SUMBATERKINI.COM, WAINGAPU – Ketimpangan akses infrastruktur masih dirasakan warga di sejumlah wilayah terpencil di Indonesia Timur.
Di Desa Kiritana, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, ratusan kepala keluarga hingga kini masih bergantung pada sebuah perahu kecil tradisional untuk menyeberangi Sungai Kambaniru.
Kondisi tersebut menjadi satu-satunya akses yang menghubungkan warga dengan berbagai layanan dasar, mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga aktivitas ekonomi sehari-hari.
Tidak adanya jembatan yang dapat digunakan secara permanen membuat warga harus mengandalkan perahu sederhana yang beroperasi tanpa operator tetap dan tanpa jadwal tertentu.
Baca Juga : Viral di Media Sosial, Muara Watumbaka di Sumba Timur Pikat Wisatawan Lokal
Kepala Desa Kiritana, Jhonson Dena Tola, mengatakan keterbatasan akses penyeberangan menjadi persoalan yang telah berlangsung selama beberapa tahun terakhir.
Menurutnya, kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada mobilitas warga, tetapi juga menghambat perkembangan ekonomi desa.
“Masyarakat di seberang itu sekitar 300an KK. Interaksi masyarakat itu seperti itu sudah. Baik mau ke pasar, posyandu, ke sekolah, itu harus melalui sungai. Mereka semua adalah petani,” ujar kepala desa beberapa waktu lalu.
Ketergantungan terhadap perahu penyeberangan juga menimbulkan risiko keselamatan, terutama saat debit air Sungai Kambaniru meningkat pada musim hujan.
Anak-anak sekolah kerap terlambat bahkan tidak dapat berangkat ke sekolah ketika arus sungai sedang deras.
Baca Juga : Unkriswina Cup XIII 2026, Unkriswina Ukir Kemenangan Tipis di Laga Pembuka
Situasi menjadi lebih sulit saat terjadi keadaan darurat. Warga terpaksa menggotong orang sakit maupun jenazah melintasi sungai tanpa fasilitas penyeberangan yang memadai. Kondisi ini dinilai sangat berisiko bagi keselamatan masyarakat.
Di sisi lain, Desa Kiritana memiliki potensi pertanian yang cukup besar. Namun keterbatasan akses transportasi membuat distribusi hasil panen tidak berjalan optimal.
Warga harus membawa hasil pertanian secara bertahap menggunakan perahu untuk menyeberangi sungai sebelum melanjutkan perjalanan ke pasar atau pusat perdagangan.
Tidak hanya itu, setelah menyeberang sungai, warga masih harus melewati jalan tanah yang rusak. Kombinasi minimnya akses penyeberangan dan buruknya kondisi jalan semakin memperberat mobilitas masyarakat serta memperlambat pertumbuhan ekonomi desa.
Baca Juga : Unkriswina Cup XIII, Menjaga Tradisi, Mengasah Generasi Unggul dan Tangguh
Sebelumnya, pernah membangun jembatan gantung di wilayah tersebut pada tahun 2019. Namun jembatan itu ambruk setelah diterjang dampak badai Seroja pada tahun 2021.
Sejak saat itu, jembatan belum kembali dibangun sehingga warga kembali mengandalkan perahu sebagai satu-satunya sarana penyeberangan.
Salah seorang warga, Rince, mengaku masyarakat berharap pemerintah segera membangun kembali jembatan yang layak dan aman.
Menurutnya, keberadaan jembatan sangat dibutuhkan untuk memperlancar aktivitas warga sekaligus mengurangi risiko kecelakaan saat menyeberangi sungai.
“Tolong segera perbaiki jembatan atau bangun jembatan untuk anak – anak mau sekolah dan perekonomian masyarakat juga bangkit,” harapnya.
Hingga kini, perahu kecil itu masih menjadi tumpuan utama warga Desa Kiritana. Di tengah berbagai pembangunan yang terus berlangsung di daerah lain, masyarakat setempat masih menanti hadirnya jembatan yang dapat membuka akses dan memperkecil kesenjangan infrastruktur yang mereka alami selama bertahun-tahun.*