SUMBATERKINI.COM, Tambolaka – Sebanyak 443 gempa susulan tercatat terjadi di Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, setelah gempa utama magnitudo 5,9 mengguncang wilayah tersebut pada Minggu (4/10/2026).
Gempa susulan masih terjadi hingga Selasa (6/10/2026). Salah satunya gempa magnitudo 4,6 yang terjadi pada pukul 05.38 Wita.
Kondisi tersebut membuat sejumlah sekolah terdampak memindahkan kegiatan belajar mengajar (KBM) ke luar ruang kelas.
Di SD Negeri Moro Mandoyo, Kecamatan Kodi Utara, para siswa mengikuti pembelajaran di halaman sekolah. Keputusan tersebut diambil setelah pihak sekolah melihat adanya keretakan pada sejumlah bagian bangunan sekolah.
Baca Juga : Warga Terdampak Gempa di Sumba Barat Daya Tidur di Luar Rumah, Belum Tersentuh Bantuan Darurat
Sehari setelah gempa utama, kegiatan belajar mengajar sempat dilakukan di dalam kelas. Namun, pada Selasa (6/10/2026), pihak sekolah kembali memindahkan siswa ke luar ruangan karena khawatir terhadap kondisi bangunan dan masih terjadinya gempa susulan.
Kepala SD Negeri Muramanruyo, Fransiskus Xaverius Reni Kalli, mengatakan pihak sekolah khawatir setelah melihat kondisi tembok bangunan yang mulai mengalami keretakan.
“Kami melakukan kegiatan KBM di luar kelas karena tembok gedung ruangan kelas di masing-masing kelas sudah mulai retak-retak dan tadi ketika kami masuk di kantor merasa bunyi di dalam tembok. Itu kami merasa takut makanya kami mengadakan kegiatan KBM di luar kelas,” ujarnya.
Meski belajar di luar kelas, para guru tetap mendampingi siswa. Proses pembelajaran juga diselingi dengan cerita dan permainan agar siswa tetap dapat mengikuti kegiatan belajar di tengah situasi pascagempa.
Baca Juga : Gempa Magnitudo 6,1 Guncang Sumba Barat Daya, Tidak Berpotensi Tsunami
Kondisi serupa terlihat di SD Islam Pero, Desa Pero Konda, Kecamatan Kodi Bangedo, serta sejumlah sekolah lainnya. Kegiatan belajar mengajar dilakukan di luar ruangan karena kondisi bangunan yang terdampak gempa dan masih terjadinya gempa susulan.
Bupati Minta Sekolah Rusak Tidak Digunakan
Bupati Sumba Barat Daya, Ratu Ngadu Bonu Wula, meminta sekolah yang mengalami kerusakan tidak digunakan untuk kegiatan belajar mengajar.
Menurutnya, proses pembelajaran harus dipindahkan ke ruangan lain untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya gempa susulan.
“Terkait dengan sekolah-sekolah yang mengalami kerusakan, kami sudah memerintahkan agar tidak dilaksanakan proses KBM, dipindahkan ke ruangan lain,” katanya.
Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya juga terus memantau kondisi sejumlah fasilitas umum yang terdampak gempa, termasuk rumah sakit, puskesmas, dan rumah ibadah.
Baca Juga : Sekolah Perdamaian GAMKI di Sumba Soroti Ekologi, Hak Masyarakat Adat Hingga Perlindungan Anak
Berdasarkan data sementara Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya, sebanyak 107 bangunan terdampak gempa.
Sebanyak 91 bangunan di antaranya merupakan rumah warga, terdiri dari satu rumah rusak berat, 12 rusak sedang, dan 78 rusak ringan.
Sementara itu, fasilitas umum yang terdampak berjumlah 16 bangunan. Rinciannya satu bangunan rusak sedang dan 15 bangunan rusak ringan.
Fasilitas umum yang terdampak antara lain sekolah, fasilitas kesehatan, dan rumah ibadah.
Dengan masih terjadinya gempa susulan, pemerintah daerah meminta fasilitas yang mengalami kerusakan tidak digunakan sampai kondisi bangunan dipastikan aman.*