SUMBATERKINI.COM, Waingapu – Alunan qasidah terdengar di Gedung Nasional Kota Waingapu, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (22/8/2026).
Di tempat itu, untuk pertama kalinya Badan Kontak Majelis Taklim Kabupaten Sumba Timur menggelar Lomba Qasidah Majelis Taklim se-Sumba Timur dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah/2026 Masehi.
Sebanyak 18 grup dari berbagai majelis taklim ambil bagian dalam kegiatan yang berlangsung selama dua hari, hingga Minggu (23/8/2026).
Lomba ini mengangkat tema “Untaian Cinta dan Teladan Akhlak Membangun Peradaban Penuh Berkah.”
Baca Juga : Relawan Ahmad Zaki Ali Meninggal Saat Misi Gempa Flores, Jenazah Dievakuasi Helikopter Basarnas

Namun, kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi panggung untuk menunjukkan kemampuan seni. Di balik lantunan lagu dan penampilan peserta, terselip pesan tentang dakwah, kebersamaan, sekaligus kepedulian terhadap sesama.
Ketua Badan Kontak Majelis Taklim Kabupaten Sumba Timur, Nur Aydah, mengatakan kegiatan perdana ini menjadi ruang bagi kaum ibu dan remaja majelis taklim untuk mengembangkan bakat dan minat mereka.
Di saat yang sama, seni qasidah digunakan sebagai media untuk menyampaikan nilai-nilai dakwah Islam dalam kehidupan sehari-hari.
“Yah ini menjadi ruang bagi mereka untuk kembangkan bakat, minat sekaligus untuk dakwah Islam melalui seni,” ujarnya.
Baca Juga : Polisi Yanrus Pake Latih Pelajar dan Guru di Tanambanas Sumba Hadapi Situasi Darurat Gempa Bumi

Antusiasme peserta juga terlihat dari keterlibatan majelis taklim dari sejumlah wilayah di Sumba Timur.
Bahkan, peserta dari luar kota turut hadir, meski sebagian lainnya tidak dapat mengikuti kegiatan karena kendala waktu dan akses, termasuk dari Pulau Salura.
Di tengah semarak perlombaan, perhatian peserta juga diarahkan kepada warga yang terdampak gempa bumi Flores.
Panitia bersama peserta menggalang bantuan dana sebagai bentuk solidaritas. Aksi tersebut juga melibatkan pelajar dari SMP dan SMA Muhammadiyah.
Baca Juga : Pacuan Kuda Humba Cup IV Dimulai, Bernuansa Budaya dan Kemanusiaan untuk Korban Gempa Flores

“Ini juga jadi perhatian kami, kami berempati dengan saudari dan saudara di Flores yang tertimpa bencana. Kita kolaborasi dengan SMP dan SMA Muhammadiyah,” kata Nur Aydah.
Bagi Nur Aydah, kepedulian itu menjadi bagian penting dari semangat kegiatan. Sebab, memperingati Maulid Nabi tidak hanya tentang mengenang keteladanan Rasulullah SAW, tetapi juga menerjemahkan nilai kasih sayang dan kepedulian dalam kehidupan nyata.
Ia berharap semangat dan antusiasme yang muncul dalam kegiatan perdana ini dapat menjadi pijakan untuk menghadirkan kegiatan serupa pada tahun-tahun berikutnya.
“Dengan kegiatan seperti ini juga kami sangat berharap mereka ini kemudian bisa terlibat dalam event-event keagamaan yang lain,” ungkapnya.
Baca Juga : Menulis Cinta dan Pengabdian Polisi di Pelosok Sumba NTT, Oris Goti Raih Juara II Nasional Kreasi Polri 2026

Menurutnya, semakin banyak ruang bagi majelis taklim dan generasi muda untuk terlibat dalam kegiatan keagamaan, semakin besar pula kesempatan untuk memperkuat kebersamaan di tengah masyarakat.
Dari panggung qasidah di Gedung Nasional Waingapu, pesan itu pun menemukan bentuknya.
Seni menjadi jalan dakwah, peringatan Maulid menjadi ruang mempererat persaudaraan, dan kepedulian kepada korban bencana menjadi wujud nyata dari nilai kemanusiaan.
Kegiatan tersebut sekaligus memperkaya keberagaman dan mempererat persatuan masyarakat Sumba Timur.*