Lompat ke konten utama

Sumba Terkini

Berita Terkini

Energi Hijau dari Lahan Transmigrasi Sumba Timur Melalui Pengembangan Pongamia

PONGAMIA MENYASAR LAHAN TRANSMIGRASI - Kadis Nakertrans Markus Windi (ketiga dari kanan) bersama jajaran, pimpinan PT. Shanti Energi Hijau serta peneliti dari BRIN di Kota Waingapu, Jumat (17/7/2026), usai pembahasan rencana pengembangan pongamia di lahan transmigrasi Sumba Timur. (Foto : Bastian Manunggala).

SUMBATERKINI.COM, Waingapu – Setelah memulai penanaman perdana pohon pongamia di kawasan Breeding Center Matawai Maringu pada April lalu, PT Shanti Energi Hijau (SEH) kini bersiap memperluas pengembangannya ke kawasan transmigrasi di Kabupaten Sumba Timur.

Langkah lanjutan itu dibahas dalam pertemuan antara jajaran PT Shanti Energi Hijau dan Dinas Transmigrasi dan Tenaga Kerja Kabupaten Sumba Timur di Kota Waingapu, Jumat (17/7/2026).

Pertemuan tersebut menjadi tindak lanjut dari groundbreaking fase pertama penanaman pongamia yang sebelumnya dihadiri langsung Bupati Sumba Timur, Umbu Lili Pekuwali.

Fokus pembahasan kali ini adalah peluang kerja sama pemanfaatan lahan usaha milik masyarakat transmigrasi yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.

Baca JugaDi Balik Penerbangan Langsung TransNusa Bali – Waingapu, Ada Potensi Besar yang Dibidik

Lahan ini direncanakan ditanami pongamia atau malapari, tanaman penghasil minyak nabati yang diproyeksikan menjadi bahan baku biodiesel hingga avtur berkelanjutan.

Potensi di Lahan Transmigrasi 

Kepala Dinas Transmigrasi dan Tenaga Kerja Kabupaten Sumba Timur, Markus Windi, kepada SumbaTerkini.com, mengatakan pemerintah daerah menyambut baik rencana tersebut karena dinilai mampu mengubah lahan-lahan tidur menjadi aset produktif bagi masyarakat.

“Kami dari Dinas Transmigrasi sangat menyambut baik kegiatan ini sehingga ke depannya jika masyarakat setuju, lahan yang nganggur itu menjadi produktif dan menjadi tanaman yang menghasilkan,” kata Markus Windi.

Ia menjelaskan, sesuai arahan Bupati Sumba Timur, kawasan transmigrasi menjadi lokasi yang paling memungkinkan untuk dikembangkan karena setiap kepala keluarga umumnya memiliki lahan usaha sekitar dua hektare.

Baca JugaPulau Sumba Jadi Pilot Project Nasional Pencegahan TPPO dan TPKS Anak

Menurutnya, PT Shanti Energi Hijau juga telah melakukan uji coba penanaman di Matawai Maringu yang lokasinya berdekatan dengan sejumlah kawasan transmigrasi seperti Kotakawau, Latapu, dan Laindeha.

Di wilayah tersebut, terdapat sekitar 991 hektare lahan masyarakat yang dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan melalui pola kemitraan.

“Hari ini baru sebatas saling bertukar informasi terkait kegiatan PT Shanti Energi Hijau dan data yang kami miliki. Selanjutnya kami akan menyiapkan data masyarakat di kawasan transmigrasi sebelum dilakukan sosialisasi kepada warga,” ujarnya.

Markus menambahkan, kawasan yang diprioritaskan berada di Kecamatan Kahaungu Eti dan Pandawai yang memiliki cukup banyak lahan usaha masyarakat transmigrasi.

Baca JugaNakhoda Baru GMKI Waingapu Dilantik, Perkuat Gerakan di Gereja Kampus dan Masyarakat

Sumba Dipilih Menjadi Pusat Riset dan Pengembangan Pongamia

Sementara itu, President Director PT Shanti Energi Hijau, Yusuf Reza Shahab, mengatakan perusahaan memilih Sumba sebagai pusat pengembangan pongamia setelah melakukan penelitian di sejumlah daerah di Indonesia.

Ia menyebut Sumba memiliki kombinasi kondisi iklim, luas lahan, dukungan pemerintah, hingga infrastruktur yang dinilai paling ideal untuk pengembangan tanaman energi tersebut.

“Setelah penelitian yang cukup panjang, kami memilih pengembangan komersial dan pusat riset dilakukan di Sumba,” ujar Yusuf.

Menurutnya, pongamia memiliki empat manfaat utama, yakni menghasilkan minyak nabati untuk biodiesel maupun avtur ramah lingkungan, menghijaukan lahan kritis.

Baca JugaKejuaraan Shorinji Kempo Bupati Sumba Timur Cup, Dari Matras Persaudaraan Menuju Prestasi Lebih Tinggi

Tidak hanya itu, pongamia juga memberikan manfaat ekonomi melalui kemitraan dengan masyarakat, serta menyerap karbon yang berpotensi menghasilkan nilai ekonomi dari perdagangan karbon.

Yusuf mengatakan tanaman tersebut sangat cocok dikembangkan di daerah kering seperti Sumba karena hanya membutuhkan air pada awal masa tanam, kemudian mampu tumbuh secara mandiri.

Ia mengungkapkan perusahaan telah melakukan kunjungan ke Sumba sebanyak delapan kali sebelum akhirnya memutuskan menjadikan pulau ini sebagai pusat pengembangan.

“Saya mungkin jatuh cinta kepada Sumba karena masyarakatnya sangat kondusif, pemerintah daerah sangat membantu, dan infrastrukturnya sudah sangat mendukung,” katanya.

Baca JugaWawancara Eksklusif : Pendeta Yakub Malo Bili Usai Terpilih Sebagai Ketua Sinode GKS 2026 – 2031

Dari Tahap Riset Menuju Pengembangan 10.000 Hektare

Saat ini, PT Shanti Energi Hijau tengah melaksanakan tahap riset melalui penanaman pongamia di lahan seluas 50 hektare di kawasan Matawai Maringu yang disewa dari Pemerintah Kabupaten Sumba Timur selama lima tahun.

Di lokasi tersebut akan ditanam sekitar 16.000 hingga 17.000 pohon yang berasal dari pembibitan milik perusahaan di Bogor dan mitra internasional TerViva untuk mencari varietas terbaik sebelum memasuki tahap komersial.

Setelah fase riset selesai, perusahaan menargetkan pengembangan bertahap hingga 4.000 hektare, kemudian diperluas menjadi 10.000 hektare melalui skema kemitraan dengan masyarakat, pemanfaatan lahan transmigrasi, serta kerja sama dengan pemilik lahan skala besar.*

ARTIKEL TERKAIT

REKOMENDASI UNTUKMU

ARTIKEL LAINNYA

No Content Available