Lompat ke konten utama

Sumba Terkini

Berita Terkini

Bekas Tebangan dan Sampah di Pesisir Waingapu Jadi Warning bagi Kaum Muda di Hari Keadilan Ekologis

PUNGUT SAMPAH - Jesika dan dua rekannya memungut sampah di pesisir Pamalala, Kelurahan Kamalaputi, Kota Waingapu, Sumba Timur, Sabtu (19/9/2026).

SUMBATERKINI.COM, Waingapu – Jesinda Lobo, pelajar SMA Negeri 1 Waingapu, awalnya datang ke pesisir Pamalala, Kelurahan Kamalaputi, Kota Waingapu, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), untuk mengikuti kegiatan penanaman mangrove, Sabtu (19/9/2026).

Namun, sebelum menanam anakan bakau, matanya lebih dulu tertuju pada sampah yang berserakan di kawasan pesisir. Sampah plastik terlihat bergelantungan di akar bakau, tersangkut di dahan dan sebagian terbenam di lumpur.

Di antara barisan mangrove, Jesinda juga melihat beberapa pohon yang mulai layu dan mengering. Pada beberapa pangkal pohon bahkan tampak bekas tebangan. Pemandangan itu membuatnya prihatin.

Bersama peserta lainnya, Jesinda kemudian ikut membersihkan sampah sebelum menanam mangrove. “Saya senang kak, bisa ikut ini kegiatan. Tadi kami datang lihat ini sampah banyak, kami kasi bersih,” kata Jesika.

Menurut Jesinda, orang selama ini cenderung datang untuk menikmati alam, tetapi lupa bahwa alam juga perlu dirawat.

Baca Juga : Dari Tapak Sumba, Menanam Mangrove untuk Keadilan Ekologis Antargenerasi

“Setelah saya lihat banyak sampah di sini yah saya berharap warga sekitar atau siapapun tidak boleh buang sampah sembarangan,” ujarnya.

Sampah plastik menjadi jenis sampah yang paling banyak ditemukan Jesinda di kawasan tersebut. “Sampah-sampah yang paling banyak saya temukan di sini adalah sampah-sampah plastik,” katanya.

Bagi Jesinda, pengalaman tersebut membuat kegiatan di luar kelas memiliki makna berbeda. Ia menjadi lebih peka melihat kondisi lingkungan di sekitarnya.

Pagi itu, air laut mulai surut di pesisir Pamalala. Di batas air yang perlahan menjauh dari daratan, sejumlah nelayan tradisional masih sibuk dengan aktivitasnya.

Ada yang membersihkan perahu dari tiram yang menempel. Kaum ibu mencari kepiting dan ikan-ikan kecil di antara bebatuan serta rerumputan laut.

Baca Juga : Kemana Limbah Tambak Udang di Sumba Timur Akan Dibuang?

Beberapa nelayan lainnya memilih menebar jala. Mereka memanfaatkan waktu ketika air laut surut untuk mencari hasil laut. Di tengah aktivitas itu, ratusan peserta mulai bergerak membersihkan kawasan pesisir sebelum melakukan penanaman.

Pelajar, mahasiswa, komunitas, pemerhati lingkungan dan perwakilan lintas instansi bersama-sama menanam lebih dari 500 anakan mangrove di pesisir Pamalala.

Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 07.00 Wita itu menjadi bagian dari peringatan pertama Hari Keadilan Ekologis Nasional.

Hari Keadilan Ekologis dicetuskan di Kota Waingapu, Sumba Timur, bertepatan dengan Pertemuan Nasional Lingkungan Hidup (PNLH) Walhi pada 20 September 2025.

Ketua panitia kegiatan, Erwin Umbu Hamandika, mengatakan penanaman mangrove kali ini bukan sekadar kegiatan seremonial. “Anakan mangrove yang kami tanam ini diambil dari kelompok mangrove yang ada di Padadita,” ujar Erwin.

Baca Juga : Satu Orang Tewas dalam Kericuhan di Polres Sumba Barat, Keluarga Tempuh Jalur Hukum

Menurut dia, kegiatan tersebut merupakan bagian dari gerakan yang akan terus berlanjut. Peringatan perdana Hari Keadilan Ekologis mengangkat tema ‘Dari Tapak untuk Keadilan Antargenerasi’.

Erwin mengatakan pemilihan kata ‘tapak’ berkaitan dengan kehidupan masyarakat yang setiap hari berhadapan langsung dengan alam, terutama petani dan nelayan.

“Kenapa tapak dipilih sebagai tema, karena tapak itu adalah tentang rekam jejak para petani, nelayan dan saudara-saudari kita yang menjaga keberlanjutan alam,” ujarnya.

Dari tapak itulah, kata Erwin, suara masyarakat perlu menjadi bagian dalam menentukan bagaimana sumber daya alam dikelola.

Sebab, bagi masyarakat Sumba, alam bukan sekadar ruang hidup. Alam juga menjadi tempat menggantungkan penghidupan.

Baca Juga : BREAKING NEWS: Heboh! Video Siaran Langsung Warga Tangkap Pencuri Sapi di Sumba Timur, Pelaku Diduga Polisi

Perubahan iklim, menurut Erwin, kini semakin nyata dirasakan masyarakat, termasuk melalui perubahan dinamika musim.

Pada saat yang sama, sebagian besar masyarakat masih menggantungkan kehidupan pada sektor pertanian dan perikanan.

Karena itu, menjaga lingkungan juga berkaitan dengan kehidupan ekonomi masyarakat sekaligus upaya mengurangi risiko abrasi dan bencana hidrometeorologi lainnya.

Persoalan lingkungan di pesisir juga tidak berhenti pada perubahan iklim. Sampah yang dibuang sembarangan dapat berakhir di pesisir dan mengganggu ekosistem mangrove.

Padahal, kawasan mangrove menjadi tempat hidup berbagai biota laut yang selama ini turut menopang kehidupan masyarakat pesisir.

Baca Juga : Humba Cup IV Berakhir, Antusiasme Penonton dan UMKM Tinggi, Donasi Korban Gempa Flores Puluhan Juta Rupiah

Biota laut tersebut tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga menjadi salah satu sumber protein yang dapat diperoleh masyarakat.

Di tengah meningkatnya harga berbagai kebutuhan pokok, keberadaan sumber pangan dari laut menjadi bagian penting bagi masyarakat yang tinggal di sekitar pesisir. Bagi Erwin, persoalan tersebut menjadi salah satu alasan mengapa Hari Keadilan Ekologis lahir dari Sumba.

Menurutnya, ada kesadaran kritis bahwa pembangunan yang hanya melihat alam sebagai komoditas pada akhirnya dapat merugikan masyarakat sendiri.

Paradigma pembangunan yang hanya menitikberatkan pada pemenuhan kebutuhan manusia dan pertumbuhan ekonomi, kata dia, dapat mengabaikan keberlanjutan ekologis.

“Cara pandang ini juga kerap mengabaikan hak asasi manusia, terutama marginalisasi, diskriminasi, eksploitasi hingga kriminalisasi terhadap masyarakat adat, petani, nelayan dan kelompok marginal,” ungkapnya.

Baca Juga : Gudang Logistik BPBD NTT Kosong Saat Gempa Flores, Kepala BNPB Minta Presiden Perkuat Stok Daerah

Menjelang akhir kegiatan, sebuah spanduk sepanjang lebih dari 50 meter dibentangkan di kawasan pesisir. Tulisan ‘World Ecological Day, Sumba Island Indonesia’ terbentang di antara para peserta.

Rangkaian peringatan Hari Keadilan Ekologis akan dilanjutkan Minggu (20/9/2026), tepat pada hari yang ditetapkan tersebut, melalui nonton bareng film Benteng Hijau Watumbaka, diskusi dan deklarasi.

ARTIKEL TERKAIT

REKOMENDASI UNTUKMU

ARTIKEL LAINNYA