SUMBATERKINI.COM, Waingapu – Rencana pengembangan tanaman pongamia di lahan transmigrasi Sumba Timur tidak lahir dari sebuah eksperimen singkat.
Di balik proyek yang tengah disiapkan PT Shanti Energi Hijau (SEH) bersama Pemerintah Kabupaten Sumba Timur, terdapat riset ilmiah yang telah berlangsung lebih dari satu dekade.
Hal itu diungkapkan Prof. Aam Aminah, Tim Riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), kepada SumbaTerkini.com, saat mengikuti diskusi antara PT Shanti Energi Hijau dan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Sumba Timur di Waingapu, Jumat (17/7/2026).
Aam menjelaskan, dirinya mulai meneliti tanaman pongamia sejak 2009 ketika masih menjadi peneliti di Pusat Riset Botani.
Baca Juga : Energi Hijau dari Lahan Transmigrasi Sumba Timur Melalui Pengembangan Pongamia
Fokus penelitiannya adalah memperbanyak bibit unggul sekaligus mengkaji kemampuan adaptasi tanaman yang kini mulai dilirik sebagai bahan baku energi hijau.
“Penelitian kami diawali dengan eksplorasi tanaman ke berbagai wilayah Indonesia karena habitat asli pongamia berada di sepanjang pesisir, mulai dari Sumatera hingga Papua,” ujarnya.
Menurutnya, salah satu keunggulan pongamia adalah daya adaptasinya yang sangat tinggi. Tanaman ini mampu tumbuh dari dataran rendah hingga ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut.
Lebih dari itu, pongamia merupakan tanaman pionir yang memiliki bintil akar untuk mengikat nitrogen dari udara.
Baca Juga : Pemkab Sumba Timur Dukung Kawan Sehat, Perkuat Layanan Kesehatan Wilayah Pelosok
Kemampuan tersebut membuat tanaman ini tidak hanya mampu bertahan di lahan marginal, tetapi juga membantu memperbaiki kesuburan tanah.
“Tanaman ini justru bisa menyuburkan tanah karena mampu melakukan fiksasi nitrogen,” katanya.
Kerja sama BRIN dengan PT Shanti Energi Hijau sendiri telah dimulai sejak 2021 dan berlanjut hingga kini melalui perjanjian kerja sama baru setelah Aam bergabung di BRIN.
Sebelum memilih Sumba Timur sebagai lokasi pengembangan, tim peneliti telah membangun sejumlah demplot penelitian di berbagai daerah, mulai dari Parung Panjang, Sumedang, Kalimantan hingga lahan bekas tambang.
Baca Juga : Kawan Sehat Mengobati, Menumbuhkan Kesadaran, Membangun Harapan dari Pelosok Sumba Timur
Hasilnya menunjukkan pongamia mampu tumbuh dengan baik bahkan di lahan pascatambang yang minim unsur hara tanpa harus diberi lapisan tanah atas (topsoil).
“Tanaman ini cocok ditanam di lahan-lahan yang setelah ditambang langsung direhabilitasi. Itu sudah kami buktikan melalui penelitian,” jelasnya.
Saat PT Shanti Energi Hijau mengusulkan Sumba Timur sebagai lokasi pengembangan, BRIN tidak langsung memberikan rekomendasi.
Tahapan pertama yang dilakukan adalah menganalisis karakteristik tanah dan kondisi iklim setempat.
Baca Juga : Di Balik Penerbangan Langsung TransNusa Bali – Waingapu, Ada Potensi Besar yang Dibidik
Dari hasil kajian, tanah di Sumba Timur dinilai sangat sesuai untuk pengembangan pongamia. Tingkat keasaman tanah (pH) berkisar 7 hingga 8, kondisi yang ideal bagi pertumbuhan tanaman tersebut.
Meski demikian, Aam mengatakan pongamia juga terbukti mampu bertahan pada tanah dengan pH sekitar 4, menunjukkan toleransi yang sangat tinggi terhadap berbagai kondisi lingkungan.
Setelah analisis selesai, BRIN melakukan penanaman uji coba pada Januari 2026. Hingga kini, pertumbuhan tanaman dinilai menunjukkan hasil yang menggembirakan.
“Tantangan kami berikutnya adalah memastikan pohon-pohon ini menghasilkan buah yang banyak dengan kandungan minyak tinggi,” katanya.
Baca Juga : Pulau Sumba Jadi Pilot Project Nasional Pencegahan TPPO dan TPKS Anak
Untuk mencapai target tersebut, BRIN membawa klon-klon unggul hasil seleksi di persemaian Sicero, Bogor. Klon yang dipilih merupakan tanaman dengan rendemen minyak di atas 20 persen, sesuai kebutuhan industri bioenergi.
Namun demikian, menurut Aam, penelitian belum berhenti. Seluruh klon unggul masih menjalani uji multilokasi di berbagai daerah untuk memastikan produktivitasnya tetap tinggi pada kondisi lingkungan yang berbeda, termasuk di Sumba Timur.
Ia mengungkapkan, perkembangan pongamia juga mulai menarik perhatian sejumlah negara seperti Jepang, India, dan Italia yang melihat potensinya sebagai sumber energi terbarukan.
Meski begitu, hingga kini sebagian besar pengembangan pongamia di dunia masih sebatas skala penelitian atau demplot dengan luas satu hingga lima hektare.
Baca Juga : Sidang Kasus Tambang Emas Ilegal di TN Matalawa Sumba Berpotensi Ungkap Pembeli Emas
Karena itu, rencana pengembangan dalam skala luas di Sumba Timur dinilai menjadi salah satu langkah paling ambisius yang sedang disiapkan di Indonesia.
“Kalau berhasil, ini bisa menjadi program produksi massal pertama,” ujarnya.
Aam menegaskan, pengembangan pongamia tidak boleh terburu-buru dibawa ke masyarakat sebelum seluruh aspek teknis benar-benar teruji.
Menurutnya, pendekatan ilmiah menjadi penting agar masyarakat memperoleh manfaat nyata sekaligus tidak mengulangi kegagalan berbagai program komoditas yang pernah diperkenalkan sebelumnya.
“Kami ingin memastikan ketika nantinya masyarakat menanam pongamia, mereka benar-benar bisa memperoleh hasil sesuai target. Karena itu semua harus dibuktikan dulu melalui penelitian,” pungkasnya.*