SUMBATERKINI.COM, Flores NTT – Jumlah korban meninggal dunia akibat gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), terus bertambah.
Hingga Sabtu (15/8/2026) siang, sedikitnya 33 orang dilaporkan meninggal dunia.
Gubernur NTT Melkiades Laka Lena mengatakan data tersebut masih bersifat sementara dan kemungkinan akan terus berubah seiring proses pendataan di lapangan.
“Data sementara ada 33 orang meninggal dunia,” kata Melkiades saat memantau warga terdampak di Kabupaten Sikka, Sabtu siang.
Baca Juga : Gempa Flores Terasa hingga Pulau Sumba, Warga Berhamburan dan Bangunan Rusak
Berdasarkan data sementara, korban meninggal tersebar di sejumlah daerah. Kabupaten Manggarai menjadi wilayah dengan jumlah korban terbanyak, yakni 14 orang.
Di Kabupaten Sikka tercatat tiga korban meninggal dunia, Ngada satu orang, dan Manggarai Barat satu orang.
Pemerintah masih menunggu laporan lengkap dari kabupaten lainnya yang juga terdampak gempa.
Selain korban meninggal, sebanyak 23 orang mengalami luka-luka dan saat ini menjalani perawatan di rumah sakit maupun puskesmas.
Baca Juga : Bukan Hanya Bangunan, Gempa Flores NTT Picu Longsor Tebing, Jalan Nasional Tertutup Warga Terjebak
Pemerintah bersama tim gabungan masih melakukan evakuasi serta pendataan terhadap korban dan kerusakan bangunan. Jumlah korban maupun kerugian diperkirakan masih dapat bertambah.
Gempa bumi terjadi pada Sabtu (15/8/2026) pukul 04.58 WIB. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa berkekuatan magnitudo 7,7 dengan pusat gempa berada di laut pada kedalaman 15 kilometer, sekitar 30 kilometer di timur laut Nagekeo, NTT.
Gempa sempat memicu peringatan dini tsunami di sejumlah wilayah NTT, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Sulawesi Selatan. BMKG mengeluarkan peringatan hanya beberapa menit setelah gempa terjadi sebagai langkah antisipasi terhadap potensi gelombang tsunami.
Guncangan dirasakan sangat kuat di berbagai wilayah Pulau Flores. Warga berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri, sementara sejumlah bangunan mengalami kerusakan dengan tingkat yang berbeda-beda.
Baca Juga : Bayi dan Ibu di Flores Meninggal Tertindih Reruntuhan Gempa, Tangan Sang Ibu Tetap Memeluk Bayinya
Namun, setelah melakukan pemantauan terhadap perubahan muka air laut dan perkembangan aktivitas gempa, BMKG akhirnya mencabut peringatan dini tsunami.
Meski demikian, masyarakat tetap diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan gempa susulan, menghindari bangunan yang rusak, serta mengikuti informasi resmi yang disampaikan BMKG dan pemerintah daerah.*