Lompat ke konten utama

Sumba Terkini

Sumba Timur

Mencari Lauk di Tengah Ekosistem Pesisir Waingapu yang Mulai Tergerus Sampah

CARI LAUK - Seorang ibu paruh baya duduk di atas pasir yang masih berair di pesisir Pamalala, Kelurahan Kamalaputi, Kota Waingapu, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (19/9/2026). (Foto : Sumba Terkini).

SUMBATERKINI.COM, Waingapu – Seorang ibu paruh baya duduk di atas pasir yang masih berair di pesisir Pamalala, Kelurahan Kamalaputi, Kota Waingapu, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Sebuah wadah jerigen bekas disilang di punggungnya seperti tas selempang. Dengan jemari yang mulai keriput, ia mengais-ngais pasir hingga membentuk kolam kecil.

Tak lama kemudian, wajahnya sumringah. Tangannya ditarik dari dalam kolam kecil itu.

“Ini dapat satu,” kata Kahi Leba, sembari menunjukkan seekor kepiting berukuran sedang yang kemudian dimasukkannya ke dalam wadah jerigen.

Tak hanya kepiting. Dari kawasan pesisir itu, ia juga mendapatkan ikan dan udang. “Ini ada ikan, udang, kepiting,” ujarnya Kahi Leba, sembari menunjukan hasil tangkapanpannya.

Baca Juga : Kawasan Konservasi Sumba Hanya 8 Persen, Tambang Emas Ilegal Jadi Alarm untuk Generasi Muda

Hasil laut itu menjadi pilihan pangan bagi keluarganya. Jika membeli di pasar, harga ikan, kepiting ataupun udang berkisar Rp20.000 ke atas. Bahkan, harga Rp20.000 mulai jarang ditemukan.

Jumlah hasil tangkapan juga tidak selalu sama. Kadang banyak, kadang sedikit. Saat mengais pasir, ia tak jarang menemukan sampah yang ikut terbenam di dalamnya.

Kondisi pantai pun menurutnya tidak selalu sama. Kadang bersih, tetapi pada waktu lain terlihat kotor.

Bagi Kahi Leba, mendapatkan kepiting, ikan atau udang berarti membawa pulang lauk untuk keluarganya. “Senang kalo dapat di rumah kita bisa makan dengan nasi,” kata dia.

Tak jauh dari tempat Kalileba mencari kepiting, beberapa pria paruh baya juga mencoba peruntungan dengan menebar jala ketika air laut sedang surut.

Baca Juga : Bekas Tebangan dan Sampah di Pesisir Waingapu Jadi Warning bagi Kaum Muda di Hari Keadilan Ekologis

Sekitar 50 hingga 100 meter dari lokasi itu, berjejer pohon-pohon mangrove. Dari dekat, kawasan tersebut memperlihatkan kondisi yang berbeda. Akar-akar mangrove tampak dipenuhi sampah plastik. Sebagian lainnya terbenam di lumpur.

Di antara pepohonan itu juga terlihat bekas tebangan. Beberapa pohon lainnya tampak kering dan mulai layu.

Pemandangan warga beraktivitas di pesisir pada musim-musim tertentu bukanlah hal baru. Ketika air laut surut, warga datang mencari hasil laut untuk kebutuhan pangan keluarga.

Pada malam hari, cahaya senter bahkan terlihat di sejumlah titik pesisir. Warga mengais hasil laut pada malam hari. Di Sumba Timur, aktivitas tersebut dikenal dengan kebiasaan atau tradisi suluh.

Bagi sebagian warga, pesisir menjadi tempat mencari penghidupan sekaligus sumber pangan. Namun pada pagi yang sama, sekelompok anak muda datang dengan tujuan berbeda.

Baca Juga : Sempat Ditangkap Warga, Oknum Polisi di Sumba Timur Resmi Jadi Tersangka Kasus Pencurian Sapi

Mereka tidak datang untuk mengambil hasil laut, tetapi untuk membersihkan kawasan dan menanam kembali mangrove.

Jesinda Lobo, pelajar SMA Negeri 1 Waingapu, termasuk di antara mereka. Ia datang ke pesisir Pamalala untuk mengikuti kegiatan penanaman mangrove pagi itu.

Namun sebelum menanam anakan bakau, perhatian Jesika lebih dulu tertuju pada kondisi kawasan pesisir. Ia melihat sampah berserakan di sekitar kawasan mangrove. Beberapa pohon juga tampak layu dan mengering. Pada sejumlah pangkal pohon terlihat bekas tebangan.

Pemandangan itu membuatnya prihatin. Bersama peserta lainnya, Jesinda kemudian ikut membersihkan kawasan tersebut sebelum menanam mangrove.

“Saya senang kak, bisa ikut ini kegiatan. Tadi kami datang lihat ini sampah banyak, kami kasi bersih,” kata Jesinda Lobo . Menurut Jesika, orang selama ini cenderung datang untuk menikmati alam, tetapi lupa bahwa alam juga perlu dirawat.

Baca Juga : Berkah dari Dinding Bukit, Air Bersih Masih Jadi Soal Klasik di Sumba

“Setelah saya lihat banyak sampah di sini yah saya berharap warga sekitar atau siapapun tidak boleh buang sampah sembarangan,” ujarnya.

Sampah plastik menjadi jenis sampah yang paling banyak ditemukan Jesika di kawasan tersebut. “Sampah-sampah yang paling banyak saya temukan di sini adalah sampah-sampah plastik,” katanya.

Bagi Jesinda, pengalaman tersebut membuat kegiatan di luar kelas memiliki makna berbeda. Ia menjadi lebih peka melihat kondisi lingkungan di sekitarnya.

Pagi itu, air laut terus surut di pesisir Pamalala. Sejumlah nelayan tradisional masih sibuk dengan aktivitasnya.

Ada yang membersihkan perahu dari tiram yang menempel. Kaum ibu mencari kepiting dan ikan-ikan kecil di antara bebatuan serta rerumputan laut. Beberapa nelayan lainnya memilih menebar jala. Mereka memanfaatkan waktu ketika air laut surut untuk mencari hasil laut.

Baca Juga : Ungkap Emas Ilegal, Peduli Korban Kekerasan Hingga Respons Gempa, Catatan Sebulan AKBP I Kadek Hery Cahyadi di Sumba Timur

Di tengah aktivitas warga itu, ratusan peserta mulai bergerak membersihkan kawasan pesisir sebelum melakukan penanaman.

Pelajar, mahasiswa, komunitas, pemerhati lingkungan dan perwakilan lintas instansi bersama-sama menanam lebih dari 500 anakan mangrove di pesisir Pamalala.

Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 07.00 Wita itu menjadi bagian dari peringatan pertama Hari Keadilan Ekologis Nasional.

Hari Keadilan Ekologis dicetuskan di Kota Waingapu, Sumba Timur, bertepatan dengan Pertemuan Nasional Lingkungan Hidup (PNLH) Walhi pada 20 September 2025.

Ketua panitia kegiatan, Erwin Umbu Hamandika, mengatakan penanaman mangrove kali ini bukan sekadar kegiatan seremonial. “Anakan mangrove yang kami tanam ini diambil dari kelompok mangrove yang ada di Padadita,” ujar Erwin.

Baca Juga : Rentenir Berkedok Koperasi Harian Kejar Korban Gempa Flores, Presiden Prabowo Minta Menghadap Kapolda dan Pangdam

Menurut dia, kegiatan tersebut merupakan bagian dari gerakan yang akan terus berlanjut.

Peringatan perdana Hari Keadilan Ekologis mengangkat tema ‘Dari Tapak untuk Keadilan Ekologis Antargenerasi’.

Erwin mengatakan pemilihan kata ‘tapak’ berkaitan dengan kehidupan masyarakat yang setiap hari berhadapan langsung dengan alam, terutama petani dan nelayan.

“Kenapa tapak dipilih sebagai tema, karena tapak itu adalah tentang rekam jejak para petani, nelayan dan saudara-saudari kita yang menjaga keberlanjutan alam,” ujarnya.

Dari tapak itulah, kata Erwin, suara masyarakat perlu menjadi bagian dalam menentukan bagaimana sumber daya alam dikelola.

Baca Juga : BMKG Ingatkan Potensi Banjir Rob di NTT, Pesisir Sumba Berpotensi Terdampak 26 – 30 Agustus 2026

Sebab bagi masyarakat Sumba, alam bukan sekadar ruang hidup. Alam juga menjadi tempat menggantungkan penghidupan. Perubahan iklim, menurut Erwin, kini semakin nyata dirasakan masyarakat, termasuk melalui perubahan dinamika musim.

Pada saat yang sama, sebagian besar masyarakat masih menggantungkan kehidupan pada sektor pertanian dan perikanan.

Karena itu, menjaga lingkungan juga berkaitan dengan kehidupan ekonomi masyarakat sekaligus upaya mengurangi risiko abrasi dan bencana hidrometeorologi lainnya.

Persoalan lingkungan di pesisir tidak berhenti pada perubahan iklim. Sampah yang dibuang sembarangan dapat berakhir di pesisir dan kawasan mangrove.

Kondisi itu menjadi semakin penting karena di kawasan yang sama warga masih mencari ikan, udang dan kepiting untuk dibawa pulang sebagai sumber pangan keluarga.

Bagi Erwin, kondisi tersebut menjadi salah satu alasan mengapa Hari Keadilan Ekologis lahir dari Sumba. Menurutnya, ada kesadaran kritis bahwa pembangunan yang hanya melihat alam sebagai komoditas pada akhirnya dapat merugikan masyarakat sendiri.

Baca Juga : Di Kaki Matayangu Sumba Tengah, Ilalang Topang Ekonomi Warga Manurara

Paradigma pembangunan yang hanya menitikberatkan pada pemenuhan kebutuhan manusia dan pertumbuhan ekonomi, kata dia, dapat mengabaikan keberlanjutan ekologis.

“Cara pandang ini juga kerap mengabaikan hak asasi manusia, terutama marginalisasi, diskriminasi, eksploitasi hingga kriminalisasi terhadap masyarakat adat, petani, nelayan dan kelompok marginal,” ungkapnya.

Menjelang akhir kegiatan, sebuah spanduk sepanjang lebih dari 50 meter dibentangkan di kawasan pesisir. Tulisan ‘World Ecological Day, Sumba Island Indonesia’ terbentang di antara para peserta.

Pagi itu, pesisir Pamalala memperlihatkan dua aktivitas yang berjalan bersamaan.

Warga masih mencari ikan, udang dan kepiting untuk dibawa pulang sebagai pangan keluarga. Di tempat yang sama, anak-anak muda membersihkan kawasan dan menanam lebih dari 500 anakan mangrove.

Di antara keduanya, kondisi pesisir menjadi pengingat bahwa sumber pangan masyarakat juga bergantung pada lingkungan yang mereka tinggali.

Rangkaian peringatan Hari Keadilan Ekologis akan dilanjutkan Minggu (20/9/2026), tepat pada hari yang ditetapkan tersebut, melalui nonton bareng film Benteng Hijau Watumbaka, diskusi dan deklarasi.*

ARTIKEL TERKAIT

REKOMENDASI UNTUKMU

ARTIKEL LAINNYA