SUMBATERKINI.COM, Waingapu – Diskusi dan bedah buku Reset Indonesia bersama jurnalis sekaligus salah satu penulis buku, Benaya Harobu, meninggalkan kesan mendalam bagi para pelajar di SMA Negeri 1 Waingapu, Kabupaten Sumba Timur.
Kegiatan yang berlangsung pada 14 Agustus 2026 itu tidak hanya memperkenalkan isi buku, tetapi juga mengajak siswa melihat berbagai persoalan di Indonesia dari sudut pandang yang lebih luas.
Benaya Harobu, yang merupakan putra asli Sumba Timur, selama ini dikenal sebagai jurnalis, penulis, dan filmmaker dokumenter. Dalam diskusi tersebut, ia berbagi pengalaman riset serta pandangannya mengenai berbagai isu di Indonesia.
Salah satu moderator kegiatan, Hillary Maujawa, mengaku kesempatan berdiskusi langsung dengan Benaya menjadi pengalaman yang tidak akan dilupakannya. Selama ini ia mengenal sosok Benaya melalui media sosial, tulisan, riset, dan film dokumenter yang dibuatnya.

Baca Juga : Upacara HUT Ke-81 RI di Kawasan PSN Tambak Udang Sumba Timur Hadirkan Nuansa Budaya dan Pasar Murah
“Saya bukan hanya memandu sebuah acara, tetapi berdiskusi dengan seseorang yang selama ini saya kenal dari karya dan gagasannya. Bagi saya, ini adalah sebuah kehormatan yang tidak akan mudah saya lupakan,” ujarnya.
Menurut Hillary, diskusi tersebut membuat dirinya merasa menjadi seorang pembelajar. Ia mengaku memperoleh cara pandang baru dalam melihat berbagai persoalan di Indonesia.
“Kemiskinan, ketimpangan, kerusakan lingkungan, pendidikan, hingga kebijakan, semuanya adalah bagian dari Indonesia yang perlu dipahami. Karena mencintai Indonesia bukan berarti selalu mengatakan semuanya baik-baik saja, tetapi juga berani mengakui ada yang perlu diperbaiki,” katanya.
Ia menambahkan, pengalaman menjadi moderator mengajarkannya bahwa tugas tersebut bukan sekadar menjaga jalannya acara, tetapi juga menjadi penghubung antara narasumber dan peserta.
Baca Juga : Menulis Cinta dan Pengabdian Polisi di Pelosok Sumba NTT, Oris Goti Raih Juara II Nasional Kreasi Polri 2026
“Saya merasa mendapatkan lebih dari sekadar pengalaman pertama, saya mendapatkan cara baru untuk melihat Indonesia dengan lebih dekat dan lebih luas,” tuturnya.
Kesan serupa disampaikan peserta diskusi, Kenzie J. Lomi. Ia mengaku bersyukur dapat bertemu langsung dengan Benaya setelah sebelumnya hanya mengenal karya-karyanya melalui media sosial.
Menurut Kenzie, diskusi yang berawal dari kegiatan nonton bareng film dokumenter itu membuka ruang bagi para pelajar untuk memahami berbagai persoalan yang dihadapi Indonesia saat ini, mulai dari lingkungan, ekonomi, pendidikan, hingga tata kelola pemerintahan.
“Saya merasa setelah mengikuti diskusi ini, cara saya melihat Indonesia menjadi berbeda. Saya semakin memahami bahwa mencintai Indonesia bukan hanya dengan merasa bangga terhadap negara kita, tetapi juga dengan berani melihat persoalan yang ada dan ikut memikirkan bagaimana persoalan tersebut dapat diperbaiki,” katanya.

Ia menilai kegiatan seperti bedah buku dan diskusi penting terus dilakukan agar semakin banyak generasi muda memiliki kesempatan membaca, berdiskusi, dan memahami persoalan bangsa.
“Perubahan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Bisa saja dimulai dari sebuah buku, sebuah film, sebuah diskusi, lalu dari sana lahir kesadaran untuk melakukan sesuatu bagi Indonesia,” ujar Kenzie.
Melalui kegiatan tersebut, para pelajar tidak hanya mengenal isi buku Riset Indonesia, tetapi juga diajak membangun kepedulian terhadap berbagai persoalan di sekitar mereka.
Diskusi itu menjadi ruang belajar yang mendorong generasi muda untuk lebih kritis, terbuka terhadap berbagai perspektif, dan berani terlibat dalam upaya membangun Indonesia.*