SUMBATERKINI.COM, Waingapu – Pemerintah Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) terus mendorong peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), salah satunya melalui peningkatan akses dan kualitas pendidikan.
IPM Kabupaten Sumba Timur terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat IPM Sumba Timur mencapai 70,99 pada 2025.
Catatan ini membuat Sumba Timur masuk dalam lima besar kabupaten – kota di NTT dengan IPM tertinggi.
Wakil Bupati Sumba Timur Yonathan Hani mengatakan, capaian IPM Sumba Timur menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Menurutnya, kondisi tersebut tidak terlepas dari berbagai intervensi pemerintah di bidang pendidikan.
“IPM kita, indeks pembangunan manusia kita data BPS kita cukup bagus ya. Cukup bagus itu, itu menunjukkan bahwa intervensi-intervensi di dalam dunia pendidikan kita itu berhasil,” kata Yonathan saat di wawancarai Sumba Terkini di ruang kerjanya, Jumat (4/9/2026).
Meski demikian, ia mengatakan pemerintah masih terus melakukan perbaikan karena capaian tersebut belum sempurna.
Salah satu fokus yang dikejar adalah peningkatan rata-rata lama sekolah. Pemerintah menargetkan anak-anak di Sumba Timur dapat mengenyam pendidikan setidaknya hingga jenjang SMA.
“Lama sekolah kita targetkan di tahun 2026 ke 2027 itu semua sudah harus bersekolah sampai di tingkat SMA misalnya. Target kita target minimal walaupun sampai ke tingkat SMP tapi kita naikkan sampai ke tingkat SMA,” ujarnya.
Baca Juga : BPS Catat Pertanian, Pariwisata dan Investasi Jadi Andalan Menekan Kemiskinan Sumba Timur
Untuk mendukung target tersebut, Pemkab Sumba Timur terus meningkatkan pembangunan dan perbaikan infrastruktur sekolah.
Yonathan menyebut, pada tahun ini pemerintah daerah mendapatkan dukungan pemerintah pusat melalui dana revitalisasi sekolah. Menurutnya, terdapat lebih dari 50 sekolah yang mendapatkan program revitalisasi.
Ia berharap perbaikan fasilitas sekolah dapat membuat anak-anak lebih nyaman mengikuti proses pembelajaran.
Selain infrastruktur, pemerintah juga memberikan beasiswa dan membangun kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk anggota DPR RI dan kementerian, untuk memperluas akses pendidikan mulai dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi.
Baca Juga : Indeks Pembangunan Manusia Sumba Timur Terus Meningkat, Capai 70,99
Menurut Yonathan, terdapat dua persoalan utama yang menyebabkan anak-anak tidak bersekolah hingga selesai, yakni faktor ekonomi dan keterbatasan infrastruktur.
Ia menegaskan, persoalan ekonomi yang dimaksud tidak selalu berkaitan dengan biaya sekolah.
“Faktor ekonomi itu bukan persoalan bayar uang sekolah tapi perlengkapan untuk ke sekolahnya. Mereka tidak bisa beli buku, tidak bisa punya tas dan lain sebagainya,” katanya.
Karena itu, pemerintah berupaya memenuhi kebutuhan pendidikan melalui berbagai skema, termasuk pemanfaatan dana operasional sekolah.
Baca Juga : Menulis Cinta dan Pengabdian Polisi di Pelosok Sumba NTT, Oris Goti Raih Juara II Nasional Kreasi Polri 2026
Sementara dari sisi infrastruktur, persoalan jarak dan akses menuju sekolah masih menjadi tantangan bagi sebagian masyarakat.
Salah satu kebijakan yang dilakukan adalah pembangunan sekolah paralel untuk mendekatkan pelayanan pendidikan kepada masyarakat. “Sekolah paralel itu untuk mendekatkan pelayanan,” ujarnya.
Selain pendidikan formal, Pemkab Sumba Timur juga mendorong kerja sama antara sekolah kejuruan dengan sektor swasta. Salah satunya melalui kerja sama SMK dengan akademi pariwisata maupun perusahaan yang ada di daerah.
Kerja sama tersebut diharapkan dapat mempersiapkan tenaga kerja yang memiliki keterampilan sesuai kebutuhan dunia usaha sekaligus mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia di Sumba Timur.*