SUMBATERKINI.COM, Waingapu – Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Sumba Timur terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Namun, peningkatan kualitas pembangunan manusia tersebut belum sepenuhnya berbanding lurus dengan kemampuan ekonomi masyarakat.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat IPM Sumba Timur mencapai 70,99 pada 2025, sementara tingkat kemiskinan masih berada pada angka 25,64 persen atau sekitar 70,35 ribu penduduk.
IPM Sumba Timur tercatat 68,20 pada 2020, kemudian meningkat menjadi 68,42 pada 2021, 68,82 pada 2022, 69,63 pada 2023, 70,28 pada 2024, dan mencapai 70,99 pada 2025.
Baca Juga : Angka Kemiskinan Sumba Timur 25,64 Persen, Setara 70,35 Ribu Penduduk
Pada periode yang sama, tingkat kemiskinan tercatat 29,65 persen pada 2020, 29,68 persen pada 2021, 28,22 persen pada 2022, 28,08 persen pada 2023, 27,04 persen pada 2024, dan 25,64 persen pada 2025.
Data tersebut menunjukkan dua indikator bergerak dengan arah positif. IPM meningkat secara konsisten, sementara tingkat kemiskinan berada dalam tren menurun.
Namun, peningkatan IPM belum sepenuhnya terkonversi menjadi peningkatan produktivitas dan pendapatan masyarakat, khususnya masyarakat miskin dan rentan miskin.
Kemiskinan Ekstrem
Selain kemiskinan secara umum, BPS juga mencatat perkembangan kemiskinan ekstrem di Sumba Timur. Pada 2024, kemiskinan ekstrem tercatat sebesar 8,39 persen. Angka tersebut menjadi 6,43 persen pada 2025.
Baca Juga : Pemkab Sumba Tengah Dorong Proses Hukum Indikasi Pencurian 104 Kuda di Mamboro
Kepala BPS Sumba Timur, Imelda Sandrawati Ambot, S. Si, kepada SumbaTerkini.com, Kamis (3/9/2026), mengatakan terdapat tren penurunan kemiskinan ekstrem yang menurutnya menunjukkan adanya intervensi pemerintah pada sejumlah sektor.
“Ada trend penurunan kemiskinan ekstrem, menunjukan adanya intervensi pemerintah dalam mendukung sektor penting seperti pendidikan, kesehatan, pertanian (tahun 2025, produktivitas gabah/padi meningkat) dan support terhadap UMKM,” ujarnya.
Meski demikian, persoalan kemiskinan tidak cukup dilihat hanya dari peningkatan indikator pembangunan manusia.
Struktur pekerjaan masyarakat menjadi salah satu tantangan. Sebagian besar masyarakat Sumba Timur masih bekerja pada sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang menyerap sekitar 50 persen tenaga kerja.
Baca Juga : Rute Bali – Waingapu Dibuka, MYZE Hotel Siap Promo dan Antar Jemput Gratis Penumpang TransNusa
Di sisi lain, produktivitas dan pendapatan pada sektor tersebut relatif rendah.
Kondisi tersebut menjadi tantangan ketika pertumbuhan ekonomi dan IPM meningkat, tetapi sebagian besar masyarakat masih menggantungkan pendapatan pada pekerjaan dengan produktivitas yang rendah.
“Hal ini menunjukkan bahwa selain menciptakan lapangan kerja yang berproduktivitas tinggi, perlu menjadi prioritas untuk meningkatkan produktivitas dan pendapatan dari pekerjaan yang sudah ada,” ujar Imelda.
Karena itu, peningkatan kualitas manusia perlu berjalan bersama dengan peningkatan produktivitas pekerjaan.
Baca Juga : Pulau Sumba Jadi Pilot Project Nasional Pencegahan TPPO dan TPKS Anak
Pendidikan dan kesehatan yang semakin baik perlu diikuti dengan kesempatan kerja, produktivitas, serta pendapatan yang lebih baik agar manfaat pembangunan dapat dirasakan secara lebih luas.
Dengan demikian, tantangan Sumba Timur bukan hanya meningkatkan IPM, tetapi memastikan peningkatan tersebut memiliki dampak ekonomi langsung terhadap masyarakat.
Angka IPM yang telah mencapai 70,99 pada 2025 menunjukkan kualitas pembangunan manusia terus bergerak maju.
Sementara angka kemiskinan 25,64 persen menunjukkan masih terdapat pekerjaan besar untuk memastikan peningkatan tersebut benar-benar meningkatkan kesejahteraan masyarakat.*