SUMBATERKINI.COM, Waingapu – Sidang Sinode Gereja Kristen Sumba (GKS) ke-44 resmi menetapkan Pendeta Yakub Malo Bili sebagai Ketua Umum Sinode GKS periode 2026 – 2031 melalui pemilihan yang berlangsung pada Kamis (9/7/2026).
Usai terpilih, Pendeta Yakub Malo Bili berbincang secara langsung dengan Sumba Terkini mengenai arah kepemimpinannya selama lima tahun ke depan, mulai dari isu lingkungan, keadilan, pemberdayaan ekonomi jemaat, hingga penguatan generasi muda. Berikut petikan wawancara eksklusif tersebut.
Selamat atas kepercayaan yang diberikan. Apa makna terpilihnya Bapak sebagai Ketua Umum Sinode GKS?
“Saya mengucap syukur kepada Tuhan karena pada momentum Sidang Sinode GKS ke-44 ini saya dipercaya menjadi Ketua Umum Sinode GKS periode 2026–2031.
Kepercayaan ini adalah amanat yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab bersama seluruh Badan Pekerja Majelis Sinode yang telah terpilih”.
Apa yang akan menjadi arah utama kepemimpinan Sinode GKS lima tahun ke depan?
“Kami terpilih di bawah bingkai tema “Merawat Kehidupan dalam Kasih Kristus.” Tema ini akan menjadi arah kepemimpinan kami bersama seluruh BPMS selama satu periode. Tema ini juga menjadi dasar dalam menentukan prioritas pelayanan yang akan kami kerjakan”.
Tantangan apa yang paling besar dihadapi gereja saat ini?
“Kepemimpinan mana pun, termasuk di gereja, akan berhadapan dengan banyak tantangan. Kami melihat dampak kemajuan dunia, kecanggihan teknologi, degradasi moral, hingga ancaman terhadap ekologi dan lingkungan hidup sebagai tantangan yang harus direspons secara serius”.
Bagaimana GKS akan menjawab persoalan lingkungan hidup?
“Kami akan terus memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan serta bahaya yang timbul apabila lingkungan dirusak.
Melalui tema ini, seluruh gerak pelayanan gereja akan mengajak warga untuk menghijaukan bumi, merawat lingkungan, dan merawat ibu kehidupan”.
Bagaimana sikap gereja terhadap isu keadilan dan kebenaran?
“Keadilan dan kebenaran adalah suara yang harus terus diserukan gereja. Dalam berbagai kesempatan, gereja akan tampil dan bersuara secara tegas, baik di ruang-ruang pribadi maupun terutama di ruang-ruang publik”.
Program apa yang menjadi prioritas bagi warga gereja?
“Kami akan mendampingi gereja dan terutama warga jemaat dalam menghadapi persoalan kemiskinan, pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan.
Upaya itu dilakukan melalui pemberdayaan ekonomi jemaat serta memaksimalkan kemitraan dengan berbagai mitra Sinode GKS, khususnya pemerintah,”
Bagaimana perhatian Sinode GKS terhadap generasi muda?
“Tidak ada strategi yang benar-benar sempurna. Yang paling penting adalah membangun kesadaran generasi muda GKS tentang arti kebersamaan, kolaborasi, dan pentingnya memahami sejarah gereja.
Anak-anak muda harus didorong mengambil bagian dalam pelayanan. Kami juga akan membangun kolaborasi dengan organisasi Cipayung agar pelayanan gereja semakin dekat dengan masyarakat dan menyentuh langsung kehidupan berjemaat”.
Bagaimana komitmen Bapak terhadap tata kelola organisasi Sinode GKS?
“Komitmen kami adalah menata seluruh bagian penting dalam kehidupan lembaga Sinode GKS, mulai dari tingkat sinode, klasis, hingga jemaat, sehingga pelayanan semakin tertata dan berjalan efektif”.
Bagaimana hubungan yang akan dibangun dengan pemerintah?
“Bagi kami, pemerintah dan gereja melayani orang yang sama, hanya penyebutannya berbeda. Pemerintah menyebutnya rakyat, sedangkan gereja menyebutnya warga jemaat.
Namun yang dilayani adalah orang yang sama. Karena itu, tujuan pemerintah dan gereja pada dasarnya sama, yakni menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat di tanah Sumba. Kami ingin terus membangun relasi yang baik dan memperkuat kemitraan dengan pemerintah”.
Apa pesan Bapak kepada seluruh pendeta, majelis, dan warga GKS setelah Sidang Sinode ke-44?
“Harapan kami kepada seluruh pendeta, majelis, dan warga gereja adalah membingkai seluruh pelayanan melalui tema Sidang Sinode ke-44, yaitu “Merawat Kehidupan dalam Kasih Kristus.”
Saya juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah menyukseskan persidangan ini, mulai dari panitia, BPMJ GKS Gongi, Klasis Mahu Karera, Pemerintah Kabupaten Sumba Timur.
Juga Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur, GMKI, GAMKI, hingga seluruh relawan yang telah bekerja dari depan sampai belakang. Tuhan menghitung setiap jerih payah kita dan kiranya memberkati setiap pelayanan yang dilakukan. Shalom”.
Pergumulan Sinode GKS
Sidang Sinode GKS ke-44 mengusung tema “Merawat Kehidupan dalam Kasih Kristus” dengan subtema “Merawat Bumi Sebagai Rumah Bersama, Memperjuangkan Keadilan dan Kebenaran serta Meneguhkan Nilai-nilai Budaya dalam Terang Injil.”
Tema tersebut lahir dari pergumulan nyata yang dihadapi Gereja Kristen Sumba dan masyarakat Sumba.
Berbagai persoalan menjadi perhatian gereja, mulai dari kerusakan lingkungan, perubahan iklim, degradasi moral, kemiskinan, tantangan di bidang pendidikan dan kesehatan, hingga dampak perkembangan teknologi terhadap kehidupan sosial maupun spiritual masyarakat.
Baca Juga : Sidang Sinode ke-44 GKS, Pergumulan di Balik Tema Merawat Kehidupan dalam Kasih Kristus
Melalui tema tersebut, GKS diharapkan tidak hanya berfokus pada pelayanan internal gereja, tetapi juga semakin hadir menjawab berbagai persoalan masyarakat melalui pendidikan, pemberdayaan ekonomi jemaat, advokasi keadilan, pelestarian lingkungan, serta penguatan peran generasi muda.
Arah pelayanan itu sejalan dengan komitmen yang disampaikan Pendeta Yakub Malo Bili dalam wawancara eksklusif bersama SUMBATERKINI.COM. Ia menegaskan bahwa tema Sidang Sinode GKS ke-44 akan menjadi landasan pelayanan GKS selama periode 2026–2031.
Menurutnya, pemberdayaan jemaat, pelestarian lingkungan, pembinaan generasi muda, serta penguatan kemitraan dengan pemerintah akan menjadi bagian penting dari pelayanan gereja dalam menjawab kebutuhan masyarakat Sumba.*