Lompat ke konten utama

Sumba Terkini

Olahraga

Pesta Telat SMA Pandawai, Kriswina FC Gagal Jaga Trofi Unkriswina Cup

ADU PENALTI - Momen pemain SMA Pandawai menanti giliran menendang dalam penentuan juara Unkriswina Cup XIII lewat adu penalti di Lapangan Matawai, Senin (6/7/2026). (Foto : HO- Panitia/Sumba Terkini).

SUMBATERKINI.COM, Waingapu – SMA Pandawai tampil beda di partai final Unkriswina Cup XIII, Senin (6/7/2026) di Lapangan Matawai. Untuk pertama kalinya sepanjang turnamen, mereka mengenakan jersey merah hitam. Di seberang, juara bertahan Kriswina FC A tetap dengan warna kebanggaannya, biru.

Di sepanjang pagar pembatas lapangan, pendukung kedua tim berdiri rapat. Teriakan, tepuk tangan hingga aba-aba terus terdengar selama 110 menit pertandingan.

Bahkan tim wasit yang dipimpin M. Irfan pun dipaksa bekerja tanpa mengenal lelah mengawal laga yang berjalan dalam tempo tinggi.

Di penghujung babak extra time, para pendukung Pandawai sudah bersiap berpesta. Mereka yakin gelar juara tinggal menunggu hitungan detik setelah sang kapten, Erwin Doke, memecah kebuntuan di menit-menit akhir babak pertama extra time.

Baca JugaSi Boli Maskot ETMC XXXV 2026 Flores Timur Resmi Diluncurkan di Larantuka

Namun, sepak bola memang tidak pernah selesai sebelum peluit panjang dibunyikan. Di detik-detik terakhir extra time, Kriswina FC A mendapatkan sepak pojok. Bola melayang ke kotak penalti, terjadi kemelut, lalu… gol.

Pendukung Kriswina langsung berjingkrak sambil berteriak. Sebaliknya, para pemain dan suporter Pandawai mematung. Mereka seperti tidak percaya pesta yang sudah ada di depan mata harus tertunda.

Pertandingan kembali dimulai dari kick-off. Baru satu sentuhan pertama di area pertahanan Pandawai, wasit meniup peluit panjang. Laga berlanjut ke adu penalti.

Tidak salah apa yang pernah dikatakan Erwin Doke sebelum laga. “Kriswina FC A tim yang kuat.” Kalimat itu benar-benar terbukti.

Baca JugaRatusan Kenshi Ikut Kejuaraan Shorinji Kempo Bupati Sumba Timur, Orangtua Rasakan Dampak Positif

Ironisnya, tim yang baru saja mendapatkan momentum kebangkitan justru melempem saat adu tos-tosan. Dua penendang Kriswina gagal menjalankan tugasnya. Satu tendangan membentur tiang, satu lagi melambung tinggi jauh ke atas. Bahasa komentator sepak bola, “tendangan jumpa fans.”

Pandawai akhirnya memastikan gelar juara. Benar-benar pesta yang telat. Tinggal hitungan detik mengangkat trofi, mereka sempat dibuat terpaku oleh gol dari kemelut sebelum akhirnya tersenyum lewat drama adu penalti.

Jalannya Pertandingan

Seperti biasanya, Pandawai memainkan build up dari bawah. Ball possession mereka cukup rapi. Sentuhan-sentuhan pendek di lini tengah kemudian dialirkan ke kedua sayap.

Kecepatan dua winger Pandawai beberapa kali membongkar organisasi permainan Kriswina FC A. Sejumlah peluang tercipta sejak awal pertandingan, namun penyelesaian akhir belum maksimal. Bahkan beberapa second ball hasil pantulan tembakan pertama juga gagal dimanfaatkan.

Di balik dominasi itu, ada satu tanda tanya. Putra, gelandang serang bernomor punggung 21 yang selalu menjadi starter di laga-laga krusial, tak terlihat sejak menit awal.

Di kubu Kriswina FC A, sang kapten Risky Rame harus terus berteriak mengatur ritme permainan. Ia terlihat kewalahan menghadapi pressing preventif Pandawai dari lini tengah.

Baca JugaPrediksi Final Unkriswina Cup XIII Kolektivitas SMA Pandawai Diuji Kreativitas Kriswina FC A

Meski begitu, Risky tetap menunjukkan kelasnya sebagai gelandang kreatif dengan beberapa umpan yang membuka peluang. Bahkan ia sempat tergeletak di lapangan karena kelelahan.

Masalah Kriswina lainnya adalah tidak adanya striker bertipe target man. Beberapa peluang terbuang percuma karena tidak ada pemain yang mampu menahan bola di depan.

Berbeda dengan Pandawai yang menjadikan Andika sebagai target man. Kehadirannya membuat dua center back Kriswina harus bekerja ekstra dan kehilangan konsentrasi dalam beberapa duel.

Memasuki separuh babak kedua, Putra akhirnya masuk. Kehadirannya membuat ritme permainan Pandawai kembali hidup saat Kriswina mulai berani menekan.

Baca JugaKawan Baik Indonesia Perkuat Akses Air Bersih, Kesehatan, Pendidikan hingga Respons Bencana di Sumba Timur

Meski begitu, gol belum juga datang. Hingga akhirnya, di menit-menit akhir babak pertama extra time, Erwin Doke muncul sebagai pembeda. Golnya kembali menjadi gol krusial, seperti saat semifinal menghadapi SMANSA Waingapu B.

Saat kemenangan hampir dirayakan, Kriswina FC A mencetak gol penyama melalui kemelut hasil sepak pojok dan memaksa laga ditentukan lewat adu penalti.

Pelatih SMA Pandawai tak mampu menyembunyikan rasa haru usai pertandingan. “Pertandingan hari ini luar biasa. Kami sangat bangga dengan perjuangan anak-anak,” ujarnya.

Belasan tahun mendampingi Pandawai dalam kegiatan ekstrakurikuler sepak bola, ia mengaku benar-benar merasakan dinamika dan romantisme sepak bola di laga final ini.

Baca JugaCinta Polisi dan Relawan Bersemi di Pelosok Sumba, Hidupkan Harapan Anak-Anak Lewat Sekolah Gratis

Ia juga mengungkapkan strategi di balik kemenangan timnya. Putra sengaja tidak dimainkan sejak menit awal agar memiliki stamina lebih saat masuk di babak kedua.

Menurutnya, setelah tampil di semifinal, Putra membutuhkan waktu istirahat lebih panjang sehingga diharapkan mampu memanfaatkan kondisi pemain Kriswina FC A yang mulai kelelahan.

Sementara itu, wasit M. Irfan, mantan penjaga gawang Persewa Waingapu, mengaku final Unkriswina Cup XIII menjadi salah satu pertandingan yang paling menguras tenaganya.

Menurutnya, tempo permainan yang tinggi dengan bola terus hidup (open play) membuat ia dan tim wasit harus terus bergerak mengikuti jalannya pertandingan hingga 110 menit.*

ARTIKEL TERKAIT

REKOMENDASI UNTUKMU

ARTIKEL LAINNYA