SUMBATERKINI.COM, Waingapu – Di sejumlah desa di Sumba Timur, mendapatkan layanan kesehatan dasar masih menjadi tantangan. Ada warga yang harus menempuh perjalanan hingga empat sampai lima jam dengan sepeda motor.
Ketika musim hujan datang, akses itu bahkan bisa terputus sehingga pelayanan kesehatan menjadi semakin sulit dijangkau.
Kondisi itulah yang melatarbelakangi lahirnya Kawan Sehat, program kesehatan Yayasan Kawan Baik Indonesia yang tidak hanya menghadirkan pertolongan medis dasar bagi masyarakat, tetapi juga membangun kesadaran hidup sehat melalui jaringan relawan yang tinggal dan melayani di kampung-kampung.
Pelayanan Kesehatan Berbasis Relawan
Direktur Yayasan Kawan Baik Indonesia, Ayu Setia Wardani, mengatakan Kawan Sehat merupakan bagian dari program Primary Medical Care (PMC) yang telah dijalankan sejak 2022.
Baca Juga : Warga Kiritana Sumba Timur Bergantung pada Satu Perahu
Berbeda dengan pelayanan kesehatan pada umumnya, program ini bertumpu pada relawan yang dibekali kemampuan memberikan pelayanan medis dasar kepada masyarakat di wilayahnya masing-masing.
“Kami tidak memberikan gaji. Mereka adalah relawan yang kami latih dan bekali dengan pengetahuan serta perlengkapan medis dasar agar bisa membantu masyarakat di daerahnya,” kata Ayu kepada Sumba Terkini.
Pada awal pelaksanaannya, yayasan melatih 50 relawan. Namun karena berbasis kerelawanan, sebagian tidak lagi aktif sehingga dilakukan regenerasi setiap tahun. Saat ini terdapat 23 Agen Kawan Sehat yang bertugas di sembilan kecamatan di Sumba Timur.
Selama tiga hari pelatihan, para agen mempelajari 14 materi pelayanan medis dasar, mulai dari pertolongan pertama, penanganan penyakit kulit, mata, telinga, hingga perawatan kesehatan anak. Mereka juga dibekali tas medis berisi obat-obatan yang digunakan untuk membantu masyarakat.
Baca Juga : Kawan Baik Indonesia Perkuat Akses Air Bersih, Kesehatan, Pendidikan hingga Respons Bencana di Sumba Timur
Data Menjadi Dasar Pelayanan
Namun bagi Ayu, pelayanan kesehatan tidak berhenti ketika obat diberikan.
Setiap pelayanan yang dilakukan agen dicatat melalui formulir manual dan aplikasi digital Kawan Sehat yang dapat diakses melalui telepon genggam.
Di dalam aplikasi tersebut, agen mengisi hasil anamnesis, keluhan pasien, dugaan penyakit hingga obat yang diberikan.
Data itu kemudian dikumpulkan setiap bulan dan dievaluasi bersama puskesmas setiap tiga bulan.
Baca Juga : Kemana Limbah Tambak Udang di Sumba Timur Akan Dibuang?
Dari sana terlihat penyakit yang paling banyak ditemukan, wilayah yang membutuhkan perhatian lebih, hingga kebutuhan pelayanan berikutnya.
“Kasus-kasus yang ditangani selama tiga bulan akan kami evaluasi bersama tim puskesmas. Setelah itu obat-obatan yang habis diisi kembali sehingga pelayanan bisa terus berjalan,” ujarnya.
Menurut Ayu, penempatan agen memang diprioritaskan di daerah-daerah yang jauh dari fasilitas kesehatan dasar.
Awalnya mayoritas relawan berasal dari guru-guru sekolah yang bermitra dengan yayasan karena sekolah-sekolah tersebut berada di wilayah terpencil.
Baca Juga : Berkah dari Dinding Bukit, Air Bersih Masih Jadi Soal Klasik di Sumba
Kini jaringannya diperluas dengan melibatkan kader kesehatan dan kader remaja agar jangkauan pelayanan dan edukasi semakin luas.
Mendorong Kesadaran tentang HIV
Pendekatan itu pula yang mendorong Kawan Sehat mulai memperkuat edukasi mengenai HIV.
Yayasan Kawan Baik telah memantau peningkatan kasus HIV di NTT, termasuk Sumba Timur, dalam beberapa tahun terakhir.
Namun edukasi baru diperluas tahun ini setelah mempertimbangkan kesiapan masyarakat yang selama ini masih menganggap HIV sebagai isu yang tabu.
Baca Juga : Pulau Sumba Jadi Pilot Project Nasional Pencegahan TPPO dan TPKS Anak
Melalui poster edukasi dan pendampingan para agen, masyarakat diajak mengenali status kesehatannya serta berani menjalani skrining sedini mungkin.
“Yang kami dorong adalah masyarakat berani melakukan screening dari awal supaya penularannya bisa dicegah,” kata Ayu.
Berdasarkan informasi yang diperoleh yayasan, jumlah kasus HIV terkonfirmasi di Sumba Timur mencapai sekitar 314 kasus.
Angka itu diyakini belum menggambarkan kondisi sebenarnya karena masih banyak masyarakat yang belum pernah menjalani pemeriksaan.
Baca Juga : Di Balik Penerbangan Langsung TransNusa Bali – Waingapu, Ada Potensi Besar yang Dibidik
Ketika ada warga yang ingin melakukan skrining, agen Kawan Sehat akan mengarahkan mereka ke puskesmas yang telah menyediakan layanan tes HIV secara gratis.
Seluruh proses itu dilakukan melalui kolaborasi Yayasan Kawan Baik Indonesia, Pemerintah Kabupaten Sumba Timur, dan Dinas Kesehatan.
Dari Mengobati Menuju Solusi yang Lebih Menyeluruh
Menariknya, data yang dikumpulkan para agen tidak hanya digunakan untuk pelayanan kesehatan. Informasi yang mereka laporkan juga menjadi dasar bagi program sosial lain milik yayasan.
Misalnya ketika laporan menunjukkan banyak warga mengalami luka yang sulit sembuh akibat terbatasnya akses air bersih, data tersebut akan menjadi bahan pertimbangan dalam program penyediaan air bersih yang sedang dijalankan Yayasan Kawan Baik Indonesia.
Baca Juga : Pendidikan Vokasi Jadi Benteng Cegah TPPO, Kementerian HAM Tinjau SHF dan BLK Don Bosco Sumba
Dengan demikian, pelayanan kesehatan tidak berhenti pada tindakan mengobati.
Data yang dikumpulkan para agen menjadi dasar membaca persoalan di lapangan, menghubungkan masyarakat dengan fasilitas kesehatan, sekaligus merancang solusi yang lebih menyeluruh sesuai kebutuhan setiap wilayah.
Bagi Ayu, itulah makna Kawan Sehat. Mengobati adalah langkah awal.
Yang ingin dibangun adalah kesadaran masyarakat agar mampu menjaga kesehatan, saling peduli, dan memiliki akses terhadap pelayanan kesehatan yang terus tumbuh dari kampung-kampung di pelosok Sumba Timur.*