Hari: 16 Juni 2026

  • Kenapa Malam di Sumba Timur Kini Terasa Lebih Dingin? BMKG Ungkap Penyebabnya

    Kenapa Malam di Sumba Timur Kini Terasa Lebih Dingin? BMKG Ungkap Penyebabnya

    SUMBATERKNI.COM, WAINGAPU – Beberapa hari terakhir, masyarakat di Pulau Sumba, khususnya Kabupaten Sumba Timur, mulai merasakan perubahan cuaca yang cukup mencolok.

    Meski siang hari masih didominasi panas terik khas Sumba, udara menjelang malam hingga dini hari terasa lebih dingin dibanding biasanya.

    Di sejumlah wilayah Sumba Timur, suhu udara malam hingga pagi hari berada pada kisaran 20 hingga 23 derajat Celsius.

    Baca Juga : Viral di Media Sosial, Muara Watumbaka di Sumba Timur Pikat Wisatawan Lokal

    Bagi sebagian masyarakat yang terbiasa dengan suhu hangat sepanjang tahun, kondisi tersebut sudah cukup membuat udara terasa dingin, terutama saat berada di luar rumah pada malam hari.

    Angin yang berembus pada malam hari turut memperkuat sensasi dingin. Tidak sedikit warga yang mulai mengenakan jaket atau pakaian hangat ketika beraktivitas di luar rumah maupun saat berkendara pada malam hingga dini hari.

    Forecaster on Duty Stasiun Meteorologi El Tari Kupang, Hede Jacobeth Mangngi Uly, menjelaskan kondisi tersebut merupakan fenomena meteorologis yang normal terjadi saat musim kemarau di Nusa Tenggara Timur.

    Baca Juga : Warga Kiritana Sumba Timur Bergantung pada Satu Perahu

    “Udara dingin yang dirasakan masyarakat saat ini bukan disebabkan oleh fenomena Aphelion, melainkan merupakan kondisi yang umum terjadi pada musim kemarau,” ujarnya lewat keterangan tertulis kepada SumbaTerkini.com, Selasa (16/6/2026).

    Menurut Hede, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan suhu udara di wilayah NTT, termasuk Pulau Sumba, menjadi lebih rendah pada malam hingga pagi hari.

    Faktor pertama adalah pengaruh Monsun Australia atau monsun timuran yang membawa massa udara dingin dan kering dari Benua Australia menuju wilayah Indonesia bagian selatan.

    Baca Juga : BMKG : Cuaca Sumba Masih Berpotensi Hujan Hingga 22 Juni, Waspadai Angin Kencang

    Selain itu, posisi semu matahari saat ini berada di Belahan Bumi Utara sehingga wilayah Indonesia bagian selatan menerima radiasi matahari yang lebih sedikit dibandingkan periode lainnya.

    “Kondisi langit yang cerah dan minim awan pada musim kemarau juga menyebabkan panas yang tersimpan di permukaan bumi lebih cepat dilepaskan ke atmosfer pada malam hari. Akibatnya suhu udara menjadi lebih rendah menjelang pagi,” jelasnya.

    Ia menambahkan, faktor ketinggian wilayah juga turut memengaruhi suhu udara. Semakin tinggi suatu daerah, suhu udaranya cenderung lebih rendah dibanding wilayah dataran rendah.

    Baca Juga : Unkriswina Cup XIII 2026, Unkriswina Ukir Kemenangan Tipis di Laga Pembuka

    Meski demikian, BMKG memastikan kondisi udara dingin yang kini dirasakan masyarakat Pulau Sumba masih berada dalam kategori normal dan merupakan bagian dari karakteristik musim kemarau di NTT.

    Masyarakat diimbau tetap menjaga kesehatan dengan menggunakan pakaian hangat saat malam hari, memenuhi kebutuhan cairan tubuh, serta memberikan perhatian lebih kepada anak-anak dan lanjut usia yang lebih rentan terhadap perubahan suhu.

    Dengan masih berlangsungnya musim kemarau, udara dingin pada malam hingga pagi hari diperkirakan masih akan terus dirasakan masyarakat Sumba dalam beberapa waktu ke depan, terutama saat kondisi langit cerah dan angin timuran bertiup lebih dominan.*

  • Liga 4 Nasional, Persada SBD Tutup Perjalanan dengan Kemenangan atas Persebi Boyolali

    Liga 4 Nasional, Persada SBD Tutup Perjalanan dengan Kemenangan atas Persebi Boyolali

    SUMBATERKINI.COM, TAMBOLAKA – Persada Sumba Barat Daya (SBD) menutup kiprahnya di putaran 32 besar Liga 4 Nasional 2026 dengan kemenangan 2-1 atas Persebi Boyolali di Stadion Kebo Giro, Jawa Tengah, Selasa (16/6/2026).

    Meski telah dipastikan gagal lolos ke babak berikutnya setelah menelan dua kekalahan pada laga sebelumnya, Persada tetap tampil ngotot dan berhasil mengakhiri turnamen dengan hasil positif.

    Persada sempat tertinggal lebih dulu melalui gol Ronan pada menit ke-12. Namun tim asal Nusa Tenggara Timur (NTT) itu mampu bangkit dan menyamakan kedudukan lewat gol Kristoforus pada menit ke-36.

    Baca Juga : Langkah Persada SBD di Liga 4 Nasional Terhenti di Babak 32 Besar

    Gol kemenangan Persada akhirnya lahir pada menit ke-79 melalui Gaudensius, sekaligus memastikan kemenangan perdana mereka di fase 32 besar.

    Sebelum menghadapi Persebi Boyolali, tim asuhan Adnan Mahing kalah 0-1 dari Celebest FC dan kemudian takluk 0-3 dari Wamena United. Hasil tersebut membuat Persada tidak lagi memiliki peluang untuk melaju ke babak 16 besar.

    Meski demikian, penampilan Persada di Liga 4 Nasional patut diapresiasi. Pada putaran 64 besar, mereka tampil cukup meyakinkan di Grup L bersama Harimau Indonesia FC, Persinga Ngawi, dan PS Tunas Muda Bengkulu.

    Baca Juga : BMKG : Cuaca Sumba Masih Berpotensi Hujan Hingga 22 Juni, Waspadai Angin Kencang

    Persada mengawali turnamen dengan kemenangan 3-0 atas Harimau Indonesia FC. Pada laga kedua mereka kalah 0-2 dari Persinga Ngawi, sebelum bangkit dengan kemenangan telak 5-1 atas PS Tunas Muda Bengkulu yang mengantarkan mereka lolos ke putaran 32 besar sebagai runner-up grup.

    Walau langkah mereka terhenti di fase 32 besar, Persada telah mencatatkan sejarah tersendiri bagi sepak bola Sumba Barat Daya. Keikutsertaan mereka di level nasional menjadi suntikan semangat bagi perkembangan sepak bola di daerah tersebut.

    Persada merupakan tim yang mewakili Kabupaten Sumba Barat Daya, daerah yang berdiri pada tahun 2007 setelah dimekarkan dari Kabupaten Sumba Barat.

    Baca Juga : Viral di Media Sosial, Muara Watumbaka di Sumba Timur Pikat Wisatawan Lokal

    Empat tahun setelah kabupaten itu terbentuk, Persada sukses menjuarai El Tari Memorial Cup (ETMC) 2011 saat bertindak sebagai tuan rumah. Namun setelah itu, prestasi mereka cenderung menurun dan jarang bersaing di papan atas turnamen sepak bola terbesar di NTT tersebut.

    Kebangkitan Persada mulai terlihat pada ETMC XXXIII 2025 di Ende. Saat itu mereka berhasil menembus empat besar dan mengakhiri turnamen di peringkat keempat.

    Sebenarnya kuota wakil NTT untuk Liga 4 Nasional diberikan kepada juara, runner-up, dan peringkat ketiga ETMC. Namun Bajak Laut FC yang finis di posisi ketiga belum memenuhi persyaratan administratif sehingga kuota tersebut diberikan kepada Persada Sumba Barat Daya.

    Kesempatan itu berhasil dimanfaatkan dengan baik. Persada tidak hanya mampu lolos ke Liga 4 Nasional, tetapi juga menembus putaran 32 besar sebelum akhirnya mengakhiri perjuangan dengan kemenangan atas Persebi Boyolali.*

  • BMKG : Cuaca Sumba Masih Berpotensi Hujan Hingga 22 Juni, Waspadai Angin Kencang

    BMKG : Cuaca Sumba Masih Berpotensi Hujan Hingga 22 Juni, Waspadai Angin Kencang

    SUMBATERKINI.COM, SUMBA – Meskipun sebagian besar wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) mulai memasuki musim kemarau, Pulau Sumba masih berpotensi mengalami hujan ringan dalam sepekan ke depan.

    Berdasarkan Prospek Cuaca Mingguan yang dikeluarkan Stasiun Meteorologi Kelas II El Tari Kupang untuk periode 16 hingga 22 Juni 2026, kondisi cuaca di Pulau Sumba secara umum diperkirakan cerah berawan hingga berawan dengan peluang terjadinya hujan ringan.

    Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II El Tari Kupang, Sti Nenot’ek  menjelaskan bahwa memasuki musim kemarau, pertumbuhan awan di sebagian besar wilayah NTT mulai berkurang.

    Baca Juga : Berkah dari Dinding Bukit, Air Bersih Masih Jadi Soal Klasik di Sumba

    Namun demikian, kondisi atmosfer masih memungkinkan terjadinya hujan dengan intensitas ringan di beberapa wilayah, termasuk Pulau Sumba

    Pada periode 16 hingga 19 Juni 2026, cuaca di Pulau Sumba diperkirakan didominasi kondisi cerah berawan hingga berawan.

    Kondisi serupa juga diperkirakan masih berlangsung pada periode 20 hingga 22 Juni 2026 dengan potensi hujan ringan.

    Baca Juga : Warga Kiritana Sumba Timur Bergantung pada Satu Perahu

    Selain peluang hujan ringan, BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai peningkatan kecepatan angin yang bersifat kering.

    “Angin kencang tersebut berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, terutama di wilayah yang mulai mengalami musim kemarau,” ujarnya.

    Secara umum, suhu udara di NTT diperkirakan berkisar antara 13 hingga 33 derajat Celsius dengan tingkat kelembapan udara antara 40 hingga 95 persen.

    BMKG mengimbau masyarakat untuk terus memantau informasi cuaca terbaru karena kondisi atmosfer dapat berubah sewaktu-waktu.

    Prospek cuaca mingguan ini menjadi salah satu acuan bagi masyarakat, petani, nelayan, serta pelaku transportasi dalam merencanakan aktivitas selama sepekan ke depan.*

  • Berkah dari Dinding Bukit, Air Bersih Masih Jadi Soal Klasik di Sumba

    Berkah dari Dinding Bukit, Air Bersih Masih Jadi Soal Klasik di Sumba

    SUMBATERKNI.COM, WAINGAPU – Di beberapa wilayah pedalaman Sumba Timur, datangnya musim hujan tidak hanya mengubah warna savana yang semula cokelat menjadi hijau. Bagi sebagian warga, musim ini juga menjadi saat yang paling dinanti untuk mendapatkan air bersih.

    Di Desa Hawurut, Kecamatan Matawai La Pawu, air hujan yang meresap ke dalam perbukitan savana perlahan keluar melalui celah-celah dinding bukit. Tetes demi tetes air itu kemudian ditampung warga dalam kolam-kolam kecil sederhana yang dibuat dari susunan tanah dan batu.

    Pemandangan warga menimba air dari kaki bukit bukanlah hal baru. Aktivitas ini telah berlangsung selama bertahun-tahun dan menjadi bagian dari cara masyarakat setempat memenuhi kebutuhan air sehari-hari ketika sumber air lain sulit dijangkau.

    Baca Juga : Warga Kiritana Sumba Timur Bergantung pada Satu Perahu

    Untuk memudahkan pengambilan air, warga menyusun anak tangga sederhana menuju titik-titik rembesan. Setiap tetesan yang keluar dari dinding bukit dimanfaatkan untuk memasak, mencuci, hingga kebutuhan rumah tangga lainnya.

    “Kalau musim hujan, biasanya kami ambil air di sini,” tutur seorang warga sambil mengisi jeriken dari kolam penampungan kecil di kaki bukit di awal 2026 lalu.

    Namun ketersediaan air tersebut sangat bergantung pada curah hujan. Saat musim kemarau tiba dan rembesan mulai mengering, warga harus mencari sumber air lain yang lokasinya lebih jauh. Tidak jarang mereka harus berjalan menuruni lembah atau menuju aliran sungai untuk memperoleh air bagi kebutuhan sehari-hari.

    Baca Juga : Viral di Media Sosial, Muara Watumbaka di Sumba Timur Pikat Wisatawan Lokal

    Kondisi ini mencerminkan persoalan yang telah lama dihadapi sebagian masyarakat pedalaman Sumba Timur, yakni keterbatasan akses terhadap sumber air bersih yang layak dan berkelanjutan. Di sejumlah wilayah, ketergantungan pada sumber air alami masih menjadi kenyataan yang harus dijalani hingga kini.

    Persoalan tersebut juga dirasakan di kawasan wisata Piarakuku Hills yang berada di wilayah yang sama. Destinasi yang mulai dikenal karena panorama savananya itu masih menghadapi tantangan dalam penyediaan air bersih.

    Pengelola Piarakuku Hills, Jeferson Ama, mengatakan kebutuhan air menjadi persoalan bersama, baik bagi masyarakat maupun pengelola wisata. Menurutnya, ketersediaan air masih sangat dipengaruhi oleh kondisi musim.

    Baca Juga : Langkah Persada SBD di Liga 4 Nasional Terhenti di Babak 32 Besar

    “Air menjadi kebutuhan utama. Masyarakat membutuhkannya setiap hari, dan wisata juga membutuhkan ketersediaan air untuk mendukung pelayanan,” ujarnya.

    Situasi ini menghadirkan ironi tersendiri. Di tengah potensi wisata alam yang terus diperkenalkan kepada publik, kebutuhan dasar masyarakat berupa akses air bersih masih menjadi pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya teratasi.

    Bagi warga Hawurut dan sejumlah wilayah pedalaman lainnya, rembesan air dari dinding bukit masih menjadi berkah yang selalu dinantikan setiap musim hujan.

    Namun di balik tetesan-tetesan yang mengalir itu, tersimpan harapan lama yang belum berubah: hadirnya akses air bersih yang lebih layak, mudah dijangkau, dan tersedia sepanjang tahun.*

  • Warga Kiritana Sumba Timur Bergantung pada Satu Perahu

    Warga Kiritana Sumba Timur Bergantung pada Satu Perahu

    SUMBATERKINI.COM, WAINGAPU – Ketimpangan akses infrastruktur masih dirasakan warga di sejumlah wilayah terpencil di Indonesia Timur.

    Di Desa Kiritana, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, ratusan kepala keluarga hingga kini masih bergantung pada sebuah perahu kecil tradisional untuk menyeberangi Sungai Kambaniru.

    Kondisi tersebut menjadi satu-satunya akses yang menghubungkan warga dengan berbagai layanan dasar, mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga aktivitas ekonomi sehari-hari.

    Tidak adanya jembatan yang dapat digunakan secara permanen membuat warga harus mengandalkan perahu sederhana yang beroperasi tanpa operator tetap dan tanpa jadwal tertentu.

    Baca Juga : Viral di Media Sosial, Muara Watumbaka di Sumba Timur Pikat Wisatawan Lokal

    Kepala Desa Kiritana, Jhonson Dena Tola, mengatakan keterbatasan akses penyeberangan menjadi persoalan yang telah berlangsung selama beberapa tahun terakhir.

    Menurutnya, kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada mobilitas warga, tetapi juga menghambat perkembangan ekonomi desa.

    “Masyarakat di seberang itu sekitar 300an KK. Interaksi masyarakat itu seperti itu sudah. Baik mau ke pasar, posyandu, ke sekolah, itu harus melalui sungai. Mereka semua adalah petani,” ujar kepala desa beberapa waktu lalu.

    Ketergantungan terhadap perahu penyeberangan juga menimbulkan risiko keselamatan, terutama saat debit air Sungai Kambaniru meningkat pada musim hujan.

    Anak-anak sekolah kerap terlambat bahkan tidak dapat berangkat ke sekolah ketika arus sungai sedang deras.

    Baca Juga : Unkriswina Cup XIII 2026, Unkriswina Ukir Kemenangan Tipis di Laga Pembuka

    Situasi menjadi lebih sulit saat terjadi keadaan darurat. Warga terpaksa menggotong orang sakit maupun jenazah melintasi sungai tanpa fasilitas penyeberangan yang memadai. Kondisi ini dinilai sangat berisiko bagi keselamatan masyarakat.

    Di sisi lain, Desa Kiritana memiliki potensi pertanian yang cukup besar. Namun keterbatasan akses transportasi membuat distribusi hasil panen tidak berjalan optimal.

    Warga harus membawa hasil pertanian secara bertahap menggunakan perahu untuk menyeberangi sungai sebelum melanjutkan perjalanan ke pasar atau pusat perdagangan.

    Tidak hanya itu, setelah menyeberang sungai, warga masih harus melewati jalan tanah yang rusak. Kombinasi minimnya akses penyeberangan dan buruknya kondisi jalan semakin memperberat mobilitas masyarakat serta memperlambat pertumbuhan ekonomi desa.

    Baca Juga : Unkriswina Cup XIII, Menjaga Tradisi, Mengasah Generasi Unggul dan Tangguh

    Sebelumnya, pernah membangun jembatan gantung di wilayah tersebut pada tahun 2019. Namun jembatan itu ambruk setelah diterjang dampak badai Seroja pada tahun 2021.

    Sejak saat itu, jembatan belum kembali dibangun sehingga warga kembali mengandalkan perahu sebagai satu-satunya sarana penyeberangan.

    Salah seorang warga, Rince, mengaku masyarakat berharap pemerintah segera membangun kembali jembatan yang layak dan aman.

    Menurutnya, keberadaan jembatan sangat dibutuhkan untuk memperlancar aktivitas warga sekaligus mengurangi risiko kecelakaan saat menyeberangi sungai.

    “Tolong segera perbaiki jembatan atau bangun jembatan untuk anak – anak mau sekolah dan perekonomian masyarakat juga bangkit,” harapnya.

    Hingga kini, perahu kecil itu masih menjadi tumpuan utama warga Desa Kiritana. Di tengah berbagai pembangunan yang terus berlangsung di daerah lain, masyarakat setempat masih menanti hadirnya jembatan yang dapat membuka akses dan memperkecil kesenjangan infrastruktur yang mereka alami selama bertahun-tahun.*

  • Viral di Media Sosial, Muara Watumbaka di Sumba Timur Pikat Wisatawan Lokal

    Viral di Media Sosial, Muara Watumbaka di Sumba Timur Pikat Wisatawan Lokal

    SUMBATERKINI.COM, WAINGAPU – Muara Watumbaka di Kelurahan Watumbaka, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), dalam dua pekan terakhir menjadi salah satu destinasi yang ramai dikunjungi wisatawan lokal.

    Keindahan alam yang ditawarkan kawasan ini menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Hamparan muara yang berpadu dengan pepohonan tropis dan deretan pohon palem menciptakan panorama alami yang memanjakan mata.

    Menjelang sore, pengunjung tidak hanya disuguhi panorama senja yang memikat. Di hamparan rumput di tepi muara, beberapa ekor kuda tampak merumput bebas tanpa tali. Pemandangan yang lazim ditemui di Sumba itu menghadirkan kesan alami dan tenang, seolah melengkapi lukisan senja yang terbentang di Muara Watumbaka.

    Saat matahari mulai terbenam, kawasan ini menjadi lokasi favorit untuk menikmati panorama senja. Cahaya keemasan yang memantul di permukaan air menghadirkan suasana yang tenang dan estetis, sehingga banyak pengunjung memanfaatkannya sebagai tempat berburu foto maupun sekadar bersantai.

    Baca Juga : HUT Paroki ke 75 Paroki Sang Penebus Waingapu

    Muara Watumbaka juga mulai dikenal sebagai lokasi nongkrong yang digemari anak muda dan keluarga. Angin sepoi-sepoi serta suasana alam yang masih asri membuat kawasan ini menjadi pilihan untuk menghabiskan waktu pada sore hingga menjelang malam.

    Sebelumnya, potongan video yang diunggah melalui akun Instagram resmi SumbaTerkini.com menarik perhatian warganet. Video tersebut menampilkan keindahan Muara Watumbaka dan mendapat respons positif dari masyarakat. Sejak itu, jumlah pengunjung yang datang ke lokasi ini terlihat meningkat.

    Meski belum dikelola secara resmi sebagai destinasi wisata, Muara Watumbaka dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan. Selain memiliki panorama alam yang menarik, lokasinya juga mudah dijangkau, hanya sekitar 20 menit perjalanan dari pusat Kota Waingapu.

    Namun demikian, kelestarian kawasan ini perlu menjadi perhatian bersama. Pengunjung diharapkan turut menjaga kebersihan lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan agar keindahan Muara Watumbaka tetap terjaga dan dapat dinikmati oleh generasi mendatang.*