Sumba Terkini

Berita Daerah

Sumba Timur

Berkah dari Dinding Bukit, Air Bersih Masih Jadi Soal Klasik di Sumba

AIR DARI DINDING BUKIT - Seorang ibu tua sedang menimba air yang mengalir dari dinding bukit di Sumba Timur. (Foto : Oris Goti).

SUMBATERKNI.COM, WAINGAPU – Di beberapa wilayah pedalaman Sumba Timur, datangnya musim hujan tidak hanya mengubah warna savana yang semula cokelat menjadi hijau. Bagi sebagian warga, musim ini juga menjadi saat yang paling dinanti untuk mendapatkan air bersih.

Di Desa Hawurut, Kecamatan Matawai La Pawu, air hujan yang meresap ke dalam perbukitan savana perlahan keluar melalui celah-celah dinding bukit. Tetes demi tetes air itu kemudian ditampung warga dalam kolam-kolam kecil sederhana yang dibuat dari susunan tanah dan batu.

Pemandangan warga menimba air dari kaki bukit bukanlah hal baru. Aktivitas ini telah berlangsung selama bertahun-tahun dan menjadi bagian dari cara masyarakat setempat memenuhi kebutuhan air sehari-hari ketika sumber air lain sulit dijangkau.

Baca Juga : Warga Kiritana Sumba Timur Bergantung pada Satu Perahu

Untuk memudahkan pengambilan air, warga menyusun anak tangga sederhana menuju titik-titik rembesan. Setiap tetesan yang keluar dari dinding bukit dimanfaatkan untuk memasak, mencuci, hingga kebutuhan rumah tangga lainnya.

“Kalau musim hujan, biasanya kami ambil air di sini,” tutur seorang warga sambil mengisi jeriken dari kolam penampungan kecil di kaki bukit di awal 2026 lalu.

Namun ketersediaan air tersebut sangat bergantung pada curah hujan. Saat musim kemarau tiba dan rembesan mulai mengering, warga harus mencari sumber air lain yang lokasinya lebih jauh. Tidak jarang mereka harus berjalan menuruni lembah atau menuju aliran sungai untuk memperoleh air bagi kebutuhan sehari-hari.

Baca Juga : Viral di Media Sosial, Muara Watumbaka di Sumba Timur Pikat Wisatawan Lokal

Kondisi ini mencerminkan persoalan yang telah lama dihadapi sebagian masyarakat pedalaman Sumba Timur, yakni keterbatasan akses terhadap sumber air bersih yang layak dan berkelanjutan. Di sejumlah wilayah, ketergantungan pada sumber air alami masih menjadi kenyataan yang harus dijalani hingga kini.

Persoalan tersebut juga dirasakan di kawasan wisata Piarakuku Hills yang berada di wilayah yang sama. Destinasi yang mulai dikenal karena panorama savananya itu masih menghadapi tantangan dalam penyediaan air bersih.

Pengelola Piarakuku Hills, Jeferson Ama, mengatakan kebutuhan air menjadi persoalan bersama, baik bagi masyarakat maupun pengelola wisata. Menurutnya, ketersediaan air masih sangat dipengaruhi oleh kondisi musim.

Baca Juga : Langkah Persada SBD di Liga 4 Nasional Terhenti di Babak 32 Besar

“Air menjadi kebutuhan utama. Masyarakat membutuhkannya setiap hari, dan wisata juga membutuhkan ketersediaan air untuk mendukung pelayanan,” ujarnya.

Situasi ini menghadirkan ironi tersendiri. Di tengah potensi wisata alam yang terus diperkenalkan kepada publik, kebutuhan dasar masyarakat berupa akses air bersih masih menjadi pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya teratasi.

Bagi warga Hawurut dan sejumlah wilayah pedalaman lainnya, rembesan air dari dinding bukit masih menjadi berkah yang selalu dinantikan setiap musim hujan.

Namun di balik tetesan-tetesan yang mengalir itu, tersimpan harapan lama yang belum berubah: hadirnya akses air bersih yang lebih layak, mudah dijangkau, dan tersedia sepanjang tahun.*