SUMBATERKNI.COM, WAINGAPU – Beberapa hari terakhir, masyarakat di Pulau Sumba, khususnya Kabupaten Sumba Timur, mulai merasakan perubahan cuaca yang cukup mencolok.
Meski siang hari masih didominasi panas terik khas Sumba, udara menjelang malam hingga dini hari terasa lebih dingin dibanding biasanya.
Di sejumlah wilayah Sumba Timur, suhu udara malam hingga pagi hari berada pada kisaran 20 hingga 23 derajat Celsius.
Baca Juga : Viral di Media Sosial, Muara Watumbaka di Sumba Timur Pikat Wisatawan Lokal
Bagi sebagian masyarakat yang terbiasa dengan suhu hangat sepanjang tahun, kondisi tersebut sudah cukup membuat udara terasa dingin, terutama saat berada di luar rumah pada malam hari.
Angin yang berembus pada malam hari turut memperkuat sensasi dingin. Tidak sedikit warga yang mulai mengenakan jaket atau pakaian hangat ketika beraktivitas di luar rumah maupun saat berkendara pada malam hingga dini hari.
Forecaster on Duty Stasiun Meteorologi El Tari Kupang, Hede Jacobeth Mangngi Uly, menjelaskan kondisi tersebut merupakan fenomena meteorologis yang normal terjadi saat musim kemarau di Nusa Tenggara Timur.
Baca Juga : Warga Kiritana Sumba Timur Bergantung pada Satu Perahu
“Udara dingin yang dirasakan masyarakat saat ini bukan disebabkan oleh fenomena Aphelion, melainkan merupakan kondisi yang umum terjadi pada musim kemarau,” ujarnya lewat keterangan tertulis kepada SumbaTerkini.com, Selasa (16/6/2026).
Menurut Hede, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan suhu udara di wilayah NTT, termasuk Pulau Sumba, menjadi lebih rendah pada malam hingga pagi hari.
Faktor pertama adalah pengaruh Monsun Australia atau monsun timuran yang membawa massa udara dingin dan kering dari Benua Australia menuju wilayah Indonesia bagian selatan.
Baca Juga : BMKG : Cuaca Sumba Masih Berpotensi Hujan Hingga 22 Juni, Waspadai Angin Kencang
Selain itu, posisi semu matahari saat ini berada di Belahan Bumi Utara sehingga wilayah Indonesia bagian selatan menerima radiasi matahari yang lebih sedikit dibandingkan periode lainnya.
“Kondisi langit yang cerah dan minim awan pada musim kemarau juga menyebabkan panas yang tersimpan di permukaan bumi lebih cepat dilepaskan ke atmosfer pada malam hari. Akibatnya suhu udara menjadi lebih rendah menjelang pagi,” jelasnya.
Ia menambahkan, faktor ketinggian wilayah juga turut memengaruhi suhu udara. Semakin tinggi suatu daerah, suhu udaranya cenderung lebih rendah dibanding wilayah dataran rendah.
Baca Juga : Unkriswina Cup XIII 2026, Unkriswina Ukir Kemenangan Tipis di Laga Pembuka
Meski demikian, BMKG memastikan kondisi udara dingin yang kini dirasakan masyarakat Pulau Sumba masih berada dalam kategori normal dan merupakan bagian dari karakteristik musim kemarau di NTT.
Masyarakat diimbau tetap menjaga kesehatan dengan menggunakan pakaian hangat saat malam hari, memenuhi kebutuhan cairan tubuh, serta memberikan perhatian lebih kepada anak-anak dan lanjut usia yang lebih rentan terhadap perubahan suhu.
Dengan masih berlangsungnya musim kemarau, udara dingin pada malam hingga pagi hari diperkirakan masih akan terus dirasakan masyarakat Sumba dalam beberapa waktu ke depan, terutama saat kondisi langit cerah dan angin timuran bertiup lebih dominan.*