SUMBATERKINI.COM, Waingapu – Lapangan Pemuda Matawai, Kota Waingapu, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali menjadi ruang perjumpaan umat beragama. Kali ini, mereka bertemu melalui pertandingan sepak bola.
Dengan semangat Baku Sayang Baku Jaga, Turnamen Sepak Bola Antarumat Beragama ke-24 resmi dibuka oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Sumba Timur, Umbu Ngadu Ndamu, Rabu (21/10/2026).
Sebanyak 23 tim mengikuti turnamen yang dijadwalkan berlangsung hingga 24 November 2026 tersebut.
Turnamen ini bukan sekadar kompetisi untuk memperebutkan kemenangan. Selama 24 tahun penyelenggaraannya, kegiatan ini menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan umat dari berbagai agama dalam suasana persaudaraan.
Baca Juga : Pesta Telat SMA Pandawai, Kriswina FC Gagal Jaga Trofi Unkriswina Cup
Pemerintah Kabupaten Sumba Timur mengapresiasi penyelenggaraan turnamen yang terus dipertahankan dari tahun ke tahun.
Sekda Sumba Timur, Umbu Ngadu Ndamu, mengatakan kegiatan tersebut menunjukkan bahwa toleransi dapat dibangun melalui berbagai cara, termasuk olahraga.
“Ini merupakan suatu kegiatan di Kabupaten Sumba Timur yang sejak 24 tahun yang lalu dilaksanakan dan terus membina persaudaraan karena antarumat beragama saling adanya toleransi,” ujarnya.
Ia berharap seluruh pertandingan berlangsung aman dan tidak menimbulkan persoalan yang dapat merusak hubungan antarpeserta.
Baca Juga : Kabut Asap Tutup Langit Sumba, BMKG Deteksi 65 Titik Panas
Umbu Ngadu juga berharap semangat yang tumbuh dari turnamen ini dapat menginspirasi daerah lain di Indonesia.
Menurutnya, momentum turnamen yang berdekatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober menjadi kesempatan untuk kembali mengingat pentingnya persatuan bangsa.
Ia mengingatkan bahwa perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia melibatkan seluruh komponen bangsa, bukan hanya satu kelompok agama.
“Bukan hanya satu agama saja dalam perjuangan itu, tapi semua lintas agama dalam memperjuangkan sampai dengan kemerdekaan,” ujarnya.
Baca Juga : Wawancara Eksklusif : Pendeta Yakub Malo Bili Usai Terpilih Sebagai Ketua Sinode GKS 2026 – 2031
Karena itu, ia berharap nilai persatuan tersebut tidak berhenti sebagai slogan, tetapi diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat, termasuk melalui pertandingan olahraga.
Menjaga Persaudaraan di Lapangan
Ketua Panitia, Epo, mengatakan turnamen ini merupakan kontribusi bersama yang perlu dipertahankan dalam ikatan persaudaraan.
Ia menegaskan bahwa perbedaan tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling memperdebatkan keyakinan. Sebaliknya, perbedaan harus menjadi bagian dari kehidupan bersama yang saling menghargai.
“Perbedaan yang ada tidak lagi untuk diperdebatkan, namun akan menjadi pegangan kita bersama sehingga keutuhan tetap pilihan yang tepat di tengah situasi yang tidak menentu,” kata Epo.
Baca Juga : MYZE Hotel Waingapu Ajak Anak Berkreasi Lewat Kelas Menata Makanan
Tema Baku Sayang Baku Jaga dipilih sebagai landasan untuk menjaga hubungan antarpeserta selama turnamen berlangsung.
Selain mempererat persaudaraan, kegiatan ini bertujuan memeriahkan perayaan Natal 2026, menjalankan program Komisi Pemuda tahun 2026, serta meningkatkan kemampuan generasi muda dalam olahraga sepak bola.
Sebanyak 23 tim dibagi ke dalam enam grup. Peserta berasal dari berbagai komunitas gereja dan masjid di Sumba Timur.
Pembukaan turnamen juga dimeriahkan dengan kuis dan undian berhadiah bagi peserta dan masyarakat yang hadir.
Baca Juga : Misa Syukur Perayaan 75 Tahun Paroki Sang Penebus Waingapu, Menjaga Warisan Iman Meneruskan Kasih
Melalui turnamen ini, masyarakat Sumba Timur kembali menunjukkan bahwa perbedaan keyakinan tidak menghalangi kebersamaan.
Di lapangan, setiap tim memang berjuang untuk menang, tetapi persaudaraan tetap menjadi nilai yang harus dijaga bersama.*