SUMBATERKINI.COM, Waingapu – Jalan menuju Desa Wanggameti, Kecamatan Matawai La Pawu, Kabupaten Sumba Timur, membawa para relawan menyusuri wilayah yang berada di sekitar kawasan hutan konservasi.
Di desa itu, mereka bertemu warga, mendengar cerita tentang kehidupan dan budaya setempat, memberikan pelayanan kesehatan, kemudian melangkah menyusuri kawasan hutan.
Wanggameti merupakan bagian dari kawasan Taman Nasional Laiwangi Wanggameti.
Kawasan ini menjadi salah satu wilayah penting bagi kehidupan di Sumba Timur karena berada di kawasan hulu sejumlah sungai besar yang mengalir dan menopang kehidupan masyarakat di wilayah lain.
Baca Juga : Jelang Sinode GKS ke-44, GAMKI Sumba Timur Dorong Suara Kritis Gereja Soal Isu Lingkungan

Masyarakat yang hidup di sekitar kawasan tersebut berada paling dekat dengan hutan. Dalam kesehariannya, mereka juga menjadi penjaga terdepan lingkungan Wanggameti.
Kegiatan “Jejak Wanggameti” digelar Klinik Pratama Sumba Medika bersama Menyapa Sumba, Sumba Volunteer, dan Koalisi Kopi Waingapu pada 22 – 23 Agustus 2026.
Selama dua hari, pelayanan kesehatan menjadi bagian awal kegiatan. Warga mendapat pemeriksaan kesehatan umum di Kantor Desa Wanggameti.
Sementara anak-anak SD Laironja mendapat pemeriksaan gigi dan mulut sekaligus edukasi kesehatan.
Baca Juga : Warga Kiritana Sumba Timur Bergantung pada Satu Perahu

Bagi tim, mendatangi langsung warga menjadi penting karena akses pelayanan kesehatan di wilayah tersebut tidak selalu mudah.
Ketua Panitia Pelaksana, Renilda, mengatakan kondisi geografis menjadi salah satu alasan mereka membawa pelayanan lebih dekat kepada masyarakat.
“Jarak yang cukup jauh dan akses yang tidak selalu mudah membuat sebagian masyarakat kesulitan untuk mendapatkan pemeriksaan kesehatan,” imbuhnya.
Karena itu, kami datang untuk mendengarkan keluhan, melakukan pemeriksaan sederhana, dan berbagi informasi kesehatan,” jelasnya.
Baca Juga : Tips Berwisata ke Air Terjun Matayangu, Menemukan Harmoni di Balik Keindahan Alam Sumba

Para relawan kemudian membagi diri dalam beberapa kelompok untuk menelusuri kampung. Mereka berbincang dengan tokoh masyarakat adat dan menggali cerita tentang nilai-nilai budaya yang masih hidup dalam keseharian warga.
Dari percakapan itu, para relawan belajar bahwa pengetahuan tentang lingkungan juga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dan terus diwariskan.
“Lebih dari itu, kami juga mau belajar dari masyarakat tentang nilai-nilai budaya yang mereka terapkan di kehidupan mereka sehari-hari dan pengetahuan yang diregenerasikan untuk terus menjaga lingkungan dan tempat mereka hidup,” tambah Renilda.
Bagi dr. Stefanus Raditya Purba, Direktur Klinik Pratama Sumba Medika sekaligus penggagas kegiatan, kesehatan tidak dapat dipisahkan dari lingkungan dan budaya tempat masyarakat hidup.
Baca Juga : Pemkab Sumba Timur Dukung Kawan Sehat, Perkuat Layanan Kesehatan Wilayah Pelosok

“Melalui kegiatan ini, diharapkan tumbuh kesadaran bersama bahwa menjaga kesehatan, melestarikan budaya, dan merawat alam merupakan hal yang saling terkait dan tidak terpisahkan dalam mewujudkan masyarakat yang sehat secara berkelanjutan,” ujar Stefanus.
Pada hari kedua, perjalanan berlanjut ke kawasan konservasi Taman Nasional Laiwangi Wanggameti. Para peserta menyusuri hutan sebelum melakukan aksi penanaman pohon.
Kegiatan tersebut mendapat apresiasi dari PEH Muda pada TN Matalawa, Arifson RM. Sianturi, S.Hut. Menurutnya, keterlibatan anak muda menjadi penting ketika kawasan alam menghadapi berbagai ancaman.
“Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada tim Sumba Medika beserta berbagai komunitas pemuda yang berkunjung ke Wanggameti, yang merupakan wujud kepedulian generasi muda Sumba terhadap kelestarian lingkungannya yang saat ini mengalami berbagai ancaman,” kata Arifson.
Baca Juga : Wawancara Eksklusif : Pendeta Yakub Malo Bili Usai Terpilih Sebagai Ketua Sinode GKS 2026 – 2031

Ia mengingatkan bahwa menjaga hutan bukan hanya menjadi pekerjaan pemerintah.
“Tanggung jawab pengelolaan hutan bukan semata tanggung jawab pemerintah, namun semua elemen masyarakat,” tegasnya.
Bagi warga Wanggameti, kedatangan para relawan juga meninggalkan kesan tersendiri.
Kepala Desa Wanggameti, Elis L. Radjah, menyebut kegiatan tersebut memberi dampak bagi masyarakat dan berharap dapat kembali dilaksanakan.
“Kegiatan kemarin sangat bagus dan juga berdampak bagi masyarakat. Harapannya ke depan kalau masih ada waktu bisa dilakukan lagi,” tutur Elis.*