Lompat ke konten utama

Sumba Terkini

Sumba Tengah

Di Kaki Matayangu Sumba Tengah, Ilalang Topang Ekonomi Warga Manurara

PENGRAJIN ILALANG - Pengrajin Ilalang di Desa Manurara, Kabupaten Sumba Tengah, Selasa (21/7/2026). (Foto : Sumba Terkini).

SUMBATERKINI.COM, Waingapu – Menjelang siang, aktivitas di pondok-pondok sederhana di Desa Manurara, Kabupaten Sumba Tengah, belum juga surut.

Lokasinya hanya sekitar 30 meter dari pos jaga menuju Air Terjun Matayangu, salah satu destinasi wisata alam yang menjadi kebanggaan .

Di bawah atap pondok, bunyi golok yang membelah batang ilalang terdengar bersahut-sahutan.

Tangan-tangan terampil memotong, merapikan, lalu mengikat ilalang hingga membentuk gulungan-gulungan besar yang tersusun rapi.

Baca JugaSidang Kasus Tambang Emas Ilegal di TN Matalawa Sumba Berpotensi Ungkap Pembeli Emas

Di saat yang sama, deru sepeda motor wisatawan silih berganti memasuki kawasan. Anak-anak muda yang datang untuk menikmati keindahan Matayangu berhenti sejenak, menyapa para perajin sebelum melanjutkan perjalanan.

Tak jauh dari pos jaga, hamparan ilalang membentang luas. Sejumlah perempuan tampak memanen ilalang dengan penuh ketelitian. Sesekali tawa mereka pecah, memecah suasana siang yang hangat.

Saat kamera mengarah, mereka tersenyum lebar sambil melambaikan tangan, seolah menunjukkan bahwa bekerja di padang ilalang telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Di salah satu pondok, Yudi (33) tampak sibuk memotong ilalang. Setelah dipotong, ilalang dikumpulkan lalu diikat menjadi gulungan sebesar betis orang dewasa. Hari itu ia sedang mengejar pesanan dalam jumlah besar.

Baca JugaKapan Pembayaran Lahan Proyek Tambak Udang di Sumba Timur Cair?

“Saya dari kecil, sejak masih SD sudah biasa urus ilalang. Potong, ikat, lalu disusun rapi. Sekarang ini kami kerja pesanan dari Kampung Adat Lamboya yang terbakar baru – baru,” ujarnya.

Usaha mengolah ilalang di Desa Manurara umumnya dikerjakan secara berkelompok, masing-masing terdiri dari lima hingga enam orang.

Ilalang asal Manurara dikenal memiliki kualitas yang baik sehingga banyak diminati. Satu ikatan besar dijual sekitar Rp60 ribu dan terdiri dari 30 ikatan kecil.

Menurut Yudi, harga ilalang terus mengalami kenaikan dari tahun ke tahun.

Baca JugaWarga Kiritana Sumba Timur Bergantung pada Satu Perahu

“Dulu waktu saya masih SD harganya sekitar Rp3 ribu per ikatan besar. Sekarang sudah naik,” ujarnya.

Kenaikan harga itu dipengaruhi semakin berkurangnya lahan ilalang serta sedikitnya masyarakat yang masih menekuni pekerjaan tersebut.

Di sisi lain, permintaan justru meningkat karena ilalang kini banyak digunakan sebagai material atap rumah adat, penginapan, hingga hotel yang mengusung konsep alami.

Bagi warga, usaha ini menjadi salah satu penopang ekonomi keluarga.

Baca JugaHadiri Sidang Sinode GKS, Ketua PGI Ajak Gereja Jaga Alam Sumba

“Jual ilalang sangat bantu ekonomi kami. Dari sini kami juga bisa kembangkan usaha lain seperti beternak dan bertani,” tutur Yudi.

Menariknya, sebagian ilalang dipanen dari kawasan . Namun pengambilannya dilakukan secara teratur dan tetap memperhatikan kelestarian alam.

“Hubungan kami dengan Taman Nasional baik. Mereka membantu kami, tetapi kami juga harus ikut menjaga alam ini,” katanya.

Hubungan itu tidak berhenti pada pemanfaatan ilalang. Warga Desa Manurara juga dilibatkan sebagai pemandu wisata Air Terjun Matayangu.

Baca JugaDi Balik Pengembangan Pongamia di Sumba Timur, Riset 17 Tahun Menjadi Fondasi Produksi Energi Hijau

Mereka mendapat pelatihan tentang teknik memandu wisatawan, berkomunikasi, hingga memperkenalkan kekayaan alam dan budaya setempat kepada para pengunjung.

Pada hari yang sama, Balai Taman Nasional Matalawa juga menyerahkan bantuan senilai Rp40 juta kepada kelompok masyarakat untuk meningkatkan tata kelola kawasan wisata.

Dana tersebut akan digunakan membangun toilet, menata area parkir, serta menyiapkan lokasi camping ground.

“Ini merupakan salah satu program Taman Nasional dalam rangka pemberdayaan masyarakat, khususnya kelompok pemandu wisata alam,” ujar Dedy Edwin, Penyuluh Kehutanan Bidang Pemandu.

Baca JugaDirjen Pelayanan dan Kepatuhan HAM Soroti BLK di Sumba Timur Belum Optimal

Di Desa Manurara, ilalang bukan sekadar rumput liar yang tumbuh di padang savana. Di tangan masyarakat, tanaman itu berubah menjadi sumber penghidupan, menjaga dapur tetap mengepul.

Ini juga menjadi pengingat bahwa alam yang dirawat dengan baik dapat terus memberi manfaat bagi generasi yang hidup di sekitarnya.*

ARTIKEL TERKAIT

REKOMENDASI UNTUKMU

ARTIKEL LAINNYA

No Content Available