.
Baca Juga : Unkriswina Sumba Pecat Oknum Dosen Terduga Pelaku Pelecehan Terhadap Mahasiswi
Tema besar “Merawat Kehidupan dalam Kasih Kristus” dijabarkan melalui subtema “Merawat Bumi Sebagai Rumah Bersama, Memperjuangkan Keadilan dan Kebenaran serta Meneguhkan Nilai-nilai Budaya dalam Terang Injil.”
Menurut Martin, salah satu perhatian utama gereja adalah kerusakan lingkungan akibat perubahan iklim dan meningkatnya eksploitasi sumber daya alam, termasuk aktivitas pendulangan emas tradisional di kawasan Taman Nasional Matalawa.
Selain persoalan lingkungan, GKS juga menaruh perhatian terhadap praktik ketidakadilan sosial yang masih terjadi di tengah masyarakat. Karena itu, gereja merasa memiliki panggilan moral untuk terus memperjuangkan keadilan dan kebenaran.
Dalam bidang budaya, GKS menegaskan budaya Sumba merupakan identitas yang harus dirawat, namun praktik-praktik budaya tertentu tetap perlu dimaknai secara kritis dalam terang Injil.
Baca Juga : Cinta Polisi dan Relawan Bersemi di Pelosok Sumba, Hidupkan Harapan Anak-Anak Lewat Sekolah Gratis
Komitmen terhadap pelestarian lingkungan juga telah diwujudkan melalui berbagai program gereja, seperti gerakan penanaman pohon, rehabilitasi hutan mangrove, hingga edukasi pengurangan risiko bencana. GKS menilai upaya menjaga lingkungan membutuhkan pendidikan yang berkelanjutan serta kolaborasi seluruh elemen masyarakat.
Sidang Sinode GKS ke-44 akan berlangsung selama sembilan hari, 2 – 10 Juli 2026, di Nggongi, Klasis Mahu-Karera, dan akan menjadi forum tertinggi gereja dalam merumuskan arah pelayanan sekaligus menyikapi berbagai persoalan strategis yang dihadapi masyarakat Sumba.*