SUMBATERKINI.COM, Waingapu – Secangkir kopi menjadi bagian dari gerakan solidaritas anak muda di Waingapu untuk membantu masyarakat yang terdampak gempa Flores.
Melalui kegiatan “Kopi Bayar Seikhlasnya”, Waingapu Collective menggalang donasi bagi korban gempa Flores.
Kegiatan ini melibatkan atau diinisiasi oleh Ana Humba Community, Menyapa Sumba, Koalisi Kopi, PMKRI Cabang Waingapu, Permasti, Waingapu Retroverso, Sinema Rakyat dan Sumba Terkini.
Penggalangan donasi dimulai Selasa (25/8/2026) di Taman Hiburan Rakyat, Swembak, Kota Waingapu.
Baca Juga : Gempita, Bayi yang Lahir Saat Gempa Bumi Tektonik Magnitudo 7,7 di Flores NTT
Namun, gerakan tersebut tidak hanya berbicara tentang bantuan.
Waingapu Collective juga menjadikan momentum gempa Flores sebagai ruang untuk membangun kesadaran bersama tentang kesiapsiagaan menghadapi bencana, khususnya gempa bumi.
Puncak kegiatan akan digelar Sabtu (29/8/2026) di Taman Kota Sandelwood. Rangkaian kegiatan akan diisi dengan doa bersama lintas agama dan aksi seribu lilin.
Koordinator Waingapu Collective, Antonia Maria Oy, mengatakan kegiatan tersebut melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, masyarakat, paguyuban, BUMN, pelajar hingga komunitas.
Baca Juga : Relawan Ahmad Zaki Ali Meninggal Saat Misi Gempa Flores, Jenazah Dievakuasi Helikopter Basarnas
“Ini menjadi momen perjumpaan dan refleksi bersama terkait dengan gempa yang terjadi di Flores,” ujar Antonia kepada Sumba Terkini di Swoembak, Selasa malam.
Menurut Antonia, peristiwa gempa Flores juga menjadi pengingat bagi masyarakat Sumba untuk melihat kembali pengalaman bencana yang pernah terjadi di pulau ini.
Salah satunya adalah gempa besar yang terjadi pada 1977.
“Mungkin banyak orang belum tahu atau lupa bahwa pernah terjadi gempa hebat pada 1977. Ini menjadi catatan penting bagi kita semua bahwa kesiapan dini menghadapi gempa itu penting,” katanya.
Baca Juga : Polisi Yanrus Pake Latih Pelajar dan Guru di Tanambanas Sumba Hadapi Situasi Darurat Gempa Bumi
Gempa Flores berkekuatan magnitudo 7,7 yang terjadi pada 15 Agustus 2026 juga dirasakan di Sumba.
Meski tidak menimbulkan korban jiwa di Sumba, guncangan tersebut kembali mengingatkan masyarakat bahwa dampak gempa dapat dirasakan hingga wilayah yang cukup jauh dari pusat gempa.
Bagi Waingapu Collective, pengalaman tersebut perlu diterjemahkan menjadi kesadaran dan kesiapan.
“Ini menjadi catatan penting, pentingnya ada kesiapan, mitigasi dan lainnya dalam menghadapi gempa bumi. Ini PR bagi pemerintah, semua pihak terkait dan masyarakat itu sendiri,” ujar Antonia.
Baca Juga : Warga Kiritana Sumba Timur Bergantung pada Satu Perahu
Selain gempa, Sumba juga memiliki pengalaman menghadapi bencana Seroja pada 2021. Karena itu, menurut Antonia, kesiapsiagaan tidak seharusnya baru dibicarakan setelah bencana terjadi.
Kesadaran tersebut perlu dibangun bersama, mulai dari pemerintah, komunitas hingga masyarakat.
Bantuan Berbasis Data Lapangan
Untuk donasi yang terkumpul, Waingapu Collective tidak ingin terburu-buru menentukan lokasi penyaluran.
Jaringan komunitas telah membentuk tim yang melakukan pendataan langsung di wilayah terdampak. Data dari lapangan akan menjadi dasar untuk menentukan daerah yang paling membutuhkan bantuan.
Baca Juga : BMKG Ingatkan Potensi Banjir Rob di NTT, Pesisir Sumba Berpotensi Terdampak 26 – 30 Agustus 2026
“Jadi tim yang di lapangan atau di lokasi bencana fokus mendata daerah yang belum tersentuh ataupun yang sudah tersentuh tapi mungkin masih terbatas. Kita fokuskan ke sana,” kata Antonia.
Penyaluran bantuan nantinya tidak hanya dalam bentuk uang. Jika kondisi di lapangan membutuhkan, bantuan juga dapat diberikan dalam bentuk barang.
Dengan cara itu, donasi yang terkumpul diharapkan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat terdampak, terutama mereka yang belum mendapatkan bantuan secara memadai.
Gerakan Waingapu Collective akhirnya membawa dua pesan sekaligus.
Baca Juga : Menulis Cinta dan Pengabdian Polisi di Pelosok Sumba NTT, Oris Goti Raih Juara II Nasional Kreasi Polri 2026
Ada solidaritas untuk masyarakat Flores yang sedang menghadapi dampak bencana, tetapi juga ada ajakan untuk melihat kembali kesiapan Sumba menghadapi bencana.
Sebab, bagi mereka, kepedulian terhadap korban bencana tidak berhenti pada bantuan. Dari sebuah bencana, masyarakat juga perlu belajar untuk menjadi lebih siap menghadapi bencana berikutnya.*