Lompat ke konten utama

Sumba Terkini

Sumba Timur

Ketika Penenun Sumba Tak Lagi Bersembunyi, Kain Menembus Layar

TENUN - Penenun di Kampung Adat Prailiu, Sumba Timur, memperkenalkan karya tenun melalui live streaming media sosial, Sabtu (8/8/2026). (Foto : Oris Goti - Sumba Terkini).

“Saya pikir – pikir barang ini kecil begini e, tetapi bisa bantu jual tenun.”

________________________________________

SUMBATERKINI.COM, Waingapu – Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, bagi Yohana Tondambitu, perempuan paruh baya yang sehari-hari menenun di Kampung Adat Prailiu, Sumba Timur, kalimat tersebut menandai perubahan kecil dalam cara ia melihat sebuah benda yang selama ini hanya digunakan untuk berkomunikasi.

Benda kecil di tangannya itu ternyata bisa menjadi jalan bagi kain tenun keluar dari kampung dan bertemu dengan pembeli yang bahkan belum pernah menginjakkan kaki di Prailiu.

Di sudut timur Kota Waingapu, Kampung Adat Prailiu berdiri dengan rumah-rumah adat beratap menjulang.

Kubur batu megalitikum berada di antara rumah dan halaman warga, menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Di kampung itu pula perempuan-perempuan menenun. Mereka merangkai benang, mengerjakan motif, memberi warna, hingga menghasilkan kain yang proses pembuatannya tidak selesai dalam hitungan hari.

Selama bertahun-tahun, penjualan tenun di kampung tersebut berjalan dengan cara yang hampir sama.

Baca Juga : Warga Kiritana Sumba Timur Bergantung pada Satu Perahu

Pembeli atau pengepul datang, melihat kain yang tersedia, menawar, lalu membawa pulang hasil karya penenun.

Pertemuan antara pembuat dan pembeli biasanya terjadi ketika keduanya berada di tempat yang sama. Ketika pandemi Covid-19 datang dan kunjungan menurun, pola itu ikut terganggu. “Kami itu waktu itu tidak bisa buat apa-apa,” kenang Herlina Nggona Pandaung.

Para penenun tetap bekerja meski pembeli semakin sulit ditemui. Alat tenun tetap disentak, benang tetap dirangkai, dan kain tetap dikerjakan di sela-sela pekerjaan rumah tangga. Yang berubah adalah jalan menuju pasar.

Dari Pondok Tenun ke Layar Telepon

Sabtu, 8 Agustus 2026, sekitar pukul 15.00 Wita, di sebuah pondok tenun yang dinaungi pohon beringin besar, beberapa perempuan paruh baya berkumpul.

Ada Yohana Tondambitu, Herlina Nggona Pandaung dan Ferderika Takandiwa dan penenunya lainya. Di antara mereka juga ada Yunita Maytida, atau Yun, anak Kampung Prailiu yang masih berkuliah.

Sore itu, mereka tidak hanya mengerjakan kain. Mereka juga bicara tentang siaran langsung di media sosial untuk menjual tenun. Sesekali terdengar gelak tawa ketika mereka saling memperagakan cara berbicara di depan kamera telepon.

Baca Juga : Tips Berwisata ke Air Terjun Matayangu, Menemukan Harmoni di Balik Keindahan Alam Sumba

“Kami kalau jam – jam begini sudah mulai kumpul di sini Masak di rumah sudah beres, sudah urus anak – anak. Hewan sudah kasi makan,” ujar Yohana.

Tidak ada studio khusus di sana. Tidak ada lampu produksi atau peralatan yang rumit. Yang tersedia hanya kain, alat tenun, para penenun, sebuah telepon pintar dan tripod.

“Kalau dulu itu kami hanya tau tenun saja. Simpan saja di depan rumah tunggu pembeli sambil kami di dapur masak, urus hewan, urus anak,” kata Yohana.

Kebiasaan baru itu bermula dari kedatangan seorang perempuan dari Sumba Barat Daya ke Prailiu. Perempuan tersebut melakukan siaran langsung dari kampung itu.

“Waktu itu sempat ada yang datang berkunjung ke sini. Ibu dari Sumba Barat Daya. Dia juga live di sini. Kami kaget juga karena baru pertama kali seperti itu,” ujar Yohana.

Dari siaran langsung tersebut, penjualan tenun mencapai puluhan juta rupiah. Sebagian hasil penjualan diberikan sebagai potongan sebesar 20 persen kepada perempuan yang melakukan siaran langsung.

Baca Juga : ‘Jejak Wanggameti’ Gerak Bersama Jaga Kesehatan, Lestarikan Budaya, Rawat Alam Sumba Timur

“Waktu itu tenun laku ada yang 30 juta, lebih juga. Jadi setiap tenunan yang terjual ada potongan 20 persen untuk ibu yang live itu,” kata Yohana.

Yohana masih mengingat keterkejutannya ketika mengetahui benda kecil itu ternyata bisa membantu menjual kain.

“Saya pikir – pikir, barang ini kecil begini e, tetapi bisa bantu kami jual tenun,” ujarnya sembari tertawa kecil.

Dari sana, para penenun mulai mencoba. Sebagian masih canggung. Sebagian lainnya memilih berada di belakang layar. Namun, perlahan, kain yang selama ini menunggu pembeli di kampung mulai diperkenalkan kepada orang-orang yang berada jauh dari Prailiu.

Kolaborasi dengan Anak Muda, Penenun Mulai Masuk ke Dalam Frame

Para penenun kemudian sadar bahwa mereka membutuhkan bantuan orang yang lebih terbiasa menggunakan telepon pintar dan media sosial. Mereka berembuk dan menemui Yun.

“Kami ibu – ibu ini pergi ke Yun minta dia untuk ajar kami. Kami senang waktu itu juga dia mau dan semangat mau bantu kami,” kata Yohana.

Baca Juga : Berkah dari Dinding Bukit, Air Bersih Masih Jadi Soal Klasik di Sumba

Sejak saat itu, Yun ikut membantu mereka membuat akun media sosial bersama. Ia juga membantu melakukan siaran langsung, berkomunikasi dengan calon pembeli dan mengelola media sosial. “Jadi Yun ini yang bantu kami,” ujar Yohana.

Yun menceritakan bahwa akun tersebut dibuat sebagai ruang bersama. “Kami buat akun media sosial bukan atas nama pribadi saya,” ujarnya.

Di pondok itu terdapat 18 penenun. Masing-masing membawa kain hasil karyanya untuk diperkenalkan kepada calon pembeli.

Pada awalnya, mereka masih lebih nyaman ketika Yun yang berbicara di depan kamera. Namun, setelah beberapa kali mencoba, para ibu mulai ikut masuk ke dalam frame.

Mereka mulai memperkenalkan kain sendiri. Mereka menjelaskan motif, proses pengerjaan dan cerita yang melekat pada kain tersebut. Pertanyaan pembeli yang datang melalui layar pun perlahan mulai mereka jawab sendiri.

Bagi Ferderika, pengalaman itu membuat mereka tidak hanya senang karena kain dikenal lebih luas.

Baca Juga : Kawan Baik Indonesia Perkuat Akses Air Bersih, Kesehatan, Pendidikan hingga Respons Bencana di Sumba Timur

Ada kepuasan lain ketika orang-orang yang melihat siaran langsung mulai mengetahui alasan di balik sebuah motif dan bagaimana kain tersebut dibuat.

“Jadi kamu jelaskan ini tenunnya apa, motifnya apa, bagaimana kerjanya. Lama-lama kami senang juga orang bisa tidak hanya tahu tentang tenun kami, tetapi juga tahu bagaimana motifnya, maksudnya apa, dan lain-lain,” ujar Ferderika.

Perubahan itu membuat mereka tidak lagi hanya menjadi orang yang menghasilkan kain. Mereka mulai tampil sebagai orang yang menceritakan dan memperkenalkan sendiri hasil pekerjaan mereka.

Satu Kain dan Banyak Tangan

Tenun Sumba tidak lahir hanya dari aktivitas menenun. Di balik selembar kain terdapat rangkaian pekerjaan yang panjang dan melibatkan orang-orang dengan keterampilan berbeda.

Ferderika menyebut satu tenun dapat melalui sekitar 42 tahapan. “Kalau tenun kami itu ada 42 tahapan, dan bukan hanya penenun sendiri. Prosesnya juga lama.”

Ada orang yang mencari tanaman untuk pewarna alami. Ada yang mengolahnya menjadi bahan pewarna. Ada yang menjemur benang. Ada pula yang membuat gambar motif.

Baca Juga : Viral di Media Sosial, Muara Watumbaka di Sumba Timur Pikat Wisatawan Lokal

“Yang gambar itu bukan gambar di kertas, tetapi gambar di kain. Kami menenun berdasarkan gambar itu. Jadi ini tidak sembarang orang bisa gambar,” ujarnya.

Karena itu, ketika sebuah kain terjual, uang yang bergerak di belakangnya tidak hanya berkaitan dengan orang yang terlihat sedang menenun.

Ada bahan baku yang harus tersedia. Ada pewarna yang harus disiapkan. Ada benang yang harus dipintal dan ada motif yang harus dikerjakan. Rantai pekerjaan itu ikut menentukan nilai sebuah kain.

Di Prailiu, harga kain dapat mencapai Rp15 juta. Sementara itu, produk turunan seperti selendang dijual mulai dari Rp150 ribu hingga Rp500 ribu.

Para penenun kini melakukan siaran langsung sekitar tiga hingga empat kali dalam seminggu. Dari penjualan tersebut, pendapatan dapat mencapai belasan hingga puluhan juta rupiah.

Bagi Yohana, manfaatnya terasa sederhana. Ia tidak perlu membawa kain berkeliling untuk mencari pembeli.

Baca Juga : Waingapu Collective Galang Donasi untuk Korban Gempa Flores, Bangun Kesadaran Kesiapsiagaan Bencana

“Memang dengan adanya ini kami merasa terbantu sekali, apalagi kami ini kan tidak biasa jualan keliling. Kami tidak pernah pergi jual ke sana kemari,” ujarnya.

“Kami juga dapat uang lebih stabil, sejak jual online ini pasti dalam seminggu bisa ada untunglah, kalau dulu memang ada juga tetapi waktunya tidak menentu begitu,” pungkasnya.

Pemerintah Melihat Pasar yang Lebih Luas

Perubahan cara menjual tenun di Prailiu mulai mendapat perhatian pemerintah daerah. Kepala Bidang UMKM Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Sumba Timur, Remi, melihat pemasaran melalui media sosial seperti Facebook dan TikTok memiliki jangkauan lebih luas dibandingkan pemasaran manual.

Meski demikian, diakuinya, data penenun di Sumba Timur belum tersedia secara valid di dinas. Data yang ada masih sebatas kelompok-kelompok WhatsApp yang mencakup sekitar 100 penenun.

“Kalau saya lihat bahwa memang lebih efisien dan lebih efektif memang. Kalau saya lihat bahwa pasaran pakai digital dibandingkan dengan pasaran manual, luas pasarnya lebih tinggi,” ujar Remi.

Pada awal Februari 2026, Dinas Koperasi dan UMKM Sumba Timur memberikan pelatihan modifikasi tenun agar kain tidak hanya dijual dalam bentuk lembaran, tetapi dapat diolah menjadi tas dan produk lainnya.

Baca Juga : Sotis Menang Dramatis di Race Penutup Humba Cup IV, Salip Andromeda di Penghujung Lintasan

“Selama ini kan mereka hanya jual gelondongan, misalnya jual selendang lembar begini. Kami baru tahun ini, awal Februari, pelatihan tentang bagaimana modifikasi tenun mereka, buat dalam bentuk tas, buat dalam bentuk hunting, bentuk apa gitu,” kata Remi.

Namun, pemasaran digital masih menghadapi kendala jaringan dan kemampuan penenun menggunakan media sosial.

“Yang paling utama memang terkendala jaringan. Lalu yang kedua, terutama penenun-penenun di kampung, mereka belum terlalu tahu juga tentang multimedia, belum juga tahu tentang medsos, pasaran online,” ujarnya.

Remi mengatakan pemerintah juga akan membangun komunikasi dengan marketplace agar pelaku UMKM dapat bergabung.

“Kami nanti akan bangun komunikasi dengan marketplace-marketplace untuk mereka bisa bergabung di situ,” kata Remi.

Ketika Penenun Mulai Memegang Kendali

Dr. Yulita Milla Pakereng, S.E., M.M., Dosen Program Studi Manajemen yang juga merupakan peneliti terkait UMKM tenun dan BUMDes, melihat keberanian penenun tampil dan menguasai ruang digital sebagai bagian dari penguatan posisi mereka.

“Keberanian untuk tampil dan menguasai ruang digital dapat dikategorikan sebagai bentuk penguatan posisi atau empowerment,” ujar Dosen Universitas Kristen Wira Wacana Sumba ini.

Baca Juga : Kasus Kekerasan Seksual Anak 13 Tahun di Lewa Jadi Atensi Daerah hingga Pusat, Korban Didampingi Sabana Sumba

Menurut Yulita, perubahan tersebut perlu diikuti kemampuan penenun dalam menentukan harga, mengelola pendapatan dan mengambil keputusan atas usaha mereka.

“Tantangan terbesarnya adalah transisi dari literasi digital dasar menuju literasi bisnis, data, dan teknologi lanjutan,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan agar peningkatan permintaan tidak mengorbankan kualitas dan keaslian proses tenun ikat tradisional.

“Konsistensi kualitas budaya untuk menjaga agar orientasi digital tidak mengorbankan kualitas dan keaslian proses tenun ikat tradisional demi mengejar kuantitas pasar massal,” ujarnya.

Yulita menilai identitas pembuat dan cerita personal juga dapat meningkatkan nilai ekonomi tenun.

“Secara ekonomi, tenun akan berubah dari komoditas umum menjadi produk bernilai tinggi. Konsumen akan bersedia membayar lebih mahal untuk karya seni yang memiliki keaslian, identitas pembuat, dan cerita personal,” jelasnya.

Baca Juga : Menulis Cinta dan Pengabdian Polisi di Pelosok Sumba NTT, Oris Goti Raih Juara II Nasional Kreasi Polri 2026

Peningkatan permintaan terhadap tenun juga dapat memengaruhi pekerjaan lain yang berada di sekitar proses produksi. Jika penenun menerima lebih banyak pesanan, kebutuhan terhadap benang, pewarna alami dan komponen lain ikut bertambah.

Dalam rantai itu terdapat pencari bahan pewarna alami, peracik pewarna, pemintal benang kapas lokal hingga pembuat motif.

Mereka mungkin tidak muncul ketika sebuah siaran langsung berlangsung, tetapi pekerjaan mereka menjadi bagian dari kain yang ditawarkan kepada pembeli.

Ketika Jaringan Menjadi Persoalan

Perjalanan menuju pasar digital belum sepenuhnya mudah. Jaringan internet masih menjadi salah satu kendala bagi penenun di kampung-kampung. Sebagian lainnya belum terbiasa menggunakan media sosial sebagai ruang perdagangan.

Kemampuan menjual melalui media sosial juga tidak berhenti pada mengunggah foto kain. Ada konten yang harus dibuat, produk yang harus dijelaskan, siaran langsung yang harus dilakukan, pertanyaan pembeli yang harus dijawab, pesanan yang harus dicatat dan barang yang harus dikirim.

Semua itu membutuhkan waktu dan keterampilan yang sebelumnya tidak menjadi bagian dari pekerjaan menenun.

Baca Juga : Energi Hijau dari Lahan Transmigrasi Sumba Timur Melalui Pengembangan Pongamia

Apa yang terjadi di Prailiu menunjukkan bahwa kemampuan tersebut bisa tumbuh dari pengalaman. Para penenun melihat orang lain melakukan siaran langsung, mencoba sendiri, merasa canggung, kemudian mencoba kembali.

Tidak semuanya berlangsung melalui pelatihan formal. Mereka belajar sambil menjalankan aktivitas yang sudah mereka lakukan setiap hari. Bedanya, kini ada sebuah layar yang mempertemukan mereka dengan orang-orang di luar kampung.

Media Sosial Bukan Titik Akhir

Media sosial dapat menjadi pintu pengenalan dan pemasaran. Tetapi ketika transaksi mulai bertambah, kebutuhan untuk membangun sistem perdagangan yang lebih kuat ikut muncul.

Penenun membutuhkan ruang untuk membangun pelanggan, mengelola transaksi, menjaga kualitas dan memperkuat posisi dalam perdagangan.

Marketplace khusus kerajinan atau platform kolektif yang dikelola bersama dapat menjadi salah satu kemungkinan. Platform semacam itu dapat membantu mempertemukan produk dengan konsumen sekaligus membuka ruang untuk pengelolaan harga, logistik, pembiayaan mikro dan pelatihan lanjutan.

“Media sosial sangat efektif untuk tahap awal pengenalan, pemasaran dan branding, namun tidak cukup dalam jangka panjang untuk membangun posisi tawar yang kuat,” kata Yulita.

Namun, masuk ke marketplace bukan berarti seluruh persoalan selesai. Penenun tetap membutuhkan kemampuan produksi, pengelolaan usaha, jaringan internet, pengiriman barang dan kelembagaan yang dapat menjaga kepentingan mereka secara bersama-sama.

Dari Prailiu ke Sentra Tenun Lain

Apa yang terjadi di Prailiu dapat menjadi pengalaman bagi sentra-sentra tenun lain di Sumba. Sumba Barat, Sumba Tengah dan Sumba Barat Daya memiliki motif, tradisi dan pengetahuan tenun masing-masing.

Baca Juga : Pemprov Sumatera Barat Akan Kirim 1 Ton Rendang untuk Korban Gempa Flores NTT

Persoalannya adalah bagaimana pengalaman tersebut dapat diterapkan tanpa menghilangkan kekhasan setiap komunitas.

Pendampingan menjadi salah satu hal penting. Digitalisasi tidak cukup hanya dengan mengajarkan cara melakukan siaran langsung, tetapi perlu diikuti penguatan kelembagaan lokal seperti kelompok atau koperasi tenun berbasis komunitas, infrastruktur pendukung dan pengetahuan bisnis.

Ada pula persoalan kualitas budaya yang harus dijaga. Tenun ikat tradisional membutuhkan waktu dan proses yang panjang. Ketika permintaan pasar semakin besar, muncul dorongan untuk menghasilkan lebih banyak kain dalam waktu yang lebih singkat.

Karena itu, pertumbuhan pasar tidak dapat dipisahkan dari kemampuan komunitas mengatur produksinya sendiri.

Kain boleh menjangkau pembeli yang semakin jauh, tetapi proses yang membuat kain itu memiliki identitas tetap harus dijaga.

Ketika Kain Menembus Layar

Kembali ke pondok di bawah pohon beringin itu. Perempuan-perempuan penenun duduk bersama kain dan alat tenun yang sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka.

Di antara aktivitas menenun, sebuah telepon pintar menjadi jendela kecil menuju tempat yang tidak terlihat dari kampung.

Beberapa tahun lalu, pembeli harus datang ke Prailiu untuk melihat kain. Kini, para penenun dapat menyapa calon pembeli dari tempat mereka bekerja. Mereka menunjukkan motif, menjelaskan proses dan, perlahan, memperlihatkan wajah orang yang membuat kain tersebut.

Baca Juga : Olah Pangan Lokal Berbahan Singkong, CD Bethesda YAKKUM Sumba Timur Dorong Ketahanan Pangan

Perubahannya memang dimulai dari benda kecil. Tetapi yang berubah bukan hanya cara kain ditawarkan.

Ada perempuan yang sebelumnya lebih nyaman berada di belakang kamera, kini mulai berbicara sendiri. Ada kain yang sebelumnya menunggu pembeli di pondok, kini diperkenalkan kepada orang yang berada jauh dari Sumba.

Ada pula cerita tentang motif dan proses pembuatan yang ikut berjalan bersama kain ketika layar telepon menyala.

Bagi Yohana, semuanya bermula dari rasa penasaran terhadap benda yang ada di tangannya. Ia melihat telepon pintar sebagai sesuatu yang sederhana, tetapi kemudian menemukan bahwa benda itu dapat membantunya menjual hasil tenun.

Di Prailiu, mereka masih belajar. Jaringan belum selalu tersedia. Tidak semua penenun terbiasa dengan media sosial.

Kemampuan mengelola usaha digital juga masih perlu dibangun. Kini, para penenun dapat membawa kain itu keluar dari kampung tanpa harus meninggalkan alat tenun mereka.

Layar telepon menjadi pintu pertama. Di balik pintu itu ada pasar yang lebih luas, tetapi juga pekerjaan yang lebih besar untuk memastikan siapa yang membuat kain tetap memiliki tempat dalam menentukan harga, menjaga kualitas dan menceritakan makna yang melekat pada setiap motif.

Di pondok itu, sebuah kain kembali dikerjakan dengan tangan. Benang ditata, motif dibentuk dan waktu kembali berjalan seperti biasa.

Hanya saja, kali ini, ketika kain selesai dan kamera dinyalakan, yang menunggu di ujung sana bukan lagi sekadar pembeli yang datang ke kampung, melainkan dunia yang bisa melihatnya dari layar.*

 

ARTIKEL TERKAIT

REKOMENDASI UNTUKMU

ARTIKEL LAINNYA