Lompat ke konten utama

Sumba Terkini

Budaya & Pariwisata, Sumba Timur

Harmoni dalam Buku Sumba Timur Tanah Eksotis Karya AKBP Gede Harimbawa

SUMBA TIMUR TANAH EKSOTIS - Seorang pelajar mengambil buku Sumba Timur Tanah Eksotis karya AKBP Gede Harimbawa dari rak buku di salah satu taman baca di Kota Waingapu, Kabupaten Sumba Timur, Kamis, (6/8/2026). (Foto : Oris Goti - Sumba Terkini).

“Pengabdian ini perlu dituangkan menjadi jejak pengalaman bertugas di Bumi Tanah Marapu. Buku adalah kenangan yang tak pernah luntur,” – AKBP Gede Harimbawa

__________________________________________

Dalam beberapa kesempatan berbincang dengan para jurnalis di Sumba Timur, AKBP Gede Harimbawa pernah menyebut dirinya sedang menulis buku.

Salah satunya tentang Sumba Timur, daerah yang menjadi tempat pengabdiannya selama kurang lebih satu setengah tahun sebagai Kapolres.

Pertanyaan yang spontan muncul, kapan buku itu terbit? Di antara para jurnalis bahkan sempat terlontar ide sederhana. Kalau buku itu benar-benar terbit, mengapa tidak dibedah bersama?

Menarik rasanya mendengar langsung bagaimana seorang polisi membaca Sumba Timur, lalu menuangkannya ke dalam sebuh buku.

Baca JugaCinta Polisi dan Relawan Bersemi di Pelosok Sumba, Hidupkan Harapan Anak-Anak Lewat Sekolah Gratis

Namun rencana itu tak terwujud. Penerbitan buku tersebut justru nyaris beririsan dengan mutasi AKBP Gede Harimbawa ke Kabupaten Ngada. Alih-alih menjdi bahan diskusi panjang, buku itu hadir sebagai penanda akhir sebuah masa pengabdian.

Di tengah era digital yang dipenuhi video pendek, informasi yang datang silih berganti, dan perhatian yang mudah terpecah, kehadiran sebuah buku terasa seperti jeda.

Buku mengajak pembaca berhenti sejenak, memahami sesuatu secara lebih utuh, lalu melihat hubungan antara alam, budaya, manusia, dan pembangunan dalam satu tarikan napas.

Pagi Sebelum Perpisahan

Pagi, 3 Agustus 2026. Beberapa jam sebelum malam pisah sambut Kapolres Sumba Timur, para jurnalis menerima sebuah bingkisan dari ruang Humas Polres Sumba Timur.

Baca JugaPolisi dan Warga Kejar Pencuri Ternak, 7 Kerbau Ditemukan di Perbatasan Sumba Timur dan Sumba Tengah

Buku itu telah disiapkan oleh Lorens dan Marlon, dua personel yang selama ini dikenal cekatan mendokumentasikan berbagai kegiatan Polres.

Tak sedikit jurnalis yang tidak langsung beranjak dari ruang Humas. Mereka justru duduk lebih dari satu jam, membolak-balik halaman demi halaman buku yang selama ini hanya menjadi bahan obrolan.

Rasa penasaran yang berbulan-bulan akhirnya terjawab.

Malam harinya, dalam acara pisah sambut, AKBP Gede Harimbawa kembali membagikan buku tersebut kepada sejumlah pimpinan instansi yang selama ini menjadi mitra Polres Sumba Timur.

Baca JugaPasar Matawai Etalase Ekonomi Sumba Timur, Satpol PP Tertibkan Pedagang

Dalam sambutannya, satu kata berulang kali ia ucapkan : harmoni. Kadang ia menyebutnya harmoni, kadang harmonisasi.

Belakangan baru terasa bahwa kata itu bukan sekadar bagian dari pidato perpisahan. Harmoni menjadi benang merah yang mengikat hampir seluruh isi bukunya.

Menulis dengan Cara Mengalami

Ada satu hal yang menarik dari buku ini. AKBP Gede Harimbawa tidak menulis hanya dari balik meja. Ia bekerja layaknya seorang jurnalis.

Tempat-tempat yang ia tulis hampir semuanya didatangi langsung. Air terjun, kampung adat, perbukitan, pantai, hingga Pulau Salura, pulau paling selatan Indonesia yang berbatasan dengan Australia, ia datangi.

Baca JugaLewat Konsep Pemberdayaan, Wisata Air Terjun Matayangu Sumba Tengah Bakal Hadir dengan Camping Ground

Hal itu juga diperlihatkan melalui dokumentasi perjalanan yang diputar saat malam pisah sambut. Sebagian besar foto yang menghiasi buku merupakan dokumentasi pribadinya.

Ia tidak hanya mengumpulkan informasi, tetapi memilih hadir, melihat, berjalan, berbincang, lalu menuliskannya. Barangkali karena itulah narasi dalam buku terasa lebih hidup.

Ketika ditanya mengapa merasa perlu menulis buku tentang Sumba Timur, AKBP Gede Harimbawa menjawab sederhana.

Selama bertugas sebagai anggota Polri yang melayani masyarakat, ia mengaku sangat terkesan dengan bentang alam dan adat istiadat Sumba Timur.

Baca JugaHadiri Sidang Sinode GKS, Ketua PGI Ajak Gereja Jaga Alam Sumba

Pengalaman itu, menurutnya, terlalu berharga jika hanya menjadi kenangan pribadi. “Pengabdian ini perlu dituangkan menjadi jejak pengalaman selama satu setengah tahun bertugas di bumi Tanah Marapu.”

Baginya, buku adalah kenangan yang tidak akan pernah luntur. Kenangan yang akan tetap hidup sekalipun dirinya telah berpindah tugas.

Buku tersebut, lanjutnya, diperuntukkan bagi siapa saja yang ingin mengenal karakteristik wilayah, adat istiadat, serta kehidupan masyarakat Sumba Timur.

Ia berharap masyarakat Sumba Timur maupun masyarakat luas dapat memperoleh gambaran utuh mengenai daerah ini melalui buku yang kini telah dipasarkan secara umum.

Baca JugaJelang Sinode GKS ke-44, GAMKI Sumba Timur Dorong Suara Kritis Gereja Soal Isu Lingkungan

Ketika diminta menyampaikan satu kalimat yang paling ingin diingat pembaca, jawabannya singkat.

“Jaya selalu dan sukses di Tanah Humba. Pengabdian kami tidak akan pernah terlupakan sampai kapan pun.”

Merangkai Harmoni Sumba Timur

Tim Redaksi Sumba Terkini membagi jadwal, mencoba mencermati buku tersebut, pagi, sore dan malam, sejak menerima buku itu. Buku Sumba Timur Tanah Eksotis terdiri atas 186 halaman.

Membacanya memberi kesan bahwa buku ini bukan sekadar buku pariwisata ataupun catatan pengabdian seorang Kapolres.

Baca JugaKapolres Sumba Timur Bersama Personel dan Wartawan Jenguk Korban Pembacokan

Lebih dari itu, buku ini mencoba merangkai Sumba Timur sebagai sebuah ekosistem kehidupan yang utuh.

Alam, budaya, manusia, pemerintah, aparat penegak hukum, pelaku usaha, pendidikan, hingga generasi muda ditempatkan dalam satu jalinan yang saling menguatkan.

Sejak kata pengantar, AKBP Gede Harimbawa memperkenalkan satu kata yang menjadi napas buku ini, yakni harmoni.

Lima belas bab disusun mulai dari kondisi geografis, sejarah, masyarakat adat, Marapu, tenun ikat, kuda Sandelwood, ekonomi lokal, pendidikan, pariwisata, hingga kepemimpinan daerah.

Baca Juga : Usai Gagalkan Pengiriman Serbuk Emas, Polisi Dalami R, Pemodal Tersangka Kasus Tambang Emas Ilegal di Sumba Timur

Benang merahnya jelas. Sumba Timur tidak bisa dipahami hanya dari satu sisi. Alam bukan sekadar objek wisata, tetapi ruang hidup.

Budaya bukan sekadar atraksi, melainkan identitas. Adat bukan sekadar tradisi, tetapi fondasi moral yang membentuk cara hidup masyarakat.

Menariknya, pembangunan juga tidak hanya dimaknai sebagai investasi atau pertumbuhan ekonomi.

Pemerintah, Polres, Kejaksaan, Kodim, pelaku usaha, masyarakat adat, hingga generasi muda diposisikan sebagai bagian dari harmoni yang harus terus dijaga.

Baca JugaWarga Kiritana Sumba Timur Bergantung pada Satu Perahu

Di sisi lain, buku ini tidak menutup mata terhadap tantangan.

Modernisasi, media sosial, komersialisasi budaya, kualitas pendidikan, hingga pelestarian identitas lokal menjadi bagian dari pembahasan.

Pesan yang terasa kuat adalah bahwa harmoni tidak hadir dengan sendirinya. Ia harus dirawat bersama.

Apa Kata Mereka?

“Menulis di tengah kesibukan membutuhkan kematangan akademis dan ketajaman mengamati.” Dion Umbu Ana Lodu – Jurnalis iNews

_____________________

Dion menilai buku tersebut menunjukkan bahwa kesibukan bukan penghalang untuk berkarya.

Ia berharap karya itu dapat menginspirasi lebih banyak orang untuk menulis tentang daerahnya sendiri.

“Merumuskan alam dan budaya Sumba itu tidak mudah.” Irfan Budiman – Jurnalis Pos Kupang

_______________________

Menurut Irfan, kemampuan AKBP Gede Harimbawa merangkum kekayaan alam dan budaya Sumba dalam sebuah buku merupakan kelebihan tersendiri.

Ia juga mengapresiasi kemampuan mengatur waktu sehingga tetap mampu menulis di tengah padatnya aktivitas sebagai Kapolres.

“Saya orang Sumba saja tidak pernah terpikir menulis buku tentang daerah ini.” Jeferson Ama – Pematung Tradisional dan Pelaku Wisata Tanarara

_____________________

Jeferson mengaku bangga karena Piarakuku Hills menjadi salah satu lokasi yang masuk dalam buku tersebut.

Ia mengenal AKBP Gede Harimbawa saat diminta membuat patung kuda yang kini menjadi simbol di Polres Sumba Timur.

Namun yang paling berkesan baginya bukan hanya buku itu.

Menurutnya, sosok AKBP Gede Harimbawa mengubah cara pandangnya terhadap polisi.

“Dulu kami segan, bahkan takut dengan baju cokelat. Setelah mengenal beliau, kami justru hormat dan kagum.”

Ia juga mengapresiasi kesediaan AKBP Gede Harimbawa, yang berasal dari Bali, untuk mempelajari dan menyatu dengan budaya Sumba Timur. “Beliau mau memahami budaya kami.”

“Buku ini menambah khazanah pustaka tentang Sumba Timur.” Umbu Lili Pekuwali – Bupati Sumba Timur

_____________________

Bupati Umbu Lili Pekuwali mengaku kagum karena seorang Kapolres mampu menghasilkan sebuah buku di tengah kesibukan menjalankan tugas.

Ia bahkan mengaku memiliki keinginan yang sama untuk menulis, namun menyadari bahwa proses itu membutuhkan perenungan yang panjang.

Menurutnya, kehadiran buku tersebut menjadi tambahan referensi yang penting bagi siapa saja yang ingin mengenal Sumba Timur lebih dekat.

Lebih dari Sebuah Kenangan

Pada akhirnya, Sumba Timur Tanah Eksotis bukan sekadar kenang-kenangan seorang Kapolres sebelum meninggalkan daerah penugasannya.

Buku ini menjadi jejak bahwa memahami sebuah daerah tidak cukup hanya dengan datang dan bertugas. Perlu waktu untuk berjalan, mendengar, melihat, berdialog, lalu menuliskannya.

Mungkin itulah yang membuat buku ini terasa berbeda. Ia lahir bukan dari jarak, melainkan dari perjumpaan.*

ARTIKEL TERKAIT

REKOMENDASI UNTUKMU

ARTIKEL LAINNYA