SUMBATERKINI.COM, Waingapu – Duka akibat gempa Flores ikut dirasakan masyarakat di Sumba Timur. Dari Waingapu, sejumlah komunitas dan organisasi anak muda berhimpun dalam Waingapu Collective untuk menggalang bantuan sekaligus menyampaikan doa bagi masyarakat yang terdampak bencana.
Aksi bertajuk “Doa untuk Flores” di Taman Kota Sandelwood Waingapu, Sabtu (30/8/2026) tersebut digelar Waingapu Collective sebagai bentuk solidaritas masyarakat Sumba Timur terhadap korban gempa Flores.
Pemuda, anggota komunitas, tokoh agama lintas iman hingga perwakilan Pemerintah Kabupaten Sumba Timur hadir dalam kegiatan tersebut. Mereka berkumpul dalam satu ruang, membawa keyakinan masing-masing dan doa yang sama untuk keselamatan serta pemulihan masyarakat terdampak bencana.
Waingapu Collective merupakan ruang kolaborasi yang mempertemukan sejumlah organisasi dan komunitas di Sumba Timur.
Baca Juga : Waingapu Collective Galang Donasi untuk Korban Gempa Flores, Bangun Kesadaran Kesiapsiagaan Bencana

Gerakan ini melibatkan Ana Humba Community, Menyapa Sumba, Koalisi KOPI Waingapu, PMKRI Cabang Waingapu, PERMASTI, Sinema Rakyat, Waingapu Retroverso dan Media Sumba Terkini.
Koordinator Waingapu Collective, Antonia Maria Oy atau Nia Oy, mengatakan kegiatan tersebut lahir dari rasa persaudaraan terhadap masyarakat Flores. “Doa untuk Flores ini adalah wujud nyata rasa persaudaraan dan solidaritas kami untuk saudara-saudari di Pulau Flores yang terdampak bencana,” ujar Nia.
Gerakan solidaritas itu sebelumnya telah dimulai melalui penggalangan donasi. Sejak 25 Agustus 2026, Waingapu Collective membuka lapak kopi “Bayar Seikhlasnya” di Taman Hiburan Rakyat (THR) Swembak, Matawai, Kota Waingapu.
Dari kegiatan tersebut, dana yang terkumpul mencapai Rp6.689.000. Donasi itu nantinya disalurkan untuk membantu masyarakat yang terdampak gempa Flores.
Baca Juga : Ketika Penenun Sumba Tak Lagi Bersembunyi, Kain Menembus Layar

Waingapu Collective tidak ingin bantuan disalurkan secara sembarangan. Jaringan komunitas yang berada di wilayah terdampak melakukan pendataan untuk mengetahui kebutuhan masyarakat di lapangan.
Data tersebut akan menjadi dasar dalam menentukan lokasi dan bentuk bantuan yang akan disalurkan.
Bagi Waingapu Collective, aksi ini bukan hanya tentang mengumpulkan bantuan. Gempa Flores juga menjadi pengingat bagi masyarakat Sumba tentang pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana.
Gempa berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026 turut dirasakan hingga Sumba. Peristiwa itu mengingatkan kembali bahwa wilayah Nusa Tenggara memiliki pengalaman panjang menghadapi bencana.

Nia mengatakan masyarakat perlu belajar dari pengalaman tersebut, termasuk gempa besar yang pernah terjadi di Sumba pada 1977 serta bencana Seroja pada 2021.
“Ini menjadi catatan penting, pentingnya ada kesiapan, mitigasi dan lainnya dalam menghadapi gempa bumi. Ini PR bagi pemerintah, semua pihak terkait dan masyarakat itu sendiri,” katanya.
Karena itu, Waingapu Collective berharap ruang kolaborasi yang terbentuk tidak berhenti ketika masa tanggap bencana selesai. “Harapannya, ruang ini tidak sebatas tanggap bencana saja, tapi juga ruang kumpul yang mempertemukan orang muda Sumba Timur,” ujar Nia.
Malam itu, penyalaan lilin menjadi penutup kegiatan. Cahaya-cahaya kecil tersebut menyala bersama, membawa pesan sederhana dari Waingapu: masyarakat Flores tidak sendirian menghadapi masa pemulihan.*