SUMBATERKINI.COM, Waingapu – Mengelola uang dengan baik tidak hanya soal seberapa besar penghasilan, tetapi juga bagaimana menggunakannya.
Kebutuhan keluarga harus menjadi prioritas, sementara setiap keputusan berutang perlu dipertimbangkan dengan matang agar tidak menambah beban keuangan.
Pesan itu disampaikan anggota Komisi XI DPR RI, Julie Sutrisno Laiskodat, saat melakukan kunjungan bersama mitra dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Kantor Lurah Malumbi, Kabupaten Sumba Timur, Senin (26/10/2026).
Julie mengatakan, berutang dapat menjadi pilihan ketika seseorang membutuhkan modal untuk mengembangkan usaha.
Namun, masyarakat perlu menghitung kemampuan membayar dan memastikan pinjaman tersebut digunakan untuk tujuan yang jelas.
Baca Juga : Bendera Golkar Sepanjang 1.062 Meter Membentang di Piarakuku Hills Sumba Timur, LEPRID Beri Penghargaan
“Saya pun berutang, tetapi dari utang kita harus menghasilkan lebih banyak,” kata Julie Laiskodat.
Menurut Julie, uang pinjaman sebaiknya digunakan untuk kegiatan produktif yang berpeluang menambah pendapatan, misalnya mengembangkan usaha.
Sebaliknya, jika uang habis hanya untuk membeli barang yang tidak mendatangkan penghasilan, utang justru bisa menjadi beban bagi keluarga.
Karena itu, ia mengingatkan masyarakat agar tidak terburu-buru mengambil pinjaman. Berutang bukan keharusan untuk memulai atau mengembangkan usaha.
Keputusan tersebut perlu disesuaikan dengan kebutuhan, kemampuan membayar, dan peluang usaha yang realistis.
Baca Juga : HUT ke-75 Paroki Sang Penebus Waingapu, Wabup Harap Gereja Jadi Pemersatu dan Penjaga Toleransi di Sumba
Julie juga mengingatkan pentingnya membedakan kebutuhan dan keinginan dalam kehidupan sehari-hari.
“Kebutuhan dan keinginan itu beti atau beda tipis,” ujarnya.
Ia mengajak masyarakat untuk mendahulukan kebutuhan keluarga daripada mengikuti keinginan atau sekadar menjaga gengsi. Dengan begitu, penghasilan yang diperoleh dapat digunakan secara lebih terarah dan tidak habis untuk hal-hal yang sebenarnya bisa ditunda.
Selain itu, Julie meminta masyarakat berhati-hati dalam memilih layanan pinjaman. Warga perlu memastikan legalitas lembaga pemberi pinjaman serta memahami bunga, biaya, jangka waktu pembayaran, dan kemampuan melunasi utang.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar menjauhi judi online dan pinjaman online ilegal yang berisiko memperburuk kondisi keuangan.
Baca Juga : Ketum Sinode GKS Tegaskan Gereja Harus Hadir Selamatkan Keluarga dan Rawat Generasi Muda
Kehadiran OJK dalam kegiatan tersebut menjadi salah satu kesempatan bagi masyarakat untuk mengenal layanan keuangan yang aman, termasuk akses pembiayaan usaha dan program kredit bersubsidi pemerintah sesuai ketentuan yang berlaku.
Potensi lokal bisa menjadi sumber penghasilan
Bagi Julie, kecerdasan mengelola uang perlu berjalan bersama kemampuan melihat peluang usaha di lingkungan sendiri.
Ia menyebut pertanian, peternakan, perikanan, dan kerajinan sebagai potensi yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat.
Julie menilai kebutuhan pangan akan selalu ada. Karena itu, sektor yang menghasilkan makanan memiliki peluang untuk terus dikembangkan, termasuk ketika sektor usaha lainnya menghadapi kesulitan.
“Dulu waktu pandemi Covid banyak pabrik tutup, tetapi ada pabrik yang eksis yaitu pabrik makanan. Karena semua orang butuh makan, orang sakit, orang sehat butuh makan, orang kaya orang miskin butuh makan, laki perempuan butuh makan,” katanya.
Ia mengajak masyarakat Nusa Tenggara Timur untuk bersyukur atas kekayaan alam yang dimiliki dan mengelolanya dengan lebih baik agar memberikan manfaat ekonomi.
Baca Juga : Sekolah Perdamaian GAMKI di Sumba Soroti Ekologi, Hak Masyarakat Adat Hingga Perlindungan Anak
Di Sumba Timur, salah satu potensi tersebut adalah pertanian lahan kering. Jagung, sorgum, umbi-umbian, dan kacang-kacangan merupakan sejumlah komoditas yang dapat dikembangkan sesuai kondisi lahan dan ketersediaan air.
Namun, potensi lahan saja tidak cukup. Petani juga membutuhkan sarana produksi, alat dan mesin pertanian, akses pembiayaan, serta pasar yang mampu menyerap hasil panen.
Jika dikelola dengan baik, sektor pertanian tidak hanya dapat membantu memenuhi kebutuhan pangan keluarga, tetapi juga menjadi sumber penghasilan.
Keluhan alsintan hingga jaringan internet
Dalam pertemuan di Kantor Lurah Malumbi, Julie mendengar langsung berbagai kendala yang dihadapi masyarakat. Ia juga mengecek sejumlah persoalan yang disampaikan warga.
Salah satu keluhan berkaitan dengan alat dan mesin pertanian (alsintan). Keterbatasan peralatan membuat pekerjaan petani membutuhkan lebih banyak waktu dan tenaga.
Baca Juga : Mencari Lauk di Tengah Ekosistem Pesisir Waingapu yang Mulai Tergerus Sampah
Julie mengatakan Fraksi NasDem akan memperhatikan persoalan tersebut.
Bagi petani, ketersediaan alsintan penting untuk membantu mengolah lahan secara lebih efektif. Dengan dukungan peralatan yang memadai, pekerjaan dapat dilakukan lebih efisien dan peluang meningkatkan hasil pertanian menjadi lebih terbuka.
Selain persoalan pertanian, masyarakat Malumbi juga menghadapi keterbatasan jaringan internet. Meski berada di kawasan Kota Waingapu, wilayah tersebut masih kesulitan mendapatkan sinyal internet.
Padahal, internet dapat membantu masyarakat memasarkan hasil pertanian dan kerajinan ke pasar yang lebih luas. Pelaku usaha juga bisa memanfaatkan teknologi untuk memperkenalkan produk dan menjangkau pembeli tanpa harus selalu menunggu konsumen datang langsung.
Julie berjanji membantu masyarakat Malumbi dalam penyediaan akses internet melalui Starlink.
Baca Juga : Polda NTT Turunkan Tim Cek Penembakan Terduga Pelaku Pencurian Ternak di Sumba Barat
Dukungan tersebut diharapkan membuka peluang bagi warga untuk memanfaatkan teknologi dalam mengembangkan usaha, memasarkan produk, dan memperoleh informasi yang dibutuhkan.*