Lompat ke konten utama

Sumba Terkini

Sumba Barat Daya

Warga Terdampak Gempa di Sumba Barat Daya Tidur di Luar Rumah, Belum Tersentuh Bantuan Darurat

GEMPA - Sejumlah warga terdampak gempa bumi di Desa Pero Konda dan Desa Lete Loko, Kecamatan Kodi Bangedo, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, masih bertahan di luar rumah pada Minggu (4/10/2026) malam. (Foto : Sumba Terkini).

SUMBATERKINI.COM, Tambolaka – Sejumlah warga terdampak gempa bumi di Desa Pero Konda dan Desa Lete Loko, Kecamatan Kodi Bangedo, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, masih bertahan di luar rumah pada Minggu (4/10/2026) malam.

Mereka memilih tidur di luar rumah karena bangunan tempat tinggal mengalami kerusakan dan dikhawatirkan tidak lagi aman untuk ditempati.

Sebagian warga yang rumahnya tidak mengalami kerusakan sebelumnya sempat masuk dan beristirahat di dalam rumah. Namun, mereka kembali keluar setelah gempa susulan mengguncang wilayah tersebut sekitar pukul 23.00 WITA.

Berdasarkan catatan BMKG, gempa susulan itu berkekuatan magnitudo 4,8 dan menjadi gempa susulan terbesar setelah gempa utama. Gempa tersebut merupakan gempa susulan ke-293.

Guncangan susulan membuat kekhawatiran warga semakin meningkat, khususnya mereka yang rumahnya mengalami retakan maupun kerusakan.

Baca Juga : Gempa Magnitudo 6,1 Guncang Sumba Barat Daya, Tidak Berpotensi Tsunami

Di Desa Pero Konda, seorang ibu bersama bayinya bahkan memilih tetap berada di luar rumah tanpa tenda darurat karena masih takut untuk kembali masuk ke dalam rumah.

Situasi serupa dialami Siprianus Ate, warga Desa Lete Loko. Saat gempa utama terjadi pada Minggu pagi, ia berupaya menyelamatkan kedua anaknya dari dalam rumah.

Namun, ketika berusaha keluar, Siprianus justru tertimpa reruntuhan bangunan hingga mengalami luka pada tangan dan kedua kakinya.

“Ketika saya melangkah keluar dari pintu, saya terkena reruntuhan batu yang jatuh dari, dari rumah, sehingga saya berusaha menyelamatkan anak saya yang kecil, sehingga saya yang tertimpa batu yang menyebabkan tangan saya luka dan kaki kiri saya kaki kanan saya mengalami luka semua.”

Menurut Siprianus, kondisi rumah warga yang mengalami kerusakan membuat sebagian masyarakat belum berani kembali beraktivitas di dalam rumah.

Baca Juga : Basarnas Evakuasi Balita Korban Gempa Manggarai Timur Pakai Helikopter ke Labuan Bajo

“Untuk itu, kami hanya bisa tinggal di luar rumah dan ada beberapa warga masyarakat yang memang betul-betul membutuhkan tenda darurat karena keadaan rumah yang sama sekali tidak bisa lagi untuk didiami.”

Ia juga mengatakan hingga Minggu malam belum ada tim yang datang ke desanya untuk melakukan pendataan maupun pemeriksaan kesehatan terhadap warga terdampak.

“Sampai saat ini, khususnya di desa kami belum ada tim dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana yang datang untuk melakukan pendataan maupun tim medis yang turun untuk melakukan pemeriksaan terhadap korban, korban gempa yang terjadi tadi pagi.”

Warga berharap pemerintah segera memberikan bantuan dasar, terutama bagi mereka yang masih harus bertahan di luar rumah.

“Kami sangat mengharapkan dari pemerintah untuk segera memberikan bantuan berupa tenda, obat-obatan maupun sembako. Karena keadaan kami saat ini sudah sangat memprihatinkan.”

Baca Juga : MYZE Hotel Waingapu Hadirkan Octobest Deal, Diskon Menginap hingga 25 Persen

Sementara itu, hingga Minggu malam, bantuan darurat berupa tenda maupun obat-obatan belum disalurkan secara khusus kepada warga terdampak di lokasi tersebut.

Data sementara BPBD Sumba Barat Daya hingga pukul 23.00 WITA mencatat sebanyak 91 rumah warga dan 16 fasilitas umum terdampak gempa.

Kerusakan bangunan rumah warga berada dalam kategori ringan, sedang hingga berat. Satu rumah dilaporkan rata dengan tanah dan masuk dalam kategori rusak berat.

Kepala Pelaksana BPBD Sumba Barat Daya Stefanus Malo mengatakan penyaluran bantuan darurat dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi di lapangan serta ketersediaan logistik yang dimiliki.

“Distribusi emergency itu kita menyesuaikan dengan keadaan lapangan ditambah dengan stok kami yang terbatas,” ujarnya.

Baca Juga : Dari Tapak Sumba, Menanam Mangrove untuk Keadilan Ekologis Antargenerasi

Untuk kebutuhan pangan, BPBD menyebut kondisi tersebut belum menjadi kebutuhan paling mendesak karena masyarakat masih dapat memenuhi kebutuhan masing-masing.

“Jadi khusus logistik ini pangan itu, itu belum terlalu berpengaruh karena masyarakat sendiri masih bisa,” kata dia.

BPBD juga menyatakan belum melakukan distribusi khusus berupa tenda darurat dan obat-obatan karena hasil pemantauan sementara belum menunjukkan kebutuhan yang signifikan.

Di tengah proses penanganan, pendataan kerusakan bangunan dan kebutuhan warga masih dilakukan. Proses tersebut melibatkan pemerintah desa, kecamatan dan BPBD bersama TNI, Polri serta sejumlah pihak terkait.

Dari 16 fasilitas umum yang terdampak, bangunan yang mengalami dampak meliputi sekolah, gereja dan sarana kesehatan.

Untuk korban luka, BPBD Sumba Barat Daya sementara mencatat satu warga mengalami luka dan telah mendapat perawatan rawat jalan di Puskesmas Bondo Kodi. “Yang terluka itu baru satu, sudah rawat jalan juga tadi Puskesmas Bondo Kodi,” ujarnya.

Baca Juga : Dari Tapak Sumba, Menanam Mangrove untuk Keadilan Ekologis Antargenerasi

Kondisi warga yang mengalami luka tersebut masih dipantau oleh tim dari kecamatan dan desa.

BPBD Sumba Barat Daya masih menunggu pembaruan hasil pendataan dari lapangan untuk memastikan tingkat kerusakan bangunan sekaligus memetakan kebutuhan warga terdampak gempa.*

ARTIKEL TERKAIT

REKOMENDASI UNTUKMU

ARTIKEL LAINNYA

No Content Available