Lompat ke konten utama

Sumba Terkini

Berita Terkini

Surat Gembala Uskup Agung Ende Pascagempa Flores, Ajak Umat Menenun Kembali Harapan

HARAPAN - Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD, mengajak umat Katolik di wilayah Keuskupan Agung Ende untuk menjadikan pengalaman bencana gempa bumi Flores sebagai momentum menenun kembali harapan dan menata masa depan. (Foto : Komsos Keuskupan Agung Ende - Sumba Terkini).

SUMBATERKINI.COM, Ende – Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD, mengajak umat Katolik di wilayah Keuskupan Agung Ende untuk menjadikan pengalaman bencana gempa bumi Flores sebagai momentum menenun kembali harapan dan menata masa depan.

Ajakan tersebut disampaikan dalam Surat Gembala Pascagempa Flores yang ditandatangani di Ndona, 12 September 2026.

Surat itu diterbitkan menjelang Pesta Pemuliaan Salib Suci yang dirayakan Gereja Katolik pada Senin, 14 September 2026, dengan tema refleksi dari Mazmur 27:8, “Wajah-Mu kucari, ya Tuhan.”

Dalam surat tersebut, Mgr. Paulus mengajak umat melihat kembali pengalaman selama masa bencana dan tanggap darurat.

Baca Juga : Rentenir Berkedok Koperasi Harian Kejar Korban Gempa Flores, Presiden Prabowo Minta Menghadap Kapolda dan Pangdam

Menurutnya, situasi pascagempa membutuhkan kesabaran, ketekunan, solidaritas, serta tanggung jawab bersama untuk memulihkan kehidupan masyarakat.

Refleksi tentang salib menjadi bagian penting dari pesan tersebut. Salib dipahami bukan sebagai kutukan, melainkan sebagai gambaran kehadiran Allah yang bersedia masuk ke dalam penderitaan manusia.

Karena itu, bencana gempa tidak dipandang sebagai tanda bahwa Tuhan meninggalkan atau memalingkan wajah-Nya dari manusia.

Wajah Tuhan justru dapat ditemukan dalam kehidupan mereka yang terdampak bencana. Kehilangan anggota keluarga, rumah yang hancur, pengungsian, ketakutan anak-anak, serta kecemasan orang tua dan orang sakit menjadi bagian dari realitas penderitaan yang harus diperhatikan bersama.

Baca Juga : Relawan Ahmad Zaki Ali Meninggal Saat Misi Gempa Flores, Jenazah Dievakuasi Helikopter Basarnas

Pada saat yang sama, wajah Tuhan juga tampak melalui mereka yang hadir membantu para korban. Solidaritas masyarakat, berbagai bentuk bantuan, pelayanan relawan, perhatian pemerintah, Gereja, organisasi, maupun dukungan dari berbagai pihak menjadi bagian dari upaya membangkitkan kembali harapan setelah gempa.

Mgr. Paulus juga mengajak Gereja untuk menampakkan wajah Tuhan melalui pelayanan nyata. Gereja diharapkan semakin berani mengosongkan diri dari kepentingan dan kenyamanan sendiri untuk hadir bersama orang miskin, mereka yang menderita, serta masyarakat yang terdampak bencana.

Dalam kehidupan pascagempa, umat diajak mengedepankan kesederhanaan, kerendahan hati, dan keberanian. Pemulihan tidak hanya dimaknai sebagai memperbaiki bangunan yang rusak, tetapi juga memulihkan kehidupan manusia, hubungan persaudaraan, penghidupan keluarga, serta keberanian untuk menatap masa depan.

Terkait bantuan, Gereja mengingatkan agar prioritas diberikan kepada mereka yang paling membutuhkan. Dampak gempa tidak dialami semua orang dalam tingkat kerugian yang sama.

Baca Juga : Gempa Flores NTT Berpotensi Tsunami, Warga Panik Laut Mulai Surut

Karena itu, pembagian bantuan harus dilakukan secara adil, jujur, dan transparan agar bencana alam tidak berkembang menjadi bencana sosial berupa konflik dan perpecahan.

Surat tersebut juga meminta agar pesta-pesta yang menyertai berbagai perayaan Gereja disederhanakan atau ditiadakan.

Kesederhanaan terutama ditekankan dalam permandian, komuni pertama, pernikahan, tahbisan imam, kaul kekal, ulang tahun tahbisan dan kaul, penahbisan gereja, pemberkatan kapela, serta ulang tahun paroki.

Menurut Mgr. Paulus, kesederhanaan dalam perayaan bukan sekadar mengurangi pengeluaran. Sikap tersebut merupakan bentuk solidaritas dengan mereka yang masih berjuang memulihkan kehidupan, sekaligus bentuk tanggung jawab terhadap keluarga, pendidikan anak, serta kebutuhan orang tua dan mereka yang sakit.

Baca Juga : BREAKING NEWS: Heboh! Video Siaran Langsung Warga Tangkap Pencuri Sapi di Sumba Timur, Pelaku Diduga Polisi

Memasuki tahap transisi dan pemulihan, Keuskupan Agung Ende akan ikut berpartisipasi sesuai arahan pemerintah dan kemampuan yang dimiliki.

Perhatian diarahkan terutama kepada keluarga yang kehilangan anggota keluarga, tempat tinggal, sumber penghidupan, serta mereka yang masih mengalami ketakutan dan trauma.

Pemulihan juga mencakup pendampingan pastoral dan trauma healing, pemulihan ekonomi, serta pembangunan kembali hunian dan fasilitas umum dengan belajar dari pengalaman gempa agar lebih aman, layak, sederhana, dan sesuai kebutuhan masyarakat.*

ARTIKEL TERKAIT

REKOMENDASI UNTUKMU

ARTIKEL LAINNYA