SUMBATERKINI.COM, Waingapu – Kehadiran empat kabupaten dengan beragam latar belakang budaya dalam perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-75 Paroki Sang Penebus Waingapu menjadi gambaran keberagaman masyarakat Pulau Sumba yang dipersatukan oleh iman.
Momentum ini diharapkan tidak berhenti sebagai perayaan, tetapi menjadi kekuatan untuk merawat persaudaraan, memperkuat toleransi, dan mendorong perubahan positif di Pulau Sumba.
Harapan itu disampaikan Wakil Bupati Sumba Timur, Yonathan Hani, dalam perayaan HUT ke-75 Paroki Sang Penebus Waingapu, Jumat, (9/10/2026).
Ia menyoroti kehadiran empat kabupaten, yakni Sumba Timur, Sumba Barat, Sumba Barat Daya, dan Sumba Tengah, serta beragam busana adat yang ditampilkan dalam perayaan tersebut.
Baca Juga : Misa Syukur Perayaan 75 Tahun Paroki Sang Penebus Waingapu, Menjaga Warisan Iman Meneruskan Kasih
Menurut dia, keberagaman yang terlihat menjadi cerminan bahwa perbedaan wilayah dan kebudayaan tidak harus memisahkan masyarakat.
“Bayangkan empat kabupaten bisa hadir di tempat ini. Empat pimpinan kabupaten bisa hadir di tempat ini. Lintas kebudayaan bisa ditampilkan di tempat ini. Sebelah kanan saya ini baju daerah macam-macam. Dan itulah cerminan Paroki Sang Penebus,” ujarnya.
Ia mengatakan, masyarakat Sumba memiliki identitas daerah dan kebudayaan yang beragam. Namun, perbedaan itu dapat menjadi kekuatan untuk membangun kehidupan bersama.
“Kita berbeda-beda tapi di tempat ini kita dipersatukan oleh iman yang kuat,” katanya.
Baca Juga : ‘Merawat Kehidupan, Merawat Generasi’ Membingkai Sidang 1 Majelis Sinode GKS di Waingapu
Gereja sebagai Pemersatu Masyarakat Sumba
Wakil Bupati Sumba Timur berharap semangat persatuan yang tergambar dalam perayaan tersebut dapat meluas ke seluruh Pulau Sumba.
Ia mengajak masyarakat untuk tidak menjadikan identitas kabupaten sebagai sekat dalam membangun persaudaraan dan peradaban yang lebih baik.
“Kau orang Sumba Timur, kau orang Sumba Barat, kau orang Sumba Barat Daya, kau orang Sumba Tengah. Mari kita hilangkan semua perbedaan itu dan kita nyatakan kita satu di bawah iman kita pada Kristus Yesus dan kita satu untuk membangun kebaikan dan peradaban yang baik di Pulau Sumba,” ujarnya.
Baginya, perayaan 75 tahun Paroki Sang Penebus Waingapu bukan hanya momentum untuk mengenang perjalanan iman umat Katolik, tetapi juga kesempatan untuk memperkuat peran gereja dalam kehidupan sosial masyarakat.
Baca Juga : Sekolah Perdamaian GAMKI di Sumba Soroti Ekologi, Hak Masyarakat Adat Hingga Perlindungan Anak
Ia secara khusus berharap paroki dan umatnya menjadi bagian dari upaya menjaga toleransi dan mendorong perubahan di tengah masyarakat.
“Mari kita jadikan Paroki Sang Penebus Waingapu dan umat di dalamnya sebagai aktor pemersatu toleransi dan perubahan di Pulau Sumba, secara khusus di Kabupaten Sumba Timur,” katanya.
Melanjutkan Perjuangan 75 Tahun
Dalam sambutannya, Wakil Bupati Sumba Timur juga mengingatkan bahwa perjalanan 75 tahun Paroki Sang Penebus Waingapu tidak terlepas dari perjuangan para pendahulu yang mengusahakan pembangunan gereja dan penyebaran Injil hingga ke pelosok Pulau Sumba.
Ia mengajak umat untuk mensyukuri perjalanan panjang tersebut sekaligus menjaga agar perjuangan yang telah dibangun tidak berlalu dengan sia-sia.
Baca Juga : Warga Terdampak Gempa di Sumba Barat Daya Tidur di Luar Rumah, Belum Tersentuh Bantuan Darurat
“Tanggung jawab berat dan tanggung jawab besar kita bagaimana kita mempertahankan dan mengusahakan agar perjuangan dan perjalanan panjang selama 75 tahun itu tidak berlalu dengan sia-sia,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa perubahan zaman tidak hanya terjadi di lingkungan gereja, tetapi turut memengaruhi kehidupan sosial dan budaya masyarakat.
Karena itu, perjalanan iman selama 75 tahun perlu dimaknai sebagai tanggung jawab bersama, bukan hanya bagi umat Katolik, melainkan juga bagi kehidupan masyarakat yang lebih luas.
Ia menyampaikan penghargaan kepada seluruh umat dan pelayan gereja yang telah berkontribusi bagi masyarakat di Pulau Sumba.
Melalui momentum HUT ke-75 ini, Paroki Sang Penebus Waingapu diharapkan terus menjadi sumber harapan dan iman sekaligus mengambil peran nyata dalam merawat persaudaraan, menjaga toleransi, dan memperkuat persatuan masyarakat di Pulau Sumba.*