Lompat ke konten utama

Sumba Terkini

Sumba Timur

Tekan Kemiskinan Sumba Timur, Pembangunan Harus Sesuai Karakter Ekologis Daerah

SESUAI KARAKTER - Akademisi dan pemerhati sosial ekonomi, Dr. Stepanus Makambombu, saat diwawancarai Sumba Terkini, Sabtu (15/8/2026). (Foto : Sumba Terkini).

SUMBATERKINI.COM, Waingapu – Upaya menekan kemiskinan di Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, dinilai tidak cukup hanya dengan meningkatkan pertumbuhan ekonomi atau memperluas bantuan kepada masyarakat.

Pembangunan perlu disusun dengan memahami karakter ekologis daerah serta sumber penghidupan masyarakat yang selama ini menjadi penopang kehidupan mereka.

Akademisi dan pemerhati sosial ekonomi, Dr. Stepanus Makambombu, kepada Sumba Terkini, Sabtu (15/8/2026) mengatakan karakter ekologis Sumba Timur semestinya menjadi salah satu dasar dalam menentukan arah pembangunan, termasuk dalam membangun sektor pertanian sebagai sumber penghidupan sebagian besar masyarakat.

Pandangan itu menjadi penting di tengah masih tingginya angka kemiskinan di Sumba Timur. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka kemiskinan Sumba Timur pada 2025 sebesar 25,64 persen atau sekitar 70,35 ribu penduduk.

Angka tersebut memang mengalami penurunan. Namun, menurut Stepanus, tantangan berikutnya adalah memastikan masyarakat memiliki sumber pendapatan yang semakin kuat sehingga tidak mudah kembali berada dalam kondisi rentan.

Dalam konteks itu, ia melihat pembangunan ekonomi Sumba Timur tidak bisa dilepaskan dari kondisi ekologis daerah yang sebagian besar memiliki karakter lahan kering, sabana dan curah hujan yang terbatas.

Baca Juga : Warga Kiritana Sumba Timur Bergantung pada Satu Perahu

Menurut Stepanus, selama ini pembangunan pertanian terlalu banyak menggunakan cara pandang wilayah lahan basah, terutama melalui pengembangan sawah dan irigasi.

Padahal, kondisi Sumba Timur memiliki karakter yang berbeda. “Masalahnya sekarang kita bilang irigasi, produktivitas kita tidak sama dengan Jawa. Kenapa? Karena cara berpikir kita lahan basah, padahal kita sebenarnya lahan kering,” kata Stepanus.

Menurut dia, pembangunan irigasi tetap penting. Namun, pengembangan pertanian tidak seharusnya membuat masyarakat meninggalkan potensi lahan kering yang justru sesuai dengan karakter ekologis Sumba Timur.

Ia mencontohkan, ketika jaringan irigasi dibangun di suatu wilayah, masyarakat kemudian cenderung beralih ke sawah dan meninggalkan kebun atau lahan kering yang sebelumnya menjadi bagian dari sumber pangan.

Padahal, menurut Stepanus, lahan kering memiliki kemampuan menghasilkan berbagai jenis pangan yang lebih adaptif terhadap kondisi kekeringan.

“Lahan kering ini adalah yang memproduksi pangan-pangan yang adaptif dengan situasi kekeringan kita,” ujarnya.

Baca Juga : Kemiskinan Turun Jadi 25,64 Persen, Pemkab Sumba Timur Perkuat Sumber Penghidupan Masyarakat Pertanian Hingga UMKM

Filosofi Bertani yang Berangkat dari Ekologi

Bagi Stepanus, kondisi tersebut sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya baru bagi masyarakat Sumba. Ia melihat masyarakat sejak dahulu telah memiliki cara beradaptasi dengan lingkungan melalui pola tanam yang beragam.

“Dulu sebenarnya ada filosofi masyarakat Sumba dengan ekologi sabana, masyarakat harus menanam beragam karena curah hujan rendah. Makanya harus menanam beragam,” katanya.

Menurut dia, pola tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Sumba sejak dahulu memahami keterbatasan lingkungan tempat mereka hidup. “Nenek moyang sudah sangat adaptasi sehingga mereka melakukan penganekaragaman menanam pangan,” ujarnya.

Karena itu, menurut Stepanus, pembangunan pertanian tidak harus selalu diarahkan pada satu pola produksi. Padi tetap penting, tetapi ketahanan pangan masyarakat akan lebih kuat apabila ditopang oleh beragam sumber pangan yang sesuai dengan kondisi lingkungan.

Ketergantungan yang terlalu besar pada beras juga dapat meningkatkan kerentanan ketika produksi padi terganggu akibat kekeringan. Dalam konteks ekonomi, keanekaragaman pangan juga memiliki fungsi lebih luas.

Tanaman yang mampu tumbuh dalam kondisi kering bukan hanya dapat memenuhi kebutuhan rumah tangga, tetapi berpotensi menjadi sumber pendapatan apabila diolah dan memiliki akses pasar.

Baca Juga : BPS Catat Pertanian, Pariwisata dan Investasi Jadi Andalan Menekan Kemiskinan Sumba Timur

Namun, menurut Stepanus, pengembangan pangan lokal tidak cukup berhenti pada kegiatan menanam. Pangan lokal juga perlu diolah dan dikembangkan agar sesuai dengan selera masyarakat saat ini.

“Bagaimana memproduksi pangan lokal yang enak dimakan, kan masalah lidah juga orang sebenarnya,” katanya. Dengan demikian, diversifikasi pangan tidak hanya berbicara mengenai jenis tanaman, tetapi juga menyangkut inovasi, nilai tambah dan kemampuan produk lokal masuk ke pasar.

Pertanian Harus Menghasilkan Pendapatan Lebih Baik

Persoalan tersebut berkaitan langsung dengan upaya mengurangi kemiskinan. Data BPS menunjukkan sektor pertanian, kehutanan dan perikanan masih menyerap sekitar separuh tenaga kerja di Sumba Timur.

Artinya, pertanian memiliki posisi strategis dalam struktur ekonomi masyarakat. Namun, menurut Stepanus, banyaknya masyarakat yang bekerja di sektor tersebut belum otomatis menunjukkan bahwa pendapatan mereka sudah kuat.

Persoalannya adalah seberapa besar nilai ekonomi yang mampu dihasilkan dari pekerjaan tersebut. Masih banyak masyarakat yang bekerja dalam lingkup usaha keluarga dengan produktivitas dan pendapatan terbatas.

Karena itu, pembangunan pertanian menurut dia perlu diarahkan bukan sekadar meningkatkan produksi, tetapi juga meningkatkan nilai tambah.

Baca Juga : Tips Berwisata ke Air Terjun Tanggedu, 244 Anak Tangga yang Wajib Anda Taklukkan

Petani membutuhkan pengetahuan, teknologi, pengolahan hasil, akses permodalan dan pasar agar hasil pertanian tidak berhenti sebagai komoditas mentah dengan nilai ekonomi rendah. Dengan cara itu, pekerjaan yang selama ini dilakukan masyarakat dapat memberikan pendapatan yang lebih baik.

Jika sebagian kebutuhan pangan dapat dipenuhi dari hasil kebun sendiri, pengeluaran rumah tangga dapat ditekan. Sementara produksi yang berlebih dapat diolah dan dijual untuk menghasilkan pendapatan. Di sinilah pertanian dapat menjadi bagian dari strategi pengurangan kemiskinan.

Keterampilan Menentukan Posisi Masyarakat

Pembangunan ekonomi, kata Stepanus, juga tidak dapat dipisahkan dari kualitas sumber daya manusia. Menurut dia, rendahnya keterampilan membuat masyarakat lokal memiliki posisi tawar yang lemah ketika investasi masuk ke Sumba Timur.

Investasi memang dapat membuka lapangan pekerjaan. Namun, apabila masyarakat tidak memiliki keterampilan yang dibutuhkan, mereka berpotensi hanya mengisi pekerjaan dengan tingkat pendapatan yang rendah. “Pelatihan mestinya itu menjadi salah satu cara untuk membuat sumber daya kita bisa bargaining dengan banyaknya investasi,” katanya.

Karena itu, peningkatan keterampilan harus menjadi bagian dari strategi pembangunan. Masyarakat tidak cukup hanya menjadi tenaga kerja. Mereka juga perlu memiliki kemampuan untuk menciptakan usaha, mengolah sumber daya lokal dan mengambil bagian lebih besar dalam rantai ekonomi.

Dengan keterampilan yang lebih baik, masyarakat memiliki peluang memperoleh pekerjaan dengan pendapatan lebih tinggi maupun membangun usaha sendiri.

Baca Juga : Indeks Pembangunan Manusia Sumba Timur Terus Meningkat, Capai 70,99

Investasi Harus Menambah, Bukan Menghilangkan

Pemikiran tentang pembangunan yang sesuai karakter ekologis juga berkaitan dengan bagaimana investasi dikelola. Stepanus mengingatkan, investasi tidak boleh hanya dilihat dari besarnya modal yang masuk atau jumlah kegiatan ekonomi yang tercipta.

Yang lebih penting adalah dampaknya terhadap sumber penghidupan masyarakat. Menurut dia, masuknya investasi tidak otomatis membuat masyarakat lebih sejahtera apabila pada saat yang sama terdapat sumber penghidupan yang hilang.

Ia mencontohkan penggunaan lahan dalam skala besar yang dapat mengurangi ruang masyarakat untuk bertani dan beternak. “Kita bilang investasi masuk, tetapi kan ada yang hilang. Mestinya investasi masuk itu menambah,” tegasnya.

Menurut dia, investasi idealnya menciptakan sumber ekonomi baru tanpa menghilangkan basis kehidupan masyarakat yang sudah ada. Hal yang sama perlu diperhatikan dalam penggunaan sumber daya air.

Sebagai daerah yang memiliki keterbatasan air, pemanfaatan air dalam skala besar harus memperhitungkan kebutuhan masyarakat dan pertanian. Pembangunan ekonomi, kata Stepanus, perlu melihat hubungan antara investasi, lingkungan dan sumber penghidupan masyarakat secara bersamaan.

Pariwisata Tidak Cukup Menjadi Primadona

Selain pertanian, sektor pariwisata juga dapat menjadi bagian dari upaya memperluas sumber pendapatan masyarakat. Pertumbuhan pariwisata dapat membuka peluang bagi UMKM, ekonomi kreatif, jasa transportasi, akomodasi hingga usaha pangan lokal.

Namun, menurut Stepanus, pengembangan pariwisata juga harus dibangun bersama ekosistem yang mendukung keberlanjutannya. “Pariwisata menjadi primadona, tetapi ekosistem harus dibangun,” katanya.

Baca Juga : Gudang Logistik BPBD NTT Kosong Saat Gempa Flores, Kepala BNPB Minta Presiden Perkuat Stok Daerah

Artinya, pembangunan pariwisata tidak cukup hanya mengejar jumlah wisatawan atau memperbanyak kegiatan. Yang lebih penting adalah memastikan aktivitas tersebut menciptakan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal dan tetap menjaga lingkungan.

Menurunkan Kemiskinan dengan Membaca Kekuatan Daerah

Pada akhirnya, menurut Stepanus, persoalan kemiskinan Sumba Timur tidak dapat dipisahkan dari bagaimana daerah tersebut menentukan model pembangunannya.

Penurunan angka kemiskinan perlu diikuti dengan penguatan sumber penghidupan agar masyarakat memiliki kemampuan ekonomi yang lebih baik.

Pertanian tetap menjadi sektor penting karena menyerap sekitar separuh tenaga kerja. Namun, pembangunan pertanian tidak harus selalu identik dengan sawah dan padi.

Karakter ekologis Sumba Timur justru perlu menjadi pertimbangan dalam menentukan apa yang dikembangkan dan bagaimana masyarakat membangun sumber penghidupannya.

Keanekaragaman tanaman pangan, pemanfaatan pangan lokal, peningkatan nilai tambah, keterampilan, akses modal dan pasar dapat menjadi bagian dari strategi tersebut.

Baca Juga : Menulis Cinta dan Pengabdian Polisi di Pelosok Sumba NTT, Oris Goti Raih Juara II Nasional Kreasi Polri 2026

Padi tetap dibutuhkan. Tetapi, ketergantungan pada satu sumber pangan membuat masyarakat lebih rentan ketika kondisi iklim tidak mendukung.

Begitu pula investasi. Kehadiran modal dan kegiatan ekonomi baru harus memberikan tambahan manfaat bagi masyarakat, bukan menghilangkan sumber penghidupan yang telah ada.

Dengan pendekatan tersebut, pembangunan tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi atau penurunan angka kemiskinan.

Lebih jauh, pembangunan diarahkan untuk memperkuat kemampuan masyarakat memperoleh pendapatan, memenuhi kebutuhan pangan dan bertahan menghadapi perubahan kondisi lingkungan.

Sebab, menekan kemiskinan di Sumba Timur bukan hanya soal bagaimana meningkatkan angka pertumbuhan, tetapi bagaimana membangun ekonomi yang sesuai dengan karakter ekologis dan kekuatan masyarakat yang hidup di dalamnya.*

ARTIKEL TERKAIT

REKOMENDASI UNTUKMU

ARTIKEL LAINNYA